Pelajar Brutal, Ada Apa Dengan Dunia Pendidikan Kita?

0
261
Sejumlah pelajar SMA/SMK diamankan di Polres Klaten, Jawa Tengah, Selasa (2/5). Polres Klaten mengamankan seratusan pelajar SMA/SMK yang melakukan konvoi kelulusan dan membuat kerusuhan di ruang publik sehingga menyebabkan empat warga luka berat dan ringan akibat sabetan gir dan lemparan batu serta tempat warnet dan bengkel rusak. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/ama/17.

Nusantara.news, Yogyakarta –Tanpa alasan yang jelas, segerombolan pelajar bersepeda motor sekitar 50-an orang menyerang belasan pelajar lainnya dengan senjata tajam di trotoar seberang SMAN 1 Klaten, Jl. Merbabu, Klaten, Jawa Tengah, pada Selasa (2/5) lalu.

Mengutip kesaksian seorang guru SMAN 1 Klaten Aris Sutaka, para penyerang yang sebagian besar berseragam sekolah yang dicoret-coret datang dari arah barat. Seseorang diantara mereka turun dari sepeda motor sambil menyeretkan sebilah pedang ke aspal.

“Orang itu mengenakan celana pendek hitam dan tidak memakai baju seragam. Sepertinya bukan pelajar,” terang Aris Sutaka saat ditemui wartawan di kantornya, Rabu (3/5) kemarin.

Tiba-tiba lelaki bercelana pendek itu menebaskan parangnya ke belasan pelajar yang kesemuanya anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) SMAN 1 Klaten. Punggung Chandra, satu diantara sebelas anggota Paskibraka terkena sabetan parang. Melihat temannya kena bacok, puluhan pelajar lainnya kalang kabut. Ada yang mencoba menyelamatkan Chandra dan ada pula yang berlari menyelamatkan diri.

Setelah itu, peserta konvoi lainnya melibatkan diri menyerang pelajar SMAN 1 dengan berbagai jenis senjata, antara lain gir sepeda motor yang diikat tali dan helm. Akibatnya beberapa pelajar SMAN 1 terluka. “Syaiful terkena sabetan gir di kepala, tepatnya di atas telinga. Sedangkan Kevin dihantam pakai helm. Dia juga kehilangan ponsel,” tutur Aris.

Sedangkan Naufal yang berusaha menyelamatkan diri dari serangan mendadak itu kehilangan tas yang berisi dompet. Aris menduga tas Naufal dirampas gerombolan penyerang yang sepertinya bukan berasal dari Kabupaten Klaten.

Diantara korban terluka, kini hanya Chandra yang mesti menjalani rawat inap di rumah sakit. Selebihnya sudah bisa pulang. Sedangkan dari pihak penyerang sudah ada 15 pelajar yang diamankan polisi di Kepolisian Resort (Polres) Klaten. Setelah didata dan dijemur di pelataran Polres Klaten mereka dibolehkan pulang setelah dijemput oleh masing-masing orang tuanya.

Sudah Banyak Korban

Aksi brutal segerombolan pelajar seperti yang terjadi di Klaten memang bukan cerita baru. Aksi serupa juga terjadi di sejumlah kota, bahkan ada yang lebih sadis dengan menyiramkan air keras ke sekelompok pelajar lainnya yang dianggap musuh.

Sejauh ini Kepolisian Resor Klaten masih mendalami dugaan keterlibatan kelompok klitih dalam konvoi pelajar yang melakukan aksi brutal di sejumlah wilayah Kabupaten Klaten pada Selasa siang, 2 Mei 2017. Klitih adalah sebutan bagi tindak kriminalitas di kalangan remaja yang belakangan ini sedang marak di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebelum menyerang sebelas anggota Paskibraka SMAN 1 Klaten, rupanya para pelajar yang berasal dari Kabupaten Sleman itu, melakukan aksi brutal di sepanjang jalan yang dilaluinya. Setidaknya dua mobil dan satu sepeda motor yang dianggap menghalangi jalan dirusak. Mereka juga melempari rumah warga dan sebuah warung Internet di tepi jalan dengan batu. Tanpa alasan, gerombolan pelajar itu juga melukai sedikitnya sembilan remaja.

Aksi brutal pelajar yang dikenal dengan nama klitih di sekitar Yogyakarta memang sudah meresahkan. Sepanjang Agustus 2016 – hingga Maret 2017 aksi brutal itu setidaknya telah menewaskan 4 orang pelajar di Yogyakarta.

Terakhir, sebelum kejadian di Klaten yang membuat seorang siswa luka bacok parah, seorang pelajar SMP bernama Ilham Bayu Fajar meregang nyawa setelah ditusuk segerombolan pelajar brutal di Banguntapan, Minggu dinihari, 12 Maret 2017. Gerombolan pelaku berkisar 10-15 motor.

Sebelumnya,Senin, 12 Desember 2016,  Adnan Wirawan Adiyanto, seorang pelajar SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, juga tewas ditusuk gerombolan pelajar dari sekolah lain saat pulang berwisata dari Pantai Ngandong, Gunungkidul.

Dalam catatan nusantara.news masih ada dua korban tewas lagi, masing-masing Adnan Hafidz Pamungkas yang tewas di Jl Ring Road Barat, Gampingan, 30 September 2016 dan Iqbal Dhinaka Rofiqi yang tewas dianiaya di makam Gajah Miliran, Umbulharjo, pada 30 Agustus 2016.

Tanggung Jawab Siapa?

Persoalannya, kenapa aksi brutal itu terus berulang? Adakah yang salah dengan dunia pendidikan kita? Umumnya para birokrat pendidikan lepas tangan dengan alasan aksi kekerasan itu dilakukan di luar sekolah. Padahal, pelaku kebrutalan adalah para pelajar yang setidaknya sudah lebih dari enam tahun mengenyam bangku pendidikan.

Di sini sebenarnya banyak pertanyaan yang mesti dijawab oleh dunia pendidikan itu sendiri. Seperti misal, apa saja yang dilakukan guru kepada muridnya sehingga anak-anak bisa hilang keadaban, rasa empati dan kemanusiaan kepada sesama? Perkelahian diantara anak muda itu hal biasa, tapi kalau sudah melibatkan senjata tajam dan bertujuan membunuh itu yang sangat luar biasa. Itulah yang menjadi pertanyaan besar untuk dunia pendidikan kita.

Tentu saja fenomena pelajar brutal bukan semata-mata tanggung-jawab lembaga pendidikan formal seperti sekolah. Hadirnya tayangan-tayangan kekerasan, baik dalam film-film kartun anak-anak hingga tayangan yang berkesan reality-show sadis seperti smack-down sudah pasti turut membentuk perilaku anak didik dalam kesehariannya.

Lembaga-lembaga lain, seperti Komisi Penyiaran juga mesti bertanggung-jawab atas tayangan sehat lembaga-lembaga penyiaran yang menggunakan frekuensi public. Begitu juga dengan Kominfo yang bertanggung-jawab atas “internet sehat” yang bebas dari ujaran kebencian, pornografi dan kekerasan.

Belum lagi masalah lingkungan keluarga dan lingkungan sosial yang bisa jadi permasalahannya jauh lebih kompleks dari yang kita bayangkan, seperti kurangnya perhatian orang tua karena orang tua sibuk mengejar karir bagi golongan menengah atas atau mengakses sumber penghidupan yang keras bagi golongan menengah bawah, keluarga berantakan, kecemburuan sosial dan seterusnya.

Untuk itu selain keluarga dan lingkungan, sekolah pun dituntut menciptakan suasana optimis, aman dan nyaman bagi keseluruhan pelajar, bukan hanya pelajar-pelajar yang terlihat pintar dan berprestasi membawa harum nama sekolah, melainkan juga pelajar-pelajar yang mungkin secara akademis tertinggal atau yang sering dicap “nakal”sehingga mereka tidak inferior dalam menghadapi masa depan.

Justru bimbingan konseling bagi pelajar yang ditengarai bermasalah mesti terus dilakukan dengan suasana nyaman dan penuh kegembiraan, serta jauh dari “penghakiman”.  Jauhkan sekolah dari stigma “bodoh” atau “nakal”, tapi cobalah bimbing mereka agar menemukan spirit belajar, minat atau bakat yang mesti ditekuni,  serta rasa empati terhadap sesamanya.

Para penggerak Karang Taruna dan sejenisnya di masing-masing komunitas tentu saja memiliki andil dalam mendidik anak-anak usia sekolah di lingkungannya. Peran ini yang tampaknya kini memudar digantikan oleh klub-klub yang mengacu kepada merk dan gaya hidup tertentu yang melahirkan geng motor, klitih dan sejenisnya.

Dengan demikian anak-anak muda usia pelajar tetap bersikap kritis (bukan brutal), optimis (tidak mudah menyerah) menghadapi tantangan zamannya tanpa kehilangan rasa empati dan solidaritas kemanusiaannya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here