Pelajaran Nasionalisme dari Suriah

0
125

SURIAH, masih adakah yang tersisa di negeri itu sekarang, selain kepulan asap mesiu, reruntuhan, dan mayat yang bergelimpangan?

Ada! Semangat. Negeri itu hancur. Tetapi, sebagai bangsa, mereka punya semangat. Semangat untuk mengembalikan kebanggaan sebagai bangsa.

Semangat itu tercermin dari tim nasional sepakbola negeri itu sepanjang babak kualifikasi Piala Dunia FIFA 2018 Zona Asia. Sebetulnya tinggal selangkah bagi Suriah untuk bertanding di putaran final di Rusia tahun depan. Sayang, cita-cita mereka kandas setelah kalah dalam pertandingan play-off melawan tuan rumah Australia di Stadion ANZ, Sydney, Selasa kemarin (10/10).

Itu pun tak mudah mereka ditundukkan oleh Australia, negeri yang sentosa itu. Bahkan Suriah sempat unggul dalam pertandingan yang harus diperpanjang dengan babak tambahan itu. Omar Al-Shomah, stiker Suriah yang dijuluki Ibrahimovic Timur Tengah itu, menjebol gawang Australia ketika pertandingan baru berjalan enam menit.

Mereka gagal ke Rusia. Tapi, sejatinya, mereka menang.

Itulah kebanggaan bangsa. Hasrat meraih kebanggaan bangsa itu yang menyemangati para pemain sepakbola Suriah. Mereka datang ke Australia bukan untuk sejenak melepaskan kepedihan, bukan pula sekadar ingin wisata, atau bertukar kaus dengan pemain negara lain. Mereka datang untuk memulihkan harga diri dan pulang membawa rasa bangga bagi kawan sebangsa yang saat ini menderita akibat perang. Mereka datang untuk menunjukkan Suriah memang layak menyandang julukan The Cradle of Civilization, tempat lahirnya peradaban.

Bagi pemain Suriah, ini adalah perang suci. Untuk itu, apa pun harus ditempuh.

Jangan dibayangkan mereka berlatih dengan fasilitas selayaknya tim yang hendak ke Piala Dunia. Lapangan sepakbola sudah berubah menjadi kuburan massal, pangkalan militer, tempat domba merumput atau tenda rumah sakit darurat.

Jangan juga dibayangkan semua pemain terbaik negeri itu bisa diajak. Sebab, dalam 5 tahun terakhir, lebih dari seratus pemain sepakbola Suriah dinyatakan hilang akibat tangan besi Presiden Bashar al Assad. Pemain lain yang masih tersisa, terutama yang tinggal di luar Damaskus, tak bisa ikut bermain. Sebab hampir semua kota besar di negeri itu sudah luluh lantak. Jalan-jalan ke luar kota diblokir. Beberapa ada yang bisa menyelinap, kendati menghadang maut.

Tapi itulah semangat Suriah. Bertanding demi negara. Keselamatan diri, apalagi imbalan materi, tak jadi perhitungan bagi semua. Omar Al-Shomah, yang bermain sebagai penyerang andalan klub Al-Ahli, Jeddah, rela meninggalkan kenyamanan hidup di Arab Saudi dan menempuh perjalanan berbahaya untuk pulang kampung ke Damaskus.

Pelatih nasional Ayman Hakeem hanya digaji Rp1,3 juta sebulan. Tapi tak menyurutkan langkahnya. Ayman memimpin anak buahnya berlatih di bawah desing peluru.

“Syria will not give up.” Itu ucapan  Ayman Hakeem yang memompa militansi pemain Suriah. “Kami memang dalam situasi sangat sulit. Tapi kami tak akan menyerah,” katanya.

Berbuat untuk negeri memerlukan semangat. Itulah nasionalisme sejati. Negeri mereka hancur, tapi semangatnya tidak. Puing-puing kehancuran itu bisa dibangun kembali ketika perang mereda kelak, karena mereka memendam semangat Syria will not give up.

Dan pemain sepakbola dari sebuah negeri yang porak-poranda mengajari kita tentang membangkitkan semangat itu!

Entahlah, apakah pelajaran itu cocok dengan negeri yang konon gemah ripah loh jinawi ini?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here