Pelebaran Defisit Perdagangan Terus Menekan Rupiah

0
46
Kontribusi defisit perdagangan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah sangat tinggi, karena itu diperlukan satu kebijakan yang prudent sekaligus tokcer untuk mengubah defisit menjadi surplus perdagangan.

Nusantara.news, Jakarta – Pelebaran defisit perdagangan kembali terjadi. Neraca perdagangan Indonesia per Mei 2018 kembali mengalami defisit sebesar US$1,52 miliar, padahal di bulan April sudah terjadi defisit perdagangan sebesar US$1,63 miliar. Akankah pelebaran defisit perdagangan akan terus menekan rupiah?

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto impor sepanjang April 2018 mencapai US$16,09 miliar atau naik 11,38% dibandingkan Maret 2018. Pelebaran defisit transaksi perdagangan lantaran dipicu oleh kenaikan impor meningkat baik migas dan nonmigas.

Ekspor pada April 2018 mengalami penurunan 7,19% menjadi US$14,47 miliar dibandingkan bulan sebelumnya, dengan rincian ekspor nonmigas US$13,28 miliar dan migas US$1,19 miliar. Angka ekspor secara keseluruhan tersebut turun 7,19% dibandingkan Maret 2018, tetapi naik 9,01% dibandingkan dengan April 2017.

Ekspor nonmigas dan migas pada April tersebut mengalami kontraksi masing-masing -6,80% dan -11,32% dibandingkan dengan bulan Maret 2018.

“Mudah-mudahan bulan depan dan ke depannya bisa surplus karena untuk pertumbuhan ekonomi kuartal kedua sangat bergantung pada neto ekspor,” kata Suhariyanto belum lama ini.

Masalahnya, total ekspor Indonesia diperkirakan naik 5% (year on year/yoy) sementara total impor naik 13,8% (yoy). Karena itu wajar jika di bulan Mei 2018 terjadi pelebaran defisit untuk yang kesekian kalinya.

Impor bulan Mei 2018 terutama dipicu oleh meningkatnya impor barang konsumsi untuk kebutuhan selama Ramadhan. Sementara, ekspor mengalami kenaikan terutama didorong kenaikan harga minyak dunia namun tidak sebesar kenaikan impor.

Tentu saja pelebaran defisit perdagangan–yang nota bene dibutuhkan jumlah dolar lebih banyak untuk mengimpor barang ketimbang penerimaan dolar dari hasil ekspor—secara langsung berdampak pada pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Hari ini nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar AS menuju level Rp14.300. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) dolar AS diperdagangkan di level Rp14.271, sedangkan Reuters mencatat Rp14.277.

Penguatan dolar AS kali ini sebagai efek ganda dari sentimen global dan dampak pelebaran defisit perdagangan. Sentimen tersebut mulai dari ekspektasi kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS The Federal Reserve hingga sentimen perang dagang antara AS dan China. Penguatan mata uang Paman Sam terus terjadi meskipun sentimen sempat mereda akibat pernyataan yang dikeluarkan Gedung Putih.

Sementara kinerja transaksi perdagangan bulan Mei 2018 yang buruk makin memperparah pelemahan nilai tukar rupiah. Total defisit perdagangan sebesar US$2,84 miliar hingga Mei 2018 itu mengandung arti, diperlukan likuiditas dolar setara dengan Rp40,54 triliun, karena bolong, maka terkonversi lewat pelemahan nilai tukar rupiah.

Selain itu, dalam satu pekan terakhir juga terjadi peningkatan imbal hasil pada surat utang negara (SUN) ini juga menyebabkan pelemahan terhadap rupiah.

Apologi Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia cukup menarik diperhatikan, dolar AS memang masih kuat jika dibandingkan dengan mata uang negara berkembang, tanpa kecuali rupiah. Meski demikian depresiasi rupiah tak lebih parah dibandingkan mata uang dunia lainnya, rupiah hanya terdepresiasi berkisar 5,71%.

Sementara lira Tukri menjadi mata uang paling melemah secara tahun kalender atau year to date (YTD), yakni depresiasi 6,54%.

Menurut Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman, secara tahun kalender (year to date–YTD), peso Filipina depresiasi 4%, rupee Indian terdepresiasi 3,38%, lira Turki terdepresiasi 6,54%, real Brasil terdepresiasi 2,81%. Sedangkan yang mengalami apresiasi adalah Tailand baht sebesar 4,01%, dan Malaysia ringgit sebesar 3,82%.

Dengan demikian bank sentral memastikan bahwa rupiah bukan menjadi mata uang yang mengalami pelemahan paling dalam terhadap dolar AS.

Menanggapi depresiasi rupiah itu, ekonom Universitas Brawijaya Malang, Candra Fajri Ananda, mengemukakan pelemahan ini menandakan nilai tukar mata uang RI tersebut sudah tidak sesuai dengan asumsi makro ekonomi dalam APBN 2018 yang dipatok Rp13.400 rupiah per dolar AS.

“Subsidi terutama impor minyak dulu dihitung Rp13.500 rupiah menjadi Rp14.000 rupiah per dolar AS. Ini artinya belanja subsidi membengkak. Kalau belanja itu membengkak, kemudian penerimaan negara tetap, maka defisit anggaran akan mendekati angka 3%, itu bahaya untuk APBN,” kata Candra beberapa waktu lalu

Hal lain yang perlu diantisipasi adalah meningkatkan beban utang luar negeri yang harus ditanggung APBN akibat melesetnya asumsi kurs rupiah.

Untuk mengantisipasi agar depresiasi rupiah tidak mengancam pelebaran defisit anggaran hingga di atas 3%, maka pemerintah mesti mengimbanginya dengan meningkatkan penerimaan pajak.

Sayangnya, penerimaan sampai dengan April 2018 tidak seperti yang diharapkan. Pemerintah kemungkinan bakal mencukupi kebutuhan fiskal dengan berutang lagi. Bila ini dibiarkan akan cukup berbahaya, pendapat Candra.

Di sisi lain dengan kurs rupiah yang menembus level Rp14.000 per dolar AS, terjadi pembengkakan kewajiban membayar utang luar negeri Indonesia hingga Rp5,5 triliun.

Selisih pembengkakan ini akibat currency missmatch. Jika menggunakan kurs Rp13.400 sesuai APBN, maka pemerintah wajib membayar Rp121,9 triliun. Sementara itu, dengan kurs sekarang di kisaran Rp14.000, beban pembayaran menjadi Rp127,4 triliun.

Berdasarkan data BI, kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo pada tahun ini mencapai US$9,1 miliar, terdiri atas US$5,2 miliar utang pokok dan bunga US$3,8 miliar.

Sebagai negara net importir minyak, pelemahan rupiah akan berdampak pada meningkatkan biaya impor minyak. Pada 2017, neraca migas Indonesia defisit US$8,5 miliar karena membengkaknya impor minyak hingga US$24,3 milliar. Ini tentu saja tidak sehat dan memengaruhi harga BBM non-subsidi yang dipakai angkutan barang kebutuhan pokok.

Karena itu, satu-satunya jalan agar defisit perdagangan itu berubah menjadi surplus, maka pemerintah harus menggenjot ekspor dan investasi. Pada saat yang sama pemerintah harus menggenjot transaksi jasa, terutama di sektor pariwisata yang sedang menggeliat.

Namun melihat gelagat penerimaan pajak yang akan short fall untuk kesekian kalinya sejak 2006, maka dapat dipastikan pelebaran defisit perdagangan memang tak bisa dielakkan. Itu artinya rupiah yang akan terus-terusan menjadi korban, pendapatan rakyat Indonesia terbanggang zaman.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here