Pelebaran Jalan Sukolilo, Sebagian Warga Belum Terima Ganti Rugi

0
244

Nusantara.news, Surabaya – Program mempercantik kawasan wisata dan Sentra Ikan Bulak (SIB) di Bulak, Kenjeran, Surabaya oleh Pemerintah Kota Surabaya, hampir rampung. Pekerjaan menutup saluran air dengan box culvert untuk pelebaran jalan kini tersisa sekitar 25 meter. Akses jalan tersebut menjadi lajur utama menuju lokasi wisata yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas rekreasi yang nyaman.

Jalan yang semula kecil sudah lebar kini menjadi dua jalur. Pelaksanaan pembangunannya dilakukan perusahaan kontraktor PT Cakrawala, dilakukan pengerukan dan pendalaman sungai.  Proyek itu persis berada di deretan rumah warga. Di lingkungan jalan tersebut terdapat sekitar 454 kepala keluarga (KK), yang semula berhimpit dengan saluran air, kini berhimpit dengan jalan raya.

Pekerjaan berjalan lancar. Namun hingga kini sebagian masyarakat mengaku rumah mereka  retak dan ada juga yang nyaris ambrol akibat pekerjaan proyek. Soal ini bertambah pelik karena  setidaknya ada 6 rumah atau KK yang belum menerima ganti rugi akibat proyek ini. Diantaranya adalah rumah milik Sayedi (45) yang memiliki bangunan berukuran 4X15 meter. Dinding rumahnya retak dan lantai keramik ruang tamu juga ambrol. Rumah-rumah lainnya juga tak jauh berbeda, dan itu membuat pemilik ketakutan jika sewaktu-waktu ambruk.

“Sampai saat ini, saya belum tahu siapa yang akan mengganti. Sementara rumah ini harus diperbaiki, agar tidak membahayakan,” kata Sayeti saat berbincang dengan Nusantara.news.

Disebelahnya, bangunan rumah tingkat dua juga sama, sebagian tembok bangunan rumah milik H Mahli mengalami retak-retak. Rumah lain yang temboknya juga retak merupakan milik Mat Dahri dan rumah milik Samak di wilayah RT 02 Sukolilo, Kenjeran. Mereka menceritakan, sepanjang saluran air yang kini menjadi jalan itu berderet rumah warga sebanyak 454 KK. Saat dilakukan musyawarah, ada 51 KK yang belum mendapatkan ganti rugi.

“Ini sudah satu tahun lebih, sejak pembangunan di mulai pada bulan puasa tahun lalu, belum ada penggantian,” tambahnya.

Sebagai reaksi, warga kemudian memasang spanduk berisi kalimat tuntutan agar segera diberikan ganti rugi atas rumah mereka yang rusak. Spanduk itu dipasang di gapura kampung tepatnya di RT 02 dengan tujuannya agar Pemerintah Kota Surabaya melihat dan segera menyelesaikan pemberian uang penggantian atas kerusakan rumah mereka. Spanduk sengaja dipasang bertepatan dengan rencana kunjungan Presiden RI Joko Widodo ke kawasan itu.  Kalimat di spanduk itu berbunyi:

“BPK PRESIDEN (JOKOWI) TOLONG PAK RUMAH WARGA BANYAK YANG RUSAK BELUM DAPAT KOMPENSASI DARI PEMKOT SURABAYA”

Didapat cerita, kebuntuan penyelesaian ganti rugi sempat membuat warga bertanya-tanya. Ada sejumlah orang, yang oleh warga dipastikan dari pihak perusahaan kontraktor yang mendatangi mereka. Mereka bergerilya mendekati warga satu persatu, yang rumahnya mengalami kerusakan dengan memberikan sejumlah uang, namun nilainya tidak sepadan dengan taksiran untuk biaya renovasi.

“Sebagian warga menerima itu, lainnya masih bertahan karena nilai yang diberikan tidak sepadan dengan kerusakan,” ujar Hardi warga setempat.

Misalnya, mereka yang menaksir kebutuhan untuk renovasi sebesar Rp40 juta, tetapi oleh orang yang mendekatinya hanya diberikan Rp5 juta. Ada yang membutuhkan Rp25 juta dan ada juga yang meminta Rp20 juta. Namun, permintaan tersebut tetap tidak dipenuhi. Akibatnya, hingga kini mereka masih belum menerima ganti rugi.

“Sebagian warga menerima uang tersebut, meski mereka mengaku nilainya sangat sedikit. Sampai saat ini masih sekitar 6 KK yang menolak. Menurut saya ini sebuah kelalaian, karena pemerintah tidak hadir saat warga membutuhkan keadilan. Kami curiga, sengaja ada permainan,” sahut warga lainnya.

Karena itu, warga kemudian memasang spanduk, tujuannya mengingatkan agar pemerintah segera menyelesaikan ganti rugi. Mereka mengaku, bukan untuk melakukan aksi atau demo, saat petinggi negara atau siapa pun yang akan datang ke wilayah Kenjeran. Tetapi hanya ingin menunjukkan, masih ada warga yang rumahnya rusak akibat pembangunan, yang ternyata belum menerima ganti rugi.

“Kami tidak melakukan aksi demo, hanya ingin menyampaikan permasalahan kami melalui spanduk agar pemerintah tahu, ganti rugi belum kami terima,” ucap mereka bersamaan.

Tentu upaya ini tidak berlebihan. Melalui caranya, sebagian warga ingin menyampaikan bahwa ada yang dirugikan dalam proses mempercantik kota, khususnya pembangunan di wilayah Kenjeran, Surabaya. Pemilik rumah yang retak ataupun rusak akibat pembangunan, hingga kini belum mendapat respon dan penanganan yang memadai. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here