Pelibatan Kiai Sepuh Dalam Cagub PKB, Ujian Bagi NU Jatim

0
190
Anggota Banser NU

Nusantara.news, Surabaya – Setelah beredar surat agar para kiai sepuh dilibatkan dalam penentuan bakal calon gubernur (Bacagub) yang diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dinilai menjadi ujian baru bagi ulama, kiai dan PKB tersendiri. Sempat dikecam oleh akar rumput pada pilkada Jakarta silam, kini partai berlambang bola dunia dikelilingi bintang sembilan kembali dihadapkan pada cobaan.

Meski sempat diputuskan bahwa dalam Pilgub  Jatim 2018 PKB resmi megangkat Abdul Halim Iskadar yang tidak lain adalah kakak kandung Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar, sebagai Bacagub, rupanya membuat PKB, ulama dan warga NU dalam ujian integritas.

“Hal ini merupakan ujian integritas bagi kedua pihak, pertama kepada para politikus PKB yang selama ini mengklaim sebagai anak politik NU, yang dengan kata lain mengklaim sebagai pejuang kepentingan politik para ulama NU dan kaum nahdliyin yang sangat religius. Akankah mereka bisa benar-benar menjadi perwujudan idealisme Islam ala aswaja sebagai menjadi jati diri ulama NU,” ungkap pendiri Pondok Pesantren Rohmatul Umam, KH Ahmad Muzammil, kepada Nusantara.news, Senin (22/5/2017).

KH Ahmad Muzammil

Lebih lanjut, kiai berlogat madura tersebut menambahkan, bahwa ujian kedua yakni kepada ulama NU, akankah mereka bisa benar- benar menjadi pemandu moralitas politikus PKB. Bisakah mereka tetap menjunjung tinggi martabat ke ulamaannya dalam menghadapi Pilgub Jatim atau larut oleh rayuan-rayuan kepentingan sesaat para cagub dan politikus.

Meski dampak dari Pilkada Jakarta belum nampak di Jawa Timur belum terlihat, seharusnya hal itu bisa menjadi pelajaran ulama dan warga Jatim. Mengingat NU dan santri merupakan Tanah Air bagi mereka.

“Saya kira di situ ujiannya. Warga NU, terutama yang benar-benar santri harus tegar karena Jawa Timur merupakan Tanah Air mereka, katanya.

Oleh karena itu, Kiai Muzamil menyayangkan keterlibatan kiai dalam pusaraan politik praktis. Mengingat kiai sepatutnya tidak terlibat politik praktis. Terlebih, kiai merupakan simbol dari kesucian NU.

“Idealnya para ulama NU tidak terjun, tapi menjadi pelatih atau official yg duduk di pinggir lapangan dan siap meluruskan siapa pun yg menyalahi aturan,” pungkasnya

Perlahan tapi pasti, berbagai strategi politik Pilgub Jatim mulai nampak di permukaan. Pelibatan kiai dalam keputusan politik memang tidak diharamkan. Namun jika pelibatan kiai ini hanya sebagai rias salah satu cagub bahwa didukung kiai bukanlah merupakan sebuah kearoganan. Tersungkurnya Ahok dalam Pilkada Jakarta mestinya bisa dipetik hikmah dan pelajarannya, bahwa keangkuhan akan semakin mendekatkan pada kezaliman. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here