Peluang Djarot di Pilgub Jatim, Maksimal Jadi Cawagub

0
144
Djarot Saiful Hidayat

Nusantara.news, Surabaya – Djarot Saiful Hidayat (DSH) disebut-sebut akan maju di Pilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018, seiring dengan gagalnya mantan Walikota Blitar di Pilkada DKI Jakarta. Bagaimana tanggapan politisi senior Jatim?

Pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Novri Susan, Ph.D. menyatakan, memang terbuka peluang Djarot untuk ikut Pilkada Jatim sangat besar. Selain asli warga Jawa Timur, Wagub DKI Jakarta ini mempunyai ikatan emosional dengan masyarakat Jatim karena dua kali memimpin Kota Blitar.

“Djarot jika bisa memanfaatkan peluang ini, bisa maju di Pilkada Jatim. Beliau telah punya modal. Selama di DKI beliau dianggap sukses mendampingi Ahok. Nah, sekarang tinggal mengemas diri agar tidak menimbulkan resistensi di masyarakat,” katanya.

Namun yang menjadi pertanyaan saat ini adalah posisi apa yang pantas bagi DSH? Apakah sebagai calon gubernur (Cagub) atau wakil calon gubernur (Cawagub)?

Dari 10 partai penghuni 100 kursi DPRD Jatim, PDIP mempunyai nilai tawar bagus. Sebagai partai pemenang kedua dengan total 19 kursi tentu sangat menguntungkan, PDIP tentu akan memunculkan kader terbaiknya untuk bertarung dengan ketiga kandidat (Khofifah-Gus Ipul-Halim Iskandar).

Namun, lanjut Novri, posisi paling tepat bagi Djarot adalah sebagai calon wakil gubernur. Sebab saat maju di Pilkada DKI Jakarta, Djarot maju sebagai wakil bukan gubernur. “Jika dia (Djarot) maju sebagai L1, justru tidak baik kesannya di Jatim. Secara psikologis di masyarakat negatif. Tapi kalau hanya L2, tidak menimbulkan polemik di masyarakat,” katanya.

Djarot, kata dosen FISIP Unair ini, bisa berpasangan dengan Saifullah Yusuf ataupun Khofifah Indar Parawansa. “Djarot adalah representasi dari kaum nasionalis. Sedangkan Gus Ipul atau Khofifah adalah representasi dari kaum nahdliyin. Drajot bisa berpasangan dengan dua tokoh ini,” ungkapnya.

Mengenai tokoh-tokoh Jakarta yang ingin menjajal keberuntungannya di Pilkada Jatim, Novri menyarankan agar memikirkannya lagi. Sebab Jatim mempunyai perbedaan dengan pilkada daerah lain seperti DKI Jakarta.

Tjahjo Kumolo, Menteri Dalam Negeri yang merupakan kader PDIP saat dikonfirmasi menanggapi soal isu Djarot ke Pilgub Jatim, tidak mau berkomentar banyak. Namun dari nada yang diucapkan sangat kelihatan rasa kecewa karena pasangan Ahok-Djarot kalah dari Anies – Sandiaga. “Gagal, ya, sudah. Masih banyak kader PDIP di Jatim,” cetusnya kepada Nusantara.news.

Sementara Ketua DPD PDIP Jawa Timur Kusnadi saat dikonfirmasi Nusantara.news menyatakan, saat ini partainya sedang melakukan survei untuk mencari sosok yang dianggap pas maju sebagai kandidat calon gubernur Jawa Timur. Namun, saat disinggung soal DSH yang akan maju ke Piljub Jatim pasca kekalahannya di Pilkada DKI, Kusnadi enggan bercerita banyak.

PDIP Jatim, kata Kusnadi, bertekad pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) yang akan digelar tahun 2018 akan merebut kemenangan dan memiliki Gubernur Jatim. Tekad itu sudah disampaikan ke Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri. “Survei dilakukan di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Hingga sekarang survei masih belum rampung. Nanti ya Mas, biar kondisi tenang dulu. Mosok perang urat syarat terus. Tarik nafas dulu,” jelasnya.

Sementara itu Djarot Saiful Hidayat saat berbincang-bincang santai dengan Nusantara.news, Senin (24/4/2017) dalam diskusi kecil di sebuah hotel berbintang di Surabaya setelah menemani Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri ziarah ke makam Bung Karno di Blitar menyatakan masih enggan untuk bicara soal politik usai kekalahannya di Pilkada DKI, apalagi disinggung soal niatan running ke Pilgub Jatim 2018.

“Bosan saya bicara politik. Saya datang ke sini (Surabaya) mau makan sayur lodeh dan ikan pe. Lama sudah nggak makan di sini, kebetulan istri saya juga nggak masak,” jelasnya ramah sambil menghisap rokok.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here