Peluang Menang Prabowo di Pilpres 2019

0
273

Nusantara.news, Jakarta – Dengan dukungan tujuh partai politik dan beberapa bos media massa, boleh jadi Jokowi di atas angin menuju istana untuk kedua kalinya. Saking merasa super, tim lingkaran Jokowi mengemas wacana soal calon tunggal dan meminta pesaingnya di Pemilu 2014, Prabowo Subianto, untuk menjadi cawapres Jokowi. Secara politik game, isu calon tunggal dan wacana menduetkan Jokowi-Prabowo tak lebih sebagai psy-war. Manuver ini membawa pesan bahwa Jokowi tidak punya lawan, bahkan lawan beratnya pun “hanya” cocok sebagai wapres. Lantas, siapa yang berani lawan Jokowi di Pilpres 2019?

Sejauh ini, nama Prabowo Subianto, masih digadang-gadang maju kembali sebagai capres. Pasukan politik mantan Danjen Kopassus ini secara terang bahkan tak surut jika harus bertanding melawan Jokowi dengan koalisi jumbonya di pilpres tahun depan. Bukankah saat Pilpres 2004, pasangan SBY-Jusuf Kalla (JK) yang didukung partai gurem sanggup mengalahkan raksasa politik Megawati-Hasyim Muzadi yang didukung partai-partai kakap?

Juga pada 2014, saat Jokowi-JK yang hanya diusung dua partai baru (Nasdem, Hanura) plus PDIP serta sosok Jokowi yang masih dianggap amatiran kala itu, tetapi mampu membalikkan keadaan dengan menaklukan pasangan Prabowo-Hatta yang dimajukan koalisi besar. Tak menutup kemungkinan, pada pilpres 2019, ‘dejavu pilpres 2009 dan 2014’ akan membawa keberuntungan pada Prabowo.

Namun, apakah Prabowo akan kembali bertarung dalam kon­­testasi lima tahunan ini de­­ngan rival yang sama pada pe­­r­io­de sebelumnya atau Ge­rin­dra men­­cari kader lain? Sam­pai saat ini Gerindra mau­pun mitra koa­li­si abadinya, yak­ni PKS dan PAN, belum me­nyatakan se­cara resmi siapa capres yang akan diusung. Pun demikian, Wakil Ketua Umum Gerinda Fadli Zon menegaskan, seluruh kader dan simpatisan Gerindra sepenuhnya mendukung Ketua Umum Prabowo Subianto sebagai capres pada 2019. “Kalau capres sudah pasti Pak Prabowo itu 100 persen, tidak bisa ditawar lagi,” kata Fadli Zon, Ahad (25/2).

Desakan akar rumput dan kader partai pun hingga saat ini masih mantap mendorong ketum mereka menjadi capres. Dorongan itu dilakukan dengan menggelar deklarasi dukungan untuk Prabowo di tiap daerah. Teranyar, deklarasi dilakukan Dewan Pimpinan Daerah Gerindra Banten. Deklarasi serupa bakal digelar bergantian di daerah lain. Sementara, PKS dan PAN selaku sekutu politik Gerindra, sinyal mendukung Prabowo sebagai capres atau setidaknya memilih posisi berlawanan dengan Jokowi, sudah mulai kentara.

Apabila ketiga partai ini ber­­koa­lisi mengusung Pra­bo­wo se­ba­­gai capres, modal kursi di DPR su­dah lebih dari cukup dan me­lam­paui batas m­ini­mum pre­si­den­tial threshold. Ge­rindra pu­nya 73 kursi, PKS 40, dan PAN 49 kur­si. Namun per­tanyaan be­sar­­nya se­ka­rang, mampukah Pra­­bo­wo meng­atasi k­e­ter­ting­gal­­an atau bahkan me­nga­la­h­kan kan­­d­i­dat yang saat ini se­dang ber­­kuas­a? Tentu saja peluang menang Prabowo tetap ada.

Setidaknya ada empat hal po­kok yang bisa mendongkrak elek­tabilitas dan popularitas Pr­a­bowo, bahkan sampai bisa me­menangi Pilpres 2019. Per­tama, seberapa besar ­ke­me­nang­an kader-kadernya di pil­kada, baik untuk menjadi gu­ber­nur, bupati maupun wali ko­ta, yang akan digelar Juni nanti. Kedua, trend elektabilitas Prabowo yang merangkak naik. Ketiga, kemampuan mengelola isu terkini hingga beberapa bulan ke de­pan. Keempat, kecerdasan memilih cawapres.

Faktor Kemenangan Prabowo

Terlepas sejumlah kelemahan yang masih membayang, ada beberapa faktor yang memperkuat peluang kemenangan Prabowo di pilpres mendatang, di antaranya:

Pertama, peluang menang Prabowo cukup terbuka jika melihat perseberan ‘dominasi’ kubu Prabowo di sejumlah daerah yang punya kantong suara besar seperti Jawa Barat, Sumatera Utara, DKI Jakarta, dan Sumatera Barat.

Pada Pilpres 2014 lalu, dengan kemenangan Prawobo di 10 provinsi saja, selisih kekalahan Prabowo dari Jokowi terpaut tipis, yaitu 7 persen atau 8.421.389 suara. Perolehan suara Jokowi-JK saat itu 70.997.833 atau 53,13 persen. Sementara pasangan Prabowo-Hatta memperoleh 62.576.444 suara atau 46,84 persen.

Asumsinya, jika dari sekarang mesin politik Gerindra dan PKS mampu mengamankan dukungan suara 10 Provinsi dan bahkan menambah beberapa provinsi saja, maka kemenangan Prabowo bukan hal mustahil. Karena itu, pilkada serentak menjadi faktor penting ba­gi Prabowo untuk bisa memperkuat akar pengaruhnya sampai ­ke daerah-daerah sekaligus mengukur kantong-kantong dukungan.

PKS, Gerindra, dan mungkin PAN perlu memperbanyak peluang menang pilkada guna mendongkrak elektabilitas Prabowo. Dan, kemenangan pasangan Anies-Sandi di Pilkada DKI Jakarta 2017 menjadi modal awal yang bagus bagi peluang pencapresan Prabowo.

Kawan Seperjuangan: Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto (kedua dari kiri), Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Ketua Umum PKS Sohibul Iman (paling kanan)

Kedua, dari berbagai survei yang dilakukan 2017 perihal elektabilias capres, hanya Prabowo yang saat ini mampu menempel elektabilitas petahana. Meski selalu terpaut di bawah Jokowi, elektabilitas Prabowo terus merangkak naik dari tahun lalu, sementara Jokowi cendrung stabil, bahkan justru berada pada titik rawan. Sejumlah lembaga survei menyebutkan tingkat keterpilihan sang petahana belum menembus angka 50 persen, trendnya turun dari tahun-tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 60 persen.

Bandingkan dengan presiden sebelumnya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang elektabilitasnya stabil di kisaran 60 persen sebelum memasuki Pilpres 2009. Jelas ini lampu kuning bagi Presiden Jokowi bila ingin mempertahankan jabatannya. Sekaligus lampu hijau bagi Prabowo untuk memenangkan pertarungan.

“Padahal Pak Prabowo belum kerja sama sekali. Masih di Hambalang. Pak Jokowi dari Aceh sampai Papua setahun terakhir, elektabilitasnya stabil. Jadi jangan terlalu yakin pemilu akan mudah dimenangkan oleh Pak Jokowi,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, beberapa waktu lalu.

Burhan menilai, tingginya elektabilitas Prabowo tidak terlepas dari basis pemilihnya pada 2014 lalu yang masih loyal hingga saat ini. Apabila Prabowo terus bekerja meningkatkan elektabilitas hingga pilpres 2019 digelar, bukan tidak mungkin ia bisa menyalip Jokowi. Terlebih, Prabowo memiliki sekutu politik yang dikenal punya mesin politik yang militan dan cerdas seperti PKS.

Di luar itu, berdasarkan survei Political Marketing and Consulting (PolMark), sebanyak 32,4% responden mengaku tidak akan memilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada pilpres 2019 mendatang. Mayoritas responden itu menyebut menginginkan pemimpin baru di Indonesia. Siapakah pemimpin baru itu? Bisa jadi Prabowo.

Ketiga, peluang menang Prabowo yang bisa digarap beberapa bulan ke depan adalah kemampuan me­ngelola dan menyikapi ber­ba­gai polemik serta isu strategis saat ini maupun yang akan ber­kem­bang nanti. Setidaknya ada be­berapa isu penting yang bisa di­manfaatkan sekaligus jadi lan­dasan untuk melemahkan ku­bu Jokowi. Salah satunya isu gizi buruk yang menimpa warga su­ku Asmat Papua.

Banyak pi­hak meyakini ini terjadi karena kes­alahan pemerintah dalam hal kebijakan pangan. Pre­siden Jokowi pada Mei 2015 men­dukung konversi lahan 1,2 juta hektare untuk program The Me­r­auke Integrated Food and Ener­gy Estate. Program ini ha­nya membuahkan hilangnya ka­wa­san hutan, ekosistem, po­ten­si pangan lokal, serta te­r­sing­kirnya penduduk lokal dari ta­nah sendiri. Data Ke­men­te­rian Sosial, sejak September 2017 hingga Januari 2018 ada 63 anak meninggal akibat cam­pak dan gizi buruk, 393 jiwa men­jalani rawat jalan, 175 men­jalani rawat inap. Isu ini tidak mud­ah dilupakan begitu saja.

Kecelakaan akibat di­ke­but­nya berbagai proyek i­nfra­stru­k­tur juga merupakan isu yang bi­sa dimanfaatkan. Berdasarkan ca­tatan Konfederasi Serikat Pe­ker­ja Indonesia, ada 9 ke­ce­la­ka­an sampai menelan korban jiwa se­jak akhir 2017 hingga awal 2018. Bahkan Presiden KSPI men­duga upaya ngebut  ini se­ba­gai strategi untuk meraih citra baik di mata masyarakat men­je­lang pilpres. Isu ini tampaknya ju­ga akan terus menggelinding men­jadi isu politik.

Isu sensitif yang mengarah ke unsur SARA tampaknya juga akan mewarnai pilpres tahun de­pan. Setidaknya hal ini dipicu de­ngan banyaknya tindak pi­da­na penganiayaan dan pem­bu­nuh­an yang menimpa tokoh aga­ma. Juga isu lain seperti per­­ppu ormas, kebangkitan PKI, pe­negakan HAM, dan tingginya in­deks korupsi di pem­e­rin­tah­an Jokowi bisa menjadi polemik yang merepotkan petahana.

Keempat, kecerdasan memilih cawapres. Saat ini, Prabowo tentu butuh cawapres yang punya magnet bagi raihan suara. Secara ideal Prabowo bisa memilih cawapres yang melengkapi dirinya, misalnya berpengalaman di pemerintahan, luar Jawa, muda, dan memiliki corak yang sama dari pihak rival agar mampu merebut basis suara mereka. Namun secara praksis, apakah dikotomi dan kriteria tersebut masih relevan untuk realitas politik saat ini? Rasanya tidak. Kecenderugannya, preferensi pilihan publik terhadap kandidat lebih pada ketokohannya, tanpa melihat apa dan dari mana latar belakangnya.

Pun begitu, kecerdasan Prabowo memilih cawapres tetap menjadi salah satu kunci bagi kemenangannya. Jika faktor ketokohan menjadi hal utama, maka sosok cawapres Prabowo adalah mereka yang dicintai dan dipercaya rakyat. Salah satu tokoh yang mungkin bisa dilirik adalah mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono (putra SBY, pendiri Demokrat), atau Gubernur Jabar Ahmad Heryawan (Aher).

Hanya saja, pamor Gatot kini meredup seiring tak lagi menjadi Panglima. Agus Harimurti bisa dipilih untuk memperkuat koalisi, namun elektabilitasnya masih rendah. Sedangkan Anies dan Aher berasal dari kelompok politik sejenis sehingga tak terlalu menolong mendongkrak elektabiltas, utamanya untuk mencuri kantong suara lawan.

Di titik inilah, tim Prabowo harus jeli mengkalkulasi cawapres terbaiknya. Karena siapa cawapres yang akan menjadi pendampingnya, tentu akan berpengaruh besar terhadap kemenangan dirinya. Dua kali kekalahan tentu bisa menjadi pelajaran bagi Prabowo. Bisa jadi, kesalahan strategi dalam memilih pendamping juga bisa menjadi beban elektoral ke depannya.

Hal lain yang tak kalah penting sebenarnya men­dorong partai pendukung Pra­bowo maupun pendukung ca­l­on lain untuk segera men­de­kla­rasikan calon yang akan di­usung. Bagi Prabowo, ini pen­ting karena akan memberikan ke­yakinan kepada pendukung lo­yalis yang memberikan sua­ra­nya saat Pilpres 2014 untuk ti­dak beralih ke pemilih lain.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here