Kepala Daerah di Bursa Orang Kedua (3)

Peluang TGB Sebagai Cawapres 2019

0
144

Nusantara.news, Jakarta – Setelah Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, kini giliran Muhammad Zainul Majdi atau lebih dikenal dengan TGB, gubernur Nusa Tenggara Barat periode 2008-2018, masuk dalam bidikan kepala daerah di bursa cawapres pada Pilpres 2019 mendatang. Lantas bagaimanakah peluang TGB?

Dilihat dari keberhasilan sebagai gubernur NTB selama dua periode, maka tidak ada yang meragukan kapasitas TGB untuk menjadi wakil presiden. Dari massa dan ketokohan, sebagai cucu dari pendiri Nahdlatul Wathan (NW), beliau jelas memiliki massa yang cukup banyak. NW yang memiliki pusat di NTB, sudah mulai tersebar di seluruh Indonesia dan membuat TGB memiliki modal untuk maju jadi wakil presiden. Nama TGB sebagai representasi tokoh umat Islam di Indonesia, gubernur yang hafidz Qur’an, serta ikut serta dalam aksi 212 membuat namanya kian populer di kalangan umat muslim tanah air.

Sejak mulai menggunakan sistem pemilihan langsung dan memasangkan presiden-wakil presiden dalam pemilihan, hampir semua pasangan calon di pilpres memilikikecenderungan untuk memasangkan antara tokoh nasionalis dan tokoh Islam. Komposisi ini dipadukan untuk menjaring segmen pemilih abangan dan pemilih muslim santri. Nama TGB yang terlahir sebagai santri dan tokoh muslim, membuat beliau menjadi salah satu tokoh yang sangat diperhitungkan sebagai wakil presiden 2019.

Lebih jauh dilihat dari latar belakang organisasi, TGB yang lahir dari keluarga NW tentunya mampu dekat dan menjembatani pemikiran dua ormas Islam terbesar di Indonesia yaitu NU dan Muhammadiyah. Hal ini karena pendiri NW yang tidak lain adalah kakek TGB merupakan tokoh Masyumi bersama tokoh Muhammadiyah lainnya yaitu Buya Hamka dan M. Natsir. Namun dilihat dari cara ritual peribadatan, NW sangat dekat dengan NU. Kombinasi inilah yang menyebabkan TGB cenderung bisa masuk dan dekat dengan dua ormas terbesar di indonesia tersebut.

Dan yang terakhir, ini sangat menarik juga: TGB datang dari luar Pulau Jawa. Latar belakang asal daerah inilah dianggap kelebihan tersendiri karena bisa melengkapi kombinasi “keindonesian” para capres (dan presiden-presiden sebelumnya) yang umumnya orang Jawa. Dengan menggandeng cawapres TGB, bisa merebut ceruk suara para pemilih di luar Jawa. Pun begitu, format kombinasi Jawa-Luar Jawa, Nasionalis-Islamis, Tua-Muda, atau Sipil-Militer, dalam konteks Indonesia tak terlalu berpengaruh. Sebab, di beberapa kali pilkada dan pemilu, preferensi pemilih lebih pada ketokohan.

Pertanyaannya, dengan siapa TGB akan dipasangkan di Pilpres 2019? Prabowo atau Joko Widodo (Jokowi)? Barangkali Prabowo lebih berpeluang untuk menggandengnya. Sejarah perseteruan antara SBY selaku ketua Umum Partai Demokrat (Partai TGB) dengan Ketua umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri (Partai Jokowi), membuat kedua tokoh ini sangat sulit sepaham dalam politik. Hal ini mengakibatkan Jokowi dan TGB akan sangat sulit dipasangkan. Menganalisis sikap TGB di Pilpres 2014 serta hubungan elit Partai Demokrat dengan Partai Gerindra yang lebih cair membuat Prabowo dan TGB memiliki peluang lebih untuk disatukan menjadi pasangan calon.

Terlebih, di Pilpres 2014, TGB adalah ketua tim pemenangan Prabowo Hatta di Nusa tenggara Barat dan mendapatkan suara 72,45%. Tetapi politik tetaplah politik, semua bisa terjadi didalamnya. Mari kita tunggu perkembangan politik selanjutnya.

Sebaliknya, jika TGB dipinang Prabowo, dukungannya tidak akan sesolid jika Prabowo memilih cawapres dari kader PKS. Apalagi PKS sejak awal telah menyodorkan sembilan nama kadernya untuk mendampingi Prabowo di Pilpres 2019.

Peluang TGB untuk Cawapres Jokowi dan Prabowo

Meskipun dalam Pilpres 2014 TGB berada dalam kubu berseberangan dan Jokowi kalah telak di NTB, tapi itu justru menjadi nilai plus bagi TGB. Secara politis, itu membuktikan bahwa TGB adalah mesin pendulang suara yang luar biasa, serta menjadi daya tarik sekaligus peredam kelompok kanan yang selama ini “memusuhi” Jokowi. Ditambah lagi, Jokowi akan mendapatkan limpahan suara pemilih Demokrat jika TGB yang nobanene kader partai tersebut dipilih sebagai calon RI-2.

Jokowi bersama TGB dalam suatu kesempatan

Secara figur, Jokowi juga butuh pendamping tokoh muda/progresif, dari kalangan santri/religius dan mewakili Indonesia timur/luar Jawa. Semua kriteria itu sudah ada di tangan TGB. Tinggal bagaimana memaksimalkan itu dalam “permainan politik” yang cantik.

Dengan menggandeng TGB yang figur keislamannya lebih kuat, moderat, dan dekat dengan berbagai kalangan ormas Islam,akan memudahkan Jokowi menutup isu-isu negatif seperti anti-Islam, komunis, dan mengkriminalisasi ulama. Saat ini sentimen negatif tersebut masih mendapat porsi lumayan cukup besar di sebagian kalangam umat Islam karena beberapa kasus seperti Perppu Ormas dan pembantaian tokoh agama yang terjadi belakangan ini.

“Isu-isu negatif tentang Jokowi dapat membentuk psikologi massa dan sangat mungkin menjadi serangan balik mematikan bagi Jokowi. Cawapres dari kalangan santri bisa menutup isu-isu negatif ini,” ujar Direktur Eksekutif Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN) Yasin Mohammad, beberapa waktu lalu.

Kemudian, jika Prabowo yang meminang TGB, sama seperti ke kubu Jokowi, maka bisa jadi Partai Demokrat mau berkoalisi dengan Gerindra. Suara pemilih Demokrat pun berpeluang memilih Prabowo. Itupun jika partai besutan SBY itu legowo melepas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dari bursa cawapres. Mislanya, demi kepentingan bangsa dan negara, AHY cukup menjadi menteri saja bila nanti Prabowo-TGB terpilih, sekaligus kaderisasi dan menimba pengalaman sebagai persiapan nyalon di Pilpres 2024.

Beberapa pihak menilai, Prabowo dan TGB merupakan perpaduan politik yang ideal saat ini. Prabowo yang berlatar militer dan terkenal tegas, sementara TGB dari kalangan sipil, ulama, representasi umat Islam moderat, yang terkenal cerdas dan visioner. Keduanya merupakan perpaduan kekuatan militer dan ulama atau umara dan ulama. TGB juga yang berpengalaman di birokrasi dan managerial pemerintahan, akan melengkapi kekurangan Prabowo yang belum pernah duduk di pemerintahan sipil.

Kebersamaan Prabowo dan TGB dalam suatu acara

Namun demikian, kelemahan TGB yang berasal dari daerah pinggiran adalah tidak memiliki team work yang baik sehingga mampu melakukan “negosiasi” yang berimbang dengan semua pihak, baik yang pro maupun yang berseberangan.Itu terbukti dari safari dakwah yang dilakukan TGB ke berbagai daerah, terasa kurang menggigit dan tidak mampu menciptakan dinamika yang menarik. Padahal banyak hal yang bisa dimaksimalkan. Apalagi banyak sekali tokoh yang ditemui dalam safari tersebut. Tapi pemetaannya sangat lemah, peran media tidak kuat, dan seterusnya.

Di sisi lain, TGB akan terhambat “restu” dari SBY sebagai ketua umum Demokrat, partai tempat ia bernaung.Dan, rasanya akan sangat sulit peluang TGB untuk diusung Partai Demokrat. Pasalnya, Demokrat saat ini sudah memiliki putra sulung Ketum Demokrat SBY untuk ‘dijual’ ke Jokowi atau Prabowo. Hampir semua momen penting dan resources Demokrat diserahkan sepenuhnya untuk AHY. Salah satunya yakni Rakernas Partai Demokrat yang digelar awal bulan lalu. AHY mendapatkan tempat paling megah di panggung.

Apalagi, wacana poros ketiga yang disebut-sebut akan diracik SBY bersama Demokrat, PAN, dan PKB dengan menyorongkan pasangan capres-cawapres sendiri di luar Jokowi dan Prabowo. Hal ini tentu menjadi batu sandungan TGB melenggang mulus menjadi cawapres Jokowi.

Dari sisi elektabilitas dan popularitas menurut beberapa lembaga survei, TGB juga masih tergolong rendah. Wakil Ketua umum Demokrat Syarief Hasan menilai, elektabilitas TGB masih jauh di bawah putra mahkota Demokrat, AHY. Memang dari hasil survei sejumlah lembaga, nama AHY moncer sebagai cawapres paling potensial mendampingi Jokowi maupun Prabowo Subianto. Syarif menilai, sosok TGB biasa saja dan tak ada sesuatu yang spesial. “Sangat jauh (di bawah AHY). Sangat jauh,” ujarnya kepada di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/3) lalu.

Sebagian pengamat juga menilai, kelemahan TGB masih dianggap sebatas tokoh lokal. Massa riil TGB memang tidak hanya berasal dari kalangan muslim dan rakyat NTB, tetapi sosok TGB belum dikenal luas di seluruh pelosok tanah air (secara nasional).

Namun, dalam politik tidak ada yang tak mungkin. Peluang TGB mendampingi Prabowo atau Jokowi di Pilpres 2019 mendatang tentu masih terbuka.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here