Pelukan Politik, Bukan Sekadar ‘Kece’ di Depan Media

0
210
Pelukan Politik: Jokowi-Prabowo (kiri), Mahfud MD-Ma'ruf Amin (tengah), dan Erick Thohir-Sandiaga Uno (kanan)

Nusantara.news, Jakarta – Hari-hari ini, “tradisi” berpelukan para elite politik, utamanya mereka yang sempat berkonflik ataupun berbeda jalan, menjadi perbincangan khalayak. Setidaknya ada tiga “pelukan politik” yang menghiasi pemberitaan: Jokowi dengan Prabowo, Erick Thohir dengan Sadiaga Uno, serta Ma’ruf Amin dengan Mahfud MD.

Tentu saja, momentum “berpelukan” ala Tinky-Winky, Dipsy, Laa Laa, dan Po dalam serial Teletubbies di televisi yang familiar di tahun 1997 – awal 2000an tersebut, sejanak memberi kesejukan di tengah tensi politik yang memanas jelang Pilpres 2019. Saking ‘rindunya’ publik pada politik yang rukun, momen pelukan antara Presdien Jokow Widodo (Jokowi) dan lawan politiknya, Prabowo Subianto, dalam laga final Pencak Silat Asian Games 2018 lalu, serupa oase dalam ketandusan politik yang selama ini penuh caci maki dan nafsu saling meniadakan.

Tak heran, ketika peristiwa langka itu terjadi, pendukung Jokowi tersentak, pendukung Prabowo terhenyak. Para netizen dan mata media pun terbelalak. Pada detik-detik itu, ‘Kecebong’ dan ‘Kampret’ sejenak mengheningkan cipta, bukan mengenang perjuangan dan kematian masa lalu. Tapi menikmati kemenangan faktual dan sukacita kehidupan profan. Bahwa drama itu kadang tanpa perlu skenario, melainkan spontanitas. Bahwa spontanitas itu milik kemanusian yang lama menempati ruang batin setiap orang. Juga pada kedua “teletubbies” hebat, yakni: Jokowi dan Prabowo.

Tak berhenti di situ, pelukan politik atau teletubbies effect kemudian berlanjut pada dua sahabat yang berbeda jalan secara plitik, Erick Thohir dan Sandiaga Uno. Meski keduanya berada di dua kubu berbeda, aroma persahabatan tampak terlihat. Jika peluakan teletubbies Jokowi dan Prabowo kemarin adalah Tinky Wingky dan Dipsy, maka bisa dibilang sekarang Indonesia sudah punya Laa Laa dan Po pada sosok Sandi dan Erick.

Terpilihnya Erick Thohir sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) untuk pasangan calon Jokowi-Ma’ruf sempat jadi kekhawatiran bagi Sandiaga Uno, calon wakil presiden yang bakal bertarung untuk Pilpres 2019 nanti. Maklum saja, Erick adalah sahabat Sandi sejak kecil. Bahkan tidak hanya berteman, anggota keluarga Sandi dan Erick saling kenal dan akrab.

Meski begitu, Sandi tetap ingin pertarungan untuk Pilpres 2019 nanti berjalan penuh persahabatan dan persaudaraan. Senada dengan Sandi, Erick pun berharap pertarungan politik tahun depan berjalan dengan harmonis. Ketua Inasgoc yang berhasil memimpin penyelenggaraan Asian Games 2018 ini optimis jabatannya tidak akan mengganggu persahabatannya dengan Sandi.

“Kalau Pak Jokowi berpelukan dengan Pak Prabowo, saya juga berpelukan dengan Pak Sandi tadi di lapangan basket,” kata Erick sesaat setelah diumumkan menjadi Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf.

Ucapan ini bukan pepesan kosong, sebab meski pelukan yang pertama tidak sempat disorot media dan hanya bersumber dari pernyataan Erick. Sabtu pagi (8/9) secara kebetulan keduanya bertemu di Depan Rumah Dinas Ketua DPR Bambang Soesatyo. Dengan mengenakan kemeja biru, Erick menghampiri Sandi yang mengenakan batik dan peci hitam. Keduanya lalu berpelukan layaknya Teletubbies. “Selamat, izin bertugas,” kata Erick sambil tersenyum lebar. Senyum yang dibalas oleh Sandi, “Sama-sama”.

Teletubbies effect selanjutnya terjadi antara cawapres Ma’ruf Amin dengan Mahfud MD yang sebelumnya dirundung konflik. Pelukan antara Ma’ruf Amin dan Mahfud MD terjadi ketika Ma’ruf akan meninggalkan lokasi resepsi pernikahan Ketua DPR RI Bambang Soesatyo di Jakarta Convention Center, Senayan, Senin (11/9) malam.

Nama Ma’ruf Amin dan Mahfud MD tidak bisa dilepaskan dari momen ketika Calon Presiden inkumben Jokowi mencari pendampingnya dalam pemilihan presiden atau pilpres 2019. Beberapa jam sebelum Jokowi mengumumkan calon pendampingnya dalam pilpres 2019, nama Mahfud MD sudah mencuat. Bahkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini sudah mengurus tetek bengek syarat menjadi cawapres, seperti surat bebas pailit dan ukur ‘seragam’ deklarasi di istana.

Mahfud MD juga sempat blak-blakan menceritakan kronologi dirinya yang batal menjadi pendamping Jokowi di pilpres 2019. Mahfud menyinggung nama KH Ma’ruf yang dinilai ikut berperan dalam situasi tersebut.

Tak Berhenti di Elite

Sebenarnya, pelukan ataupun jabat tangan di antara para tokoh yang berbeda pilihan politik bukanlah sesuatu yang terlalu istimewa dalam sejarah demokrasi di Indonesia. Sejak awal, para pendiri bangsa telah mencontohkan persahabatan politik baik dengan kawan maupun lawan politik. Bagaimana sengitnya perselisihan antara Mohammad Natsir dengan Soekarno, Moh. Yamin dengan Buya Hamka, atau antara Burhanuddin Harahap dengan Ida Anak Agung Gde Agung, tetapi mereka tak berusaha merusak keadaban berpolitik.

Keadaban politik juga ditunjukkan Natsir dan IJ Kasimo. Keduanya berlawanan secara politik, namun tidak pernah diikuti dengan permusuhan abadi secara pribadi. Natsir dikenal sebagai tokoh partai Islam, Masyumi. Sementara IJ Kasimo, tokoh Partai Katolik. Ketika hari Raya Natal, Natsir selalu berkunjung ke rumah IJ Kasimo. Kebetulan tempat tinggal mereka tidak terlalu jauh, sama-sama di Menteng. Sebaliknya pada saat Idul Fitri, Kasimo datang berkunjung ke rumah Natsir.

Contoh lain, ketika hubungan ‘dwitunggal’ Soekarno-Moh.Hatta berubah menjadi ‘dwitanggal’ karena perbedaan prinsip politik yang berakhir dengan penguduran diri Hatta dari wapres tahun 1956, persahabatan pribadi keduanya tak turut luntur. Mereka masih saling berkunjung ke rumahnya masing-masing. Pada saat Bung Hatta sakit, Bung Karno selalu berpikir untuk perawatan terbaik bagi Bung Hatta. Sebaliknya, ketika Soekarno sakit dan menjelang akhir hayatnya, Hattalah yang paling peduli dan sering menjenguk Bung Karno.

Bahkan, ketika beberapa orang yang pro-Soekarno berupaya menghapuskan nama Hatta dari teks proklamasi. Namun dengan tegas Soekarno menuding bahwa upaya tersebut merupakan langkah pengecut.” Hari-hari ini memang aku berseberangan dengan Hatta, tetapi menghapus namanya dari teks proklamasi adalah tindakan pengecut. Hatta adalah juga pendiri republik ini, dan pengorbanannya untuk bangsa tidak terhingga,” demikian kata Soekarno.

Kembali ke pelukan politik di era saat ini, semestinya tak berhenti di tataran elite. Sebab, pelukan politik tersebut tak bermakna apa-apa jika di level pendukung arus awah masih saling “berhunus pedang”, sama-sama mengumbar kebencian, provokasi, dan fitnah. Terlebih, jika pelukan elite dilakukan semata-mata untuk tampil “kece” di hapadan media atau sebatas formalitas karena tak enak dengan publik, bahkan berharap agar viral belaka, maka prilaku tersebut tak hanya menodai keadaban politik tetapi juga merusak kehormatan dirinya.

Dampak pelukan politik sebagai kehendak berpolitik damai dan sejuk yang tak menetes di akar rumput, kemungkinannya ada dua: elite tersebut tak memahami potensi konflik di arus bawah, atau elite tersebut tak memiliki pengaruh bagi para pendukungnya. Kondisi tersebut semakin menyedihkan jika para elte itu justru menikmati pertikaian politik antar-pendukungnya karena merasa ‘memiliki basis massa’. Imbasnya: pembiaran situasi makin keruh dan tetap merayakan narasi-narasi politik yang tak menyejukan.

Sejatinya, momen pelukan politik atau persahabatan politik ini mesti dipelihara ke depan agar pemilu mendatang tak disesaki dengan narasi-narasi negatif. Ketika Jokowi dan Prabowo, Ma’aruf Amin-Mahdud MD, atau Erick-Sandi berpelukan teletubbies, mereka adalah satu senyawa, yang akan menarik satelit atom atau serakan atom yang berada di sekelilingnya. Pada saat itu dua atom menjadi satu senyawa dan mendefinisikan dirinya dalam satu jiwa: kedamaian anar anak-bangsa.

Begitulah keadaban politik. Layaknya atom-atom dalam senyawa, tidak berubah sifat fisiknya. Tapi haruslah disadari ketika menjadi satu senyawa. Dalam satu senyawa, atom kawan dan lawan tak perlu saling meniadakan. Melainkan membentuk kekekalan energi baru. Energi Indonesia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here