Pemanasan Global Merusak Konservasi Laut

0
111

Nusantara.news, – Banyuwangi, Sejak 2008 Kelompok Nelayan Ikan Hias Samudera Bakti Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo melaksanakan gerakan konservasi laut. Pada awalnya, kelompok nelayan tersebut hanya membangun kawasan konservasi seluas 5 hektare saja. Kini, kawasan konservasi telah berkembang menjadi 15 hektare.

Ketua Seksi Konservasi Kelompok Nelayan Samudra Bakti, Mastalianto segala aktifitas seperi memancing, menangkap ikan dan berenang dilarang sebagai upaya untuk menjaga kelestarian terumbu karang.

“Nelayan yang dulu berburu terumbu karang termasuk saya, sekarang turut melindungi karang dan kehidupan laut di sini. Namun terumbu karang yang kita lindung sempat banyak yang mati karena kemarau panjang tahun 2016. Panas matahari sampai di kedalaman 5 meter dan membunuh karang jenis acrofora,” ujar Mastalianto, Senin (27/3/2017).

Dampak lain dari cuaca ekstrim adalah 75% dari 75 spot terumbu karang keras bercabang-cabang itu memutih dan mati secara bertahap, dengan luas sekitar 3 meter per spot karang. Dengan kondisi panas cuaca yang ekstrim membuat pemulihan kerusakan terumbu karang akan semakin sulit dan membutuhkan waktu penyembuhan yang cukup lama.

Menurutnya, kemarau di tahun 2016 kemarin menjadi yang terparah sejak mulai adanya konservasi laut Bangsring di tahun 2008.  “Informasi yang kami dengar peristiwa seperti ini terjadi di pantai-pantai seluruh Indonesia. Perubahan cuaca karena pemanasan global. Sampai sekarang kondisi belum benar-benar pulih,” tegasnya.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here