Pembalakan Liar Terus Menggerus Hutan Kampar, Apa Kata Dunia?

0
523
Pembalakan liar di hutan semenanjung Kampar yang mengenaskan

Nusantara.news, Pekanbaru – Satu unit alat berat jenis eskavator kepergok melakukan pembalakan liar di kawasan hutan Kampar, Riau. Mereka sudah menggunduli 15 hektar hutan dari 200 hektar yang direncanakan.

Aktivitas eskavator itu dipergoki oleh Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPH-KLHK) Wilayah II Sumatera.

“Satu unit eskavator dan tiga pelaku yang ditangkap. Kami masih mendalami keterangan para pelaku,” ungkap Kepala BPPH Wilaya II Sumatera Eduwar Hutapea, di Pekanbaru, Minggu (12/2) kemarin.

Kepergoknya aktivitas eskavator itu, papar Eduwar, merupakan hasil pengintaian antara Polda Riau, LHK Riau, dan Satuan Polisi Reaksi Cept (SPORC) BPPH Wilayah II Sumatera di kawasan hutan Kabupaten Kampar.

Petugas gabungan sudah bergerak sejak hari Jumat (10/2) hingga Sabtu dinihari (11/2) sebelum berhasil menangkap basah aksi perambahan itu. “Ketiganya masih berstatus saksi. Mereka masing-masing berinisial B selaku pengawas lapangan, ML operator dan NH pembantu operator,” beber Eduwar.

Ketiga pelaku diduga telah melakukan alih fungsi hutan di kawasan konsesi Ijin Usaha Konsesi Pemanfaatan Hasil Hutan (IUPHH) PT Perawang Selasar Perkasa Industri, Desa Padang Sawah, Kecamatan Kampar Kiri.

Berdasarkan keterangan pelaku, imbuh Eduwar, mereka membuka kawasan hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Saat ditangkap, ketiganya sudah merambah 15 hektar dari 200 hektar lahan yang direncanakan.

BPPH Wilayah II Sumatera yang berada langsung di bawah Direktorat Jenderal Gakkum KLHK masih terus mendalami pengungkapan kasus pembalakan itu.

Meskipun belum berstatus tersangka, ketiga pelaku diduga telah melanggar Pasal 17 ayat (2) Undang-Undang nomor 13 tahun 2013, tentang larangan membawa alat-alat berat untuk kegiatan perkebunan tanpa izin menteri.

“Ancaman hukuman dalam perara ini cukup berat dengan penjara maksimal 10 tahun penjara dan denda Rp5 miliar,” tuturnya.

Memang, selama 6 bulan terakhir BPPH Wilayah II Sumatera telah menyita 8 unit alat berat dari sejumlah kawasan di Riau. Tapi belum jelas benar, apakah para pelakunya sudah berstatus tersangka, terdakwa atau baru sekedar terperiksa.

Sekedar gambaran, laju kerusakan hutan tahun 2012 sebagaimana yang dipublikasikan jurnal Natural Climate Change, mencapai 840 ribu hektar. Tentu saja laporan ini dibantah Kementerian Kehutanan yang menyebutkan angkanya jauh lebih kecil dari itu.

Padahal, jurnal yang ditulis mantan peneliti di Kementerian Kehutanan yang kini bekerja di Maryland University, USA, Belinda Margono, menyebutkan Indonesia mengalahkan angka deforestasi Brasil 460.000 hektar, di tahun yang sama, setahun setelah moratorium penebangan hutan diberlakukan.

“Jadi ada peningkatan kehilangan luas hutan alam dari tahun 2000-2012, bahkan di tahun 2012 kehilangan ini untuk Indonesia bahkan lebih besar dibandingkan Brasil, ada peningkatan proporsi di wetland, ada peningkatan proporsi forest land use yang seharusnya tak boleh diganggu,” jelas Belinda.

Artinya, memang penegakan hukum terhadap perambah hutan tidak boleh lagi main-main seperti yang sudah-sudah. Sebab itu menyangkut bukan hanya kelangsungan hidup orang Indonesia, melainkan juga warga dunia. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here