Pembangunan Kilang Tuban, di Tengah Tingginya Angka Kemiskinan

0
169

Nusantara.news, Tuban – Hadirnya Rosneft raksasa migas dari Rusia yang bersama Pertamina akan membangun kilang minyak Tuban, memunculkan harapan baru akan hadirnya kesejahteraan. Namun bayang-bayang tingginya kemiskinan di Tuban yang menjadi problem.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban mengklaim sudah mulai melakukan pemetaan kebutuhan tenaga kerja (Naker) kilang Rosneft. Sekretaris Daerah (Sekda) Tuban, Budi Wiyana, menjelaskan pemetaan itu perlu bagi putra-putri Tuban supaya bisa mempersiapkan diri. “Agar kesempatan bekerja disana bagi Naker lokal semakin besar, ” kata Budi.

Di samping itu, Pemkab akan bekerjasama dengan Pertamina buat memberikan pendidikan ketrampilan kepada calon tenaga kerja. Bekal ketrampilan disesuaikan dengan kebutuhan kilang Roseneft ketika sudah mulai beroperasi. “Seperti kebutuhan juru ukur, operator alat berat, safety, dan juga security,” kata Budi, Rabu (29/3/2017).

Semua posisi itu sangat mungkin diisi warga asli Tuban. Syaratnya adalah anak-anak Tuban dipersiapkan sejak dini. Supaya ketika dibutuhkan, mereka sudah siap bekerja.  “Sehingga tidak ada alasan buat pelaku usaha untuk tidak merekrut tenaga kerja lokal. Selama ini, alasan yang sering dipakai adalah tidak sesuainya Naker lokal dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Perusahaan punya standard dan kurikulum pelatihan, kita minta supaya itu diterapkan buat anak-anak kita,” pintanya.

Untuk itu sejak awal maret 2017, setiap usaha di Tuban harus menyertakan komitmen merekrut tenaga kerja lokal sebagai prioritas utama. “Saat ini di Dinas Penanaman Modal Perijinan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPPTP dan Naker) Kabupaten Tuban, semua itu akan dibicarakan, “kata Budi.

Kebijakan itu diklaim bisa jadi sarana pemetaan Pemkab Tuban. Untuk bisa lebih mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan tenaga kerja dari semua usaha yang akan masuk di Tuban. “Butuh berapa orang dan di posisi apa? Kami bisa siapkan anak-anak Tuban lebih awal,” tandasnya.

Sementara itu beberapa waktu lalu, Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Rachmad Hardadi mengatakan, dengan selesainya pembangunan Kilang Tuban pada 2021 mendatang dan Kilang Bontang pada 2023, setidaknya ada 250 insinyur yang harus direkrut setiap tahunnya.

“Sebanyak 40 persen tenaga kerja yang dibutuhkan berasal dari lulusan sarjana teknik, sedangkan 60 persen sisanya dari D3 dan strata SMA/SMK untuk operator teknisi,” ujar Rachmad, Rabu (01/03).

Selain itu, lanjutnya, pekerjaan fisik selama tiga tahun pembangunan akan melibatkan hingga 45.000 pekerja kontrak di lapangan. Bahkan, ia memprediksi efek ganda dari dua kilang baru ini lima sampai enam kali lipat.

Menurut dia, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) akan sangat diperhatikan, mengingat kedua proyek kilang strategis ini merupakan penugasan dari pemerintah kepada Pertamina. “Dengan adanya proyek strategis, industri dalam negeri bisa berkontribusi dan berinteraksi, sehingga benar-benar menggairahkan ekonomi Indonesia. Dari 45 ribu pekerja itu, ada multiplier effect lima sampai enam kali lipat,” katanya.

Semua harapan itu  menjadi ironi mengingat posisi tuban yang masuk 10 besar kemiskinan di Jawa Timur, peringkat ke-7 tepatnya. Serta  saat ini banyak perusahaan besar bahkan kelas dunia Investasi di Tuban, seperti semen Holchim, Petrochina, dan lainnya.

Kepala Biro Organisasi Pemprov Jatim, Setiajit mengatakan, angka kemiskinan di Tuban tidak kunjung menurun. Beberapa daerah yang sebelumnya dinyatakan miskin, kini telah menunjukkan perubahan angka pengurangan kemiskinan.Beberapa daerah yang masuk urutan miskin sudah mulai menunjukkan angka membaik,” ujarnya

Menurut dia, masalah kemiskinan yang dialami Kabupaten Tuban ini perlu untuk dicari benang merahnya. Sebab, angka kemiskinan di Tuban semakin lama bukannya semakin menurun, tapi justru semakin meningkat.  Untuk angka kemiskinan di Bumi Wali masih di bawah Kabupaten Bondowoso. Pertama angka kemiskinan tertinggi di Madura, lalu Probolinggo, disusul Bondowoso dan baru Tuban.

“Itu untuk urutan angka kemiskinan di Tuban, yang jelas Tuban masih masuk angka 10 besar kemiskinan di Jawa Timur, angkanya terus naik. Apakah data terbaru belum diinput atau bagaimana, kita belum mengetahui,” jelasnya tanpa merinci angkanya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here