Pembangunan Pasar di Kota Malang Masih Bermasalah

0
166
Ilustrasi Macet di Pasar (Foto: Berita Daerah)

Nusantara.news, Kota Malang – Hingga kini banyak permasalahan pembangunan pasar di Kota Malang belum tuntas. Beberapa pasar yang mestinya selesai dibangun masih terkatung-katung. Sebut saja Pasar Belimbing, Pasar Gadang dan Pasar Comboran.

Selain itu ada beragam masalah yang mengganjal. Sebut saja masalah Pakta Kerja Sama (PKS) antar masing-masing stakeholder, permasalahan desain bangunan, peraslaahan dengan investor, permasalahan pedagang yang enggan pindah, dan permasalahan pengisi kios-kios yang ada.

Berikut beberapa permasalahan yang ada di beberapa pasar lebih detailnya.

Delapan Tahun Pembangunan Pasar Belimbing

Pasar Blimbing, pada tahun ini memasuki tahun ke delapan proses pembangunannya. Artinya pembangunan selama 8 tahun belum juga rampung, lantaran masih banyaknya permasalahan didalamnya.

Awal februari 2018 lalu, beberapa mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian – Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK) Angkatan ke 73/WAP, menyampaikan hasil penelitian dan pengamatan terkait proyek pembangunan Pasar Belimbing yang hingga kini masih belum rampung.

Pasar Belimbing (Foto: Muhammad Choirul-Malang Voice)

Ketua Kelompok STIK-PTIK, Rizka menjelaskan bahwa pihaknya ada tiga masalah yang mereka sebut menjadi penyebab mereka enggan pasar dibangun.

Ia menjelaskan, masalah pertama yang menjadi ganjalan, yakni mengenai site plan dan block plan atau desain dan penempatan pedagang di pasar baru yang bakal dibangun. “Dari penelitian kami, berdasar informasi yang kami dapat dan kami olah, ada perbedaan siteplan dari janji awal dengan yang saat ini diberikan. Pedagang disini mempermasalahkan rencana pasar tradisional yang akan diposisikan di belakang pasar modern,” bebernya.

Selanjutnya, yakni kepastian pembangunan yang belum juga ada kabar informasi yang tepat. “Soal asas kepastian yang dikeluhkan, dimana para pedagang merasa belum ada kepastian terkait pelaksanaan pembangunannya. Lebih tepatnya adanya hitam di atas putih alias perjanjian kerja sama (PKS)” imbuhnya.

Rizka menjelaskan, dengan adanya PKS, baik pedagang, investor, maupun pemerintah tidak dapat lagi mangkir atau menyalahi poin kesepakatan yang disetujui bersama.

“Takutnya pedagang kalau terjadi seperti di Pasar Dinoyo, ada ketidaksesuaian bentuk fisik dengan yang dijanjikan ini pasti akan merugikan salah satu pihak, oleh karena itu PKS itu jadi acuan semua pihak,” tandas Rizka.

Sementara yang ketiga, ia menjelaskan bahwa selama tujuh tahun terakhir pedagang tidak mendapat sosialisasi mengenai proyek kerja sama tersebut. Para pedagang beum mengetahui sepenuhnya pemahaman akan revitalisasi dan pembangunan yang akan dilakukan.

“Pemahaman itu meliputi latar belakang, visi misi, anggaran, pelaksanaan dan lain-lain. Mereka paham tidak punya hak dalam ranah kerja sama,” pungkasnya.

Belum lama ini, Pemerintah Kota Malang dan pimpinan DPRD Kota Malang sempat menyambangi kawasan relokasi Pasar Blimbing. Namun sampai sekarang, pedagang belum juga memutuskan untuk pindah ke tempat yang telah disiapkan itu.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Malang, Wahyu Setianto menjelaskan jika proses selanjutnya yang akan dihadapi saat ini adalah berkaitan dengan adendum perjanjian kerjasama (PKS), antara Pemkot, Investor dan juga Pedagang Pasar Belimbing.

“Rencana yang paling dekat yakni, adendum tersebut ditargetkan segera rampung diperbincangkan dan membuat pedagang setuju untuk pindah. Pastinya agar pembangunan bisa segera berjalan dan segera direalisasikan,” jelasnya kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Riuh Sesak Pasar Gadang

Selanjutnya yakni di Pasar Gadang, dimana beberapa masyarakat mengeluhkan kemacetan disekitar Pasar Gadang, dimana penataan pasar yang semerawut. Pedagang yang berjualan hingga memakan bahu jalan disertai beberapa tengkulak yang parkir sembarangan di jembatan membuat padat arus disekitar pasar.

Ditambah lokasi pasar yang berdekatang dengan terminal membuat padat arus lalu lintas disekitar pasar. akses transportasi terminal gadang, ditambah beberapa pedagang yang bandel berjalan diluar pagar hingga ke bahu jalan membuat riuh dan sesak kawasan tersebut.

Wahyu menjelaskan akhir pekan kemarin, rencana untuk memindahkan pedagang yang didominasi pedagang buah itu sudah sejak lama dikomunikasikan. Tepatnya, sejak satu tahun yang lalu agar pedagang bersedia menempati tempat yang lebih layak.

”Sudah kami komunikasikan tapi masih bermunculan di luar pagar dan bahu jalan. Masih ada tempat di sisi selatan untuk diisi. Bagi pedagang yang menempati bahu jalan bisa segera pindah, karena memakai bahu jalan dan berjualan diluar pagar menambah kemacetan jalur area pasar,”tegasnya.

Sementara Misnah, salah satu pedagang buah menjelaskan bahwa telah nyaman berjualan di samping jalan, “Sering laku soalnya, daripada di dalam pagar dan di dalam ataupun sisi selatan,” pungkasnya.

Namun, pihaknya tidak mempermasalahkan jika akan dipindah. “Iya tidak apa-apa mas dipindahkan, tapi bangunannnya bisa diperbaiki serta kebersihannya juga ditingkatkan. Soalnya terkadang banyak yang enggan ke dalam karena kurang bersih dan beberapa bangunan rusak,” imbuh wanita 58 tahun tersebut.

Rencana penataan Pasar Gadang pun sudah digemborkan sejak lama, namun belum juga ada progress perubahan yang signifikan di kawasan pasar tersebut. Awal tahun kemarin rombongan  Pemerintah Kota Malang, meninjau langsung ke lokasi, namun belum ada langkah hingga kini.

Pedagang Pasar Comboran Bertahan di Bahu Jalan

Sementara itu, di Pasar Comboran berbeda lagi permasalahannya, Pasar Comboran sudah rampung dikerjakan dan tinggal ditempati itu sampai saat ini ternyata masih belum juga beroperasi. Lantaran sebagian besar pedagangnya masih memilih untuk berjualan di bahu jalan dan tidak memasuki kawasan pasar yang dibangun dua lantai.

Pasar Comboran (Foto: 1 bp)

Menurut Wahyu alasan belum ditempatinya Pasar Comboran adalah karena pedagang berkeinginan untuk menempati pasar secara bersamaan. Sementara saat ini, memang masih ada beberapa pembenahan yang membuat pedagang memilih menunda untuk menempati pasar lebih awal.

“Jadi masih ada pemasangan rolling door dan di bagian belakang pasar juga ada penataan kios untuk pedagang kaki lima,” katanya

Diketahui, pembangunan Pasar Comboran tersebut menghabiskan dana sekitar Rp8 miliar, dengan kuota tampungan 332 pedagang, dengan rincian penempatan 80 pedagang lama menempati bedak di lantai 1, kemudian 252 pedagang dari Jalan Halmahera akan berada di Los lantai 2 serta 238 PKL yang berada di Jl Sartono serta Jalan Moh. Yamin akan menepati bagian belakang dari bangunan pasar itu.

Polemik pasar tradisional di Kota Malang memang cukup pelik, pastinya masih ada beberapa pasar yang kemudian dengan segelintir permasalahannya seperti di bekas Pasar Merjosari, Pasar Terpadu Dinoyo, Pasar Kasin dan beberapa pasar yang lain. []

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here