Pembangunan Pasar Dinoyo Singkirkan Pedagang Kecil

0
532
Pasar Dinoyo Malang

Nusantara.news, Malang¬†–¬†Pembangunan pasar terpadu Dinoyo potensial menyingkirkan pedagang kecil seperti pedagang kaki lima, pedagang asongan dan pedagang pasar tradisional.

Setelah sebelumnya Malang dibanjiri pembangunan pasar-pasar modern yang dikuasai pemodal besar, dan tentu saja menyingkirkan pedagang-pedagang kecil dengan modal pas-pasan, kini pembangunan pasar terpadu Dinoyo juga diprotes oleh sejumlah kalangan. Sebab pasar Dinoyo yang selama ini dikenal sebagai pasar tradisional akan diganti menjadi Mall Dinoyo.

Tentu saja pedagang bermodal pas-pasan protes. Mereka pun berkali-kali melakukan unjuk rasa, bahkan semangat perlawanan tak mengendur meskipun mendapatkan perlakuan keji dari Satpol PP setempat, memaksa pemerintah kota (Pemkot) Malang berunding. Dalam keputusannya, Pemkot Malang akan membuat penampungan sementara di Rejosari, disamping juga berjanji akan menampung pedagang tradisional di Mall Dinoyo.

Janji tinggal janji. Setelah pembangunan Pasar Terpadu Dinoyo selesai, Pemkot mengingkari kesepakatan yang dibuatnya sendiri. Ukuran kios tidak sesuai dengan ukuran yang dikeluarkan Pemkot Malang melalui Dinas Pasar. Sudah itu, tempat berdagang di Pasar Terpadu Dinoyo tidak layak dan fasilitas yang tersedia kurang memadai.

Berikutnya banyak kesepakatan yang dibuat oleh Koperasi Pedagang Pasar Dinoyo (Kopasdin) yang mengatasnamakan pedagang Pasar Dinoyo tapi tidak sesuai dengan aspirasi dan keinginan pedagang Pasar Dinoyo.

Karena faktanya tidak sesuai Perjanjian Kerja Sama (PKS) Pemerintah Kota Malang Nomor: 050/558/35.72.112/2010 dan PT Citra Gading Asritama Nomor: 352/CGA.SBY/IX/2010 yang disepakati dulu maka pedagang enggan pindah dari pasar penampungan Merjosari ke pasar Dinoyo.

Ternyata Pemkot Malang lebih berpihak ke pengembangi PT Citra Gading Asmara (CGA). Mohammad Anton, selaku Walikota Malang, memerintahkan penutupan Pasar Penampungan Sementara di Merjosari lewat tindakan mencabut Keputusan Walikota Malang No. 188.45/204/35.73.112/2013 tentang Penetapan Tempat Penampungan Sementara Pasar Dinoyo di Kelurahan Merjosari sebagai Pasar Tradisional Merjosari.

Hal ini mengundang protes keras Aliansi Pedagang Pasar Dinoyo yang geram hingga dengan keputusan walikota. Mereka sempat demonstrasi mengepung Kantor DPRD Kota Malang pada November lalu.

Mereka menyatakan tindakan Pemkot ini mengakibatkan kerawanan status para pedagang pasar. Di satu sisi Pasar Terpadu Dinoyo yang dijanjikan tidak sesuai dengan perjanjian. Di sisi lainnya keberadaan mereka di Pasar Tradisional Merjosari terancam digusur.

Lebih parahnya, menyusul pencabutan Keputusan Walikota tersebut pihak Pemkot mencoba melakukan pemasangan seng untuk menutup Pasar Merjosari. Namun upaya ini dilawan dan berhasil digagalkan para pedagang pasar. Berikutnya malah muncul isu upaya pemutusan sambungan listrik ke pasar Merjosari.

Para pedagang beranggapan tindakan sewenang-wenang yang telah dilakukan tidak hanya menunjukkan arogansi Pemkot Malang yang hendak menyingkirkan pedagang bermodal pas-pasan. Kalau kebijakan seperti ini yang terus dikembangkan, tidak akan pernah mungkin kesenjangan sosial dihapuskan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here