Pembangunan Pasar Induk Gadang (PIG) Kota Malang Tak Kunjung Selesai

0
60
Pembangunan Pasar Gadang Lama (Foto: Radar Malang)

Nusantara.news, Kota Malang – Pembagunan Pasar Induk Gadang (PIG) belum terlihat ada aktivitas pembangunan yang masif dan beroperasi di pasar tersebut. Padahal, pembangunan sudah dimulai sejak sewindu, atau delapan tahun lalu. Perjanjian kerjasama pembangunan PIG itu diteken sejak 2010.

Hingga kini perubahan dalam skala yang besar belum juga terlihat selama delapan tahun masa pembangunan pasar. Selama setahun ini, pembangunan pasar induk itu terkesan berhenti di tengah jalan. Hanya terlihat besi pancang, dan sekitar pasar yang ditutupi pagar seng. Spanduk informasi pembangunan yang dipasang di pagar terlihat sudah usang dan beberapa sobek.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Malang Wahyu Setianto mengakui bahwa untuk beberapa waktu ini pembangunan PIG masih belum dilanjutkan. “Iya, untuk PIG masih stagnan. Namun kami tetap berkoordinasi dengan investor. Beberapa waktu lalu, kami juga akan terus berkomunikasi dan berkoordinasi lebih lanjut, untuk melakukan agenda pembangunan kembali,” ujarnya

Dalam koordinasi itu, investor menanyakan sertifikat aset milik Pemkot itu. Wahyu menegaskan jika aset berupa tanah itu telah disertifikatkan oleh Pemkot Malang. Karena para investor khawatir terkait status sertifikasi tanah pasar penampungan sementara tersebut. “Ada kekhawatiran terkait status aset Pemkot itu. Kami pastikan itu aset milik Pemkot,” tegasnya.

Pihaknya mencoba mendorong investor untuk membangun pasar itu. Apalagi, pedagang sudah lama menempati pasar penampungan sementara. PIG termasuk dalam daftar pasar di Kota Malang yang direvitalisasi memakai dana investor.

Investor PT Patra Berkah Itqoni itu sempat menanyakan sertifikat lahan yang akan dibangun PIG. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, investor menanyakan status lahan tersebut karena ragu. Mereka khawatir setelah dibangun menuai masalah karena status lahan tidak jelas.

Kali Kedua Pergantian Kontraktor

Pembangunan PIG yang memakan waktu delapan tahun, atau sewindu hingga kini belum menampakan sisi perbahan  fisik yang terlihat. Adanya suasana peluh dan sesak macet menghiasi disetiap paginya, disekitar jembatan Gadang tersebut.

Patut diduga ada permasalahan yang terjadi dalam proses pembangunannnya. Karena, sudah diambang batas normal waktu pembangunan yang hingga rentang waktu delapan tahun namun tidak terlihat bukti aktivitas dan perubahahan fisik pasar.

Diketahui, pergatian kontraktor telah dilakukan, di tahun 2016 namun hingga detik ini belum juga nampak pelaksanaan pembangunan yang terlihat.

Ketika perjanjian kerjasama (PKS) pembangunan telah diteken di tahun 2010, dalm rentang waktu enam tahun pembangunan tak kunjung ada dan nampak. Di tahun 2016 pun terjadi pergantian investor Pihak investor, PT Patra Berkah Itqoni, sudah menanda-tangani kontrak dengan kontraktor baru di Jakarta, Juli 2016 lalu. Sebelumnya pihaknya sudah mengajukan dua kali peninjauan ulang untuk perjanjian yang pertama disepakati Januari 2013 itu.

Baca: Pembangunan Pasar di Kota Malang Masih Bermasalah

Hal tersebut dilakukan setelah kontraktor lama, yang belum diketahui perushaannya mengundurkan diri, karena ada beberapa permasalahan yang membuat pembangunan mangkrak. Di lokasi PIG  hanya terlihat tiang-tiang penyanga, masih tetap ada. Di tempat yang luasnya sekitar 2,7 hektare (ha) yang sekelilingnya tertutup pagar seng itu, tanaman liar tampak memenuhi lokasi proyek bekas Terminal Gadang itu, sehingga tampak tak terawat

Optimisme pembangunan pun pernah dimiliki oleh PT Patra Berkah Itqoni degan rencana pembangunan tahap pertama yang diprakirakan menelan investasi sekitar Rp 150 miliar. rampung Desember 2017. Secara teknis, proses pembangunan pasar itu memang bisa rampung dalam 12 bulan. Namun, jika dihitung dengan berbagai pertimbangan, realisasi pembangunan bisa memakan waktu hingga 16 bulan.

Demonstrasi Masyarakat dan Pedagang Menolak Pembangunan

Pembangunan pasar yang berlarut-larut pastinya ada suatu permasalahan sehingga proses agenda pembangunan tidak dapat dilakukan. Hal tersebut menandakan bahwa pembangunan pasar tersebut memiliki permasalahan.

Aksi demonstrasi pun pernah dilakukan, oleh beberapa masyarakat dan pedagang, pada 2013 lalu. Koordinator aksi, Mohamad Rohim, Menjelaskan bahwa dirinya pernah menolak pembangunan pasar karena ia menilai, Walikota saat itu, Peni Suparto pembangunan pasar karena tidak ada musyawarah dengan mayarakat dan pedagang.

Para pedagang mengklaim bahwa musyawarah tentang pembangunan pasar itu belum tuntas. Pedagang menuding pemerintah telah membuat keputusan secara sepihak. Sebelum aksi demonstrasi dilakukan, Walikota saat it, Peni Suparto mengatakan bahwa pembangunan pasar itu telah melalui persetujuan mayoritas pedagang di pasar tersebut.

Selain PIG, ada juga Pasar Blimbing dan Pasar Dinoyo, dari ketiga pasar tersebut dari 2010 hingga kini baru yang benar-benar selesai dibangun adalah Pasar Dinoyo. Pasar Dinoyo Terpadu sudah selesai dibangun dan ditempati.

Sedangkan Pasar Blimbing masih dalam tahap perubahan (adendum) perjanjian kerjasama dan belum ada pembangunan. Pedagang Pasar Blimbing juga belum berpindah ke pasar penampungan. Pembangunan Pasar Belimbing pun hingga hari ini terhitung mencapai waktu 8 tahun pembangunan, dan tak kunjung selesai.

Sedangkan di Gadang, pedagang PIG sudah menempati pasar penampungan namun pembangunan pasar induk itu tak kunjung selesai. Hal tersebut menjadikan potret permasalahan pembangunan pasar di Kota Malang. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here