Pembebasan Lahan Ganjal Pembukaan Isolasi Udara Madura

0
147

Nusantara.news, Sumenep – Proyek pembangunan Bandara Trunojoyo Sumenep yang sudah kelar beberapa tahun lalu, ternyata tidak diikuti dengan optimalisasi fungsinya sebagai pembuka isolasi jalur udara ke Madura. Hingga saat ini, belum ada maskapai yang melayani penerbangan komersial ke dan dari Madura.

Salah satu ganjalan yang menghadang adalah pembebasan lahan untuk perpanjangan landasan pacu. Kendati ada di bawah kewenangan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), namun pembebasan lahan Bandara Trunojoyo merupakan kewajiban Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep.

Padahal otoritas bandara sempat menyebut ada 2 maskapai yang tertarik melayani rute komersial di satu-satunya lapangan terbang di pulau Garam tersebut. “Hingga sekarang dua maskapai masih tertarik untuk mengembangkan bisnisnya dengan membuka penerbangan komersial yang rutenya melalui Sumenep. Di luar hal teknis kesiapan bandara, penerbangan komersial itu memang tergantung maskapai,” ujar Kepala Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Trunojoyo Sumenep, Wahyu Siswoyo kepada wartawan, Senin (13/2/2017).

“Sesuai informasi dari Unit Layanan Pengadaan (ULP) Wilayah I Kemenhub, penandatanganan kontrak kerja dengan pemenang lelang penerbangan perintis 2017 dijadwalkan pada 17 Februari dan tanggal 20 Februari akan dilaksanakan penerbangan perdana,” tambahnya.

Kesepakatan itu bisa sia-sia jika hingga pertengahan 2017, pemkab tak kunjung lakukan pembebasan lahan. Salah satunya relokasi bangunan SMA PGRI Sumenep yang merupakan obyek bangunan satu-satunya di ujung landasan pacu sisi barat. Kendati bangunan tidak seberapa tinggi, namun obyek itu termasuk dalam klasifikasi penghambat keselamatan penerbangan pesawat komersil (kapasitas 70 penumpang) karena hanya berjarak 230 dari ujung landasan pacu.

Ada indikasi, relokasi tidak bisa berjalan sempurna karena tingginya permintaan ganti rugi lahan. Dalam situasi ini, Pemkab Sumenep beberapa waktu lalu sempat berharap Kemenhub segera realisasikan rencana pengembangan menuju bandara komersial. Namun karena kendala itu, dua maskapai yang punya penilaian bisnis untuk membuka rute ke Madura, memilih menunggu realisasi pembebasan lahan tuntas.

Penerbangan perintis dijalur Sumenep – Surabaya satu paket dengan jalur Surabaya – Bawean, Gresik dan Surabaya – Karimunjawa, Jawa Tengah. Kontrak penerbangan perintis program Kemenhub ini diperbarui setiap tahun sejak diawali pada 2016. Pemenang lelang dan menjadi operator penerbangan perintis Sumenep – Surabaya PP pada 2016 adalah PT Airfast Indonesia. Sedangkan untuk 2017, dikabarkan salah satunya Susi Air maskapai milik Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Dana Pembebasan Lahan Seharusnya Bukan Persoalan

Polemik pembebasan lahan untuk rencana perluasan lahan Bandara Trunojoyo, seharusnya bukan jadi persoalan. Sebab dibanding Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) lahan di tanah Jawa, seharusnya harga di Sumenep relatif lebih rendah. Naik lebih besar sedikit juga tidak bermasalah asalkan masih taraf wajar mengingat besarnya manfaat jika isolasi udara bisa terurai dengan kian besarnya pesawat yang mendarat dari yang sebelumnya.

Apalagi kendati tidak termasuk dalam rincian dana Rp43,035 miliar dari pusat yang dikucurkan tahun ini untuk pembiayaan Bandara Trunojoyo, Pemkab Sumenep tentu masih sangat mampu untuk membebaskan bangunan dan lahan SMA PGRI. Entah lagi jika ada sesuatu dan membuat masalah ini tak kunjung tuntas.

Sebelumnya, angggota Komisi V DPR RI asal Dapil Madura, M Nizar Zahro mengatakan tahun ini, Trunojoyo mendapat kucuran dana sebesar Rp43.035.918.000 dari pusat. Dana itu untuk mempercepat pembukaan komersialisasi bandara sehingga bisa didarati pesawat ATR 70. Rincian asal dana, diantaranya dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp144.313.000, Belanja Non Operasional sebesar Rp13.403.890.000 dan Belanja Modal Rp25.174.230.000. []

Rincian Penggunaan Anggaran 2017 Bandara Trunojoyo

  1. Dukungan manajemen dan teknis Ditjen Perhubungan Udara -682.283.000.
  2. Pelayanan angkutan udara perintis untuk tiga rute – 179.405.000
  3. Pelapisan landas lacu dan turning area dengan luas 37.800 m2 – Rp 12.179.105.000
  4. Pengadaan dan pemasangan AFL usai perpanjangan landasan pacu, taxi way dan apron baru – 511.300.000
  5. Pembuatan pagar standar bandara – Rp1,8 miliar
  6. Pekerjaan rancangan teknik terinci (RTT) sisi udara – Rp1,152 miliar .
  7. Pekerjaan pengawasan sisi udara – Rp500 juta.
  8. Pekerjaan pengadaan dan pemasangan flood light pada tiang ganda – Rp600 juta.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here