Pemberdayaan Bulog dan Kandidat Dirut Baru Budi Waseso

0
141
Akankah Budi Waseso sebuas memimpin BNN ketika memimpin Bulog?

Nusantara.news, Jakarta – Setelah Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengganti jajaran direksi PT Pertamina (Persero) dan PT Wijaya Karya Tbk, kini Perum Bulog bakal overhaul penggantian direksi. Nama Komjen Budi Waseso (Buwas) disebut-sebut memiliki peluang tinggi memimpin Bulog. Benar kah?

Pergantian direksi di BUMN basah bertepatan dengan tahun politik memang mengundang banyak tanya, apalagi kinerja direksi yang dicopot tidak jelek-jelek amat. Apakah ada fund rising di belakangnya?

Aura penggantian Dirut Bulog Djarot Kusumayakti dan jajarannya semakin santer pasca penggantian Direksi Pertamina. Djarot telah dipanggil Kementerian BUMN dan dikabarkan pemanggilan itu terkait dengan pergantian posisi puncak Bulog.

Namun Djarot enggan menjelaskan soal kepastian penggantian dirinya, ia hanya pasrah apapun yang terjadi. “Hari ini Red) saya disuruh kembali ke kantor dengan jabatan yang sama, untuk sementara ini,” demikian jelas Djarot diplomatis.

Djarot juga masih menunggu kepastian perihal rencana penggantiannya. Terkait informasi bahwa penggantiannya ditunda sampai Rabu besok, Djarot enggan berkomentar. “Nunggu kepastian. Masih belum ada yang bisa disampaikan,” katanya.

Meski demikian, Djarot mengungkapkan bahwa dirinya akan menerima apa pun keputusan Kementerian BUMN. “Ya, namanya anak buah, apa pun pasti di atas sudah berpikir yang terbaik,” terang Djarot.

Sebelumnya, Sekretaris Kementerian BUMN Imam S. Putro juga enggan berkomentar terkait informasi Buwas bakal menggantikan Djarot sebagai Dirut Bulog. “Kata siapa, nanti ditunggu saja kalau ada kepastiannya,” ucapnya.

Ihwal perombakan jajaran direksi Bulog sebenarnya sudah disampaikan dalam pertemuan Deputi Bidang Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro akhir pekan lalu. Jajaran direksi diminta hadir ke Kementerian BUMN pada Senin lalu untuk menerima Surat Keputusan Menteri BUMN tentang perombakan jajaran direksi Bulog.

Tapi mantan Direktur Usaha Mikro, Kecil dan Menengah PT Bank Rakyar Indonesia Tbk ini belum memastikan apakah dirinya dipertahankan atau diganti. Djarot menggantikan Lenny Sugihat yang baru menjabat Dirut Bulog selama enam bulan memimpin.

Tingginya turn over kepemimpinan di BUMN basah pada level-level tertentu, apalagi menjelang tahun politik (Pilkada 2018 dan Pilpres 2019) menjadi sangat sensitif. Apalgi pencopotan itu tanpa disertai alasan yang nyata.

Aset Bulog semasa dipimpin Djarot naik 12,67% dari Rp29,8 triliun (2015) menjadi Rp34,8 triliun (2016). Sementara laba bersih bulog ditahun yang sama turun 1,07% dari Rp931 miliar menjadi Rp921 miliar.

Persoalan mendasar Bulog adalah rendahnya daya serap yang hanya berkisar 7% dari total 40 juta ton stok beras nasional. Sudah pasti dengan rendahnya daya serap, Bulog dapat mengendalikan harga. Karena itu diperlukan kepemimpinan yang kuat guna memaksimalkan daya serap Bulog.

Tahun 2017 telah berakhir. Ada baiknya kita mengevaluasi penyerapan beras Bulog. Oleh pemerintah, Bulog dibebani target untuk menyerap 5,46 juta ton setara beras, lebih tinggi dari target internal yang disetujui Kementerian BUMN: 3,74 juta ton beras. Sayangnya, hingga 18 Desember 2017, Bulog baru mampu menyerap 2,156 juta ton beras atau 57,3% dari target internal dan hanya 39,2% dari target pemerintah.

Itu sebabnya Djarot harus diganti dengan alasan kinerja buruk Bulog dalam pengadaan beras. Djarot juga dianggap lamban dalam meredam kenaikan harga pangan. Tambahan pula perbedaan data Bulog dengan Kementerian Pertanian dan data Badan Survei Nasional, membuat Djarot harus meninggalkan posisi basahnya sebagai Dirut Perum Bulog.

Nama Buwas beredar

Lantas siapakah orang yang pas menduduki posisi Dirut Bulog? Mencuatnya nama Buwas sebagai kandidat Dirut Bulog dipandang sebagai upaya pemerintah untuk memberikan sosok tegas. Itu berhubungan dengan kerja keras Bulog yang harus menghadapi kelompok-kelompok mafia pangan.

Menteri BUMN Rini Mariani Soemarmo konon menggadang-gadang Buwas untuk menjadi Dirut Perum Bulog. Karena sosoknya yang tegas sangat cocok untuk memimpin Bulog, disamping juga ada rencana untuk memberdayakan Bulog seperti pada masa Orde Baru, yakni sebagai penyangga pangan nasional.

“Ketegasan memang jadi modal utama Dirut Bulog. Buwas punya itu,” ujar Direktur Studi Pertanian Universitas Padjadjaran Ronnie S. Natawijaya.

Hanya saja, Ronnie berpendapat, Bulog juga harus aktif dalam memberikan saran kebijakan yang harus ditempuh pemerintah untuk sektor pangan. Selama ini Bulog hanya pasif dalam menerima segala kebijakan dari pemerintah.

Selama ini bisnis Bulog sangat bergantung pada kebijakan pemerintah. Contohnya, kebijakan harga eceran tertinggi (HET) dari pemerintah yang turut memengaruhi kinerja perseroan. Sebab, Bulog harus membeli gabah berdasar Instruksi Presiden No 5 Tahun 2015.

Ada harga pembelian pemerintah (HPP) dan ada kualitas yang harus dipenuhi. Selain itu, Bulog mesti mengolahnya menjadi beras dan menjual sesuai HET. Jika harga pokok produksi lebih tinggi, Bulog harus menanggung selisihnya. Sekitar 70% pendapatan Bulog pun berasal dari penjualan raskin (beras untuk rumah tangga miskin).

Jaringan yang dimiliki Bulog di seluruh Indonesia seharusnya juga bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki distribusi pangan di Indonesia. Menurut Ronnie, di beberapa wilayah masih ditemukan selisih harga beras yang masih terlampaui tinggi bila dibandingkan dengan Pulau Jawa. Meski, dia juga mengakui bahwa Bulog masih kesulitan dalam mengontrol harga beras di Indonesia lantaran pangsa pasar perseroan masih minim.

Yakni, hanya mencapai 7% dari total stok beras nasional sebesar 40 juta ton. Jika bisa menjadi pemain besar, Bulog bisa menetralisir harga. Dalam kondisi hai ini, sulit rasanya Bulog memimpin pasar dan oleh karenanya juga sulit menetralisir pasar. Dengan begitu, selain ketegasan, direktur utama Bulog harus paham mekanisme pasar di Indonesia.

Hanya saja pihak internal Bulog menyayangkan kalau sampai Djarot diganti oleh Buwas karena dianggap tidak memiliki pengalaman dibidang logistik. Bahwa Buwas berhasil di Badan Narkotika Nasional (BNN) memang harus diakui dan diacungkan jempol, tapi Bulog sangat berbeda dengan BNN.

Apalagi pergantian Dirut Bulog dilakukan sebulan menjelang lebaran, dimana Bulog harus menjaga keamanan stok, maka terlalu spekulasi mengganti Dirut Bulog dengan orang yang bukan ahlinya.

“Jangan-jangan nanti malah tambah buruk kinerja Bulog,” demikian keluhan dari sumber internal Bulog.

Lepas plus minus harapan dan kekhawatiran akan peran Buwas di Bulog, yang jelas aura tahun politik yang jauh lebih menonjol. Sehingga spekulasi itu harusnya diarahkan pada upaya fund rising jelang Pilkada 2018 dan Pilpres 2019 guna memenuhi pundi-pundi logistik partai.

Itulah tugas Buwas, menepis isu-isu dan kabar miring yang berkembang dengan karya nyata dan kerja kerasnya yang menonjol.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here