Pembongkaran Berlanjut, Pedagang Merjosari Desak Pemkot Taati Perjanjian

0
36
Pemkot Malang dinilai arogan dan tidak mengindahkan keinginan pedagang Merjosari dengan tetap membongkar laak-lapak mereka

Sinergy Aditya
Nusantara.news, Kota Malang –  Polemik yang berlanjut soal pembongkaran Pasar Merjosari kembali memanas. Sekitar pukul 10.16 Truk dan Mobil Pickup datang ke pasar untuk membongkar beberapa bangunan di Pasar Merjoasari, Rabu (26/4/2017). Beberapa pedagang tetap waspada dan siaga memperhatikan beberapa bangunan yang dirobohkan.

Seperti diketahui bahwa pembongkaran ini, adalah pembongkaran kios-kios yang sudah tidak terpakai, dalam artian kios yang pedagangnya sudah kembali ke Pasar Terpadu Dinoyo.  Sementara beberapa pedagang yang tersisa tegas menolak relokasi selama permasalahan di Pasar Terpadu Dinoyo masih belum tuntas.

Sabil El Achsan, Koordinator Pedagang Pasar Merjosari mengungkapkan seharusnya pembangunan Pasar Terpadu Dinoyo (PTD) taat pada Perjanjian Kerja Sama (PKS) Nomor: 050/558/35.73.112.2010 yang dikeluarkan Pemerintah Kota Malang, namun kenyataannya banyak yang dilanggar hingga terjadi pembongkaran. “Terus terang, kami pedagang pasar Merjosari merasa didzolimi atas terjadinya pembongkaran itu,” kecam Sabil.

Ia juga menilai tidak ada ittikad baik dari pemerintah untuk menyelesaikan secara baik-baik dan sabar. “Kalau dari Dinas Perdagangan (Dindag) ada itikad baik, taati dulu kesepakatan yang telah dibuat antara  pihak Pedagang, Polres dan Investor,” gerutu Sabil.

Para pedagang menuntut Pemerintah mengubah Perda RTRW, karena para pedagang sudah menunjukkan sejumlah bukti dukungan dan dorongan kuat dari beberapa masyarakat agar Pasar Merjosari tetap dipertahankan. Tapi keinginan masyarakat itu, lanjut Sabil, tidak digubris.

“Kami ingin Pasar Merjosari menjadi pasar percontohan bersih indah nyaman, dari pihak kami sudah berbenah, mulai dari perbaikan paving, asbes, irigasi, kenyamanan dan pengelolaan sampah sudah kami atur ulang untuk kenyamana pengunjung dan penduduk sekitar” jelas Sabil.

Sabil juga mengklaim dukungan terus mengalir dari sejumlah elemen masyarakat, seperti Karang Taruna, beberapa RT dan RW, tukang ojek, penarik becak, pengemudi bentor, kusir delman yang mendukung Pasar Merjosari tidak dibongkar.

Terlebih, lanjut Sabil, kondisi Pasar Dinoyo masih jauh dari kata layak, “Kami memiliki dasar Pasar Dinoyo tidak layak, apalagi statement DPRD Komisi C juga bilang tidak layak, Sertifikat Layak Fungsi (SLF) tidak keluar, AMDALALIN bermasalah, Jalur Evakuasi, Ventilasi, Teknik Bangunan, Irigasi dan masih banyak sekitar 60 item yang bermasalah, oleh karenannya kami menolak pindah!” terangnya

Ia mengancam akan tetap berjuang melalui jalur hukum maupun demonstrasi yang lebih besar. “Langkah selanjutnya, kami merancang agenda tuntutan hukum kepada pihak Pemerintah Kota berkenaan dengan permasalahan ini. Bisa juga nanti akan demo kembali, bahkan demonya nanti akan lebih besar kalau memang tidak ada keputusan dan dipaksakan seperti ini,” ujar Sabil.

Sabil juga menyayangkan adanya oknum tidak bertanggung jawab yang melakukan intimidasi kepada pedagang, diancam dan diiming-imingi. “Kami ingatkan, siapapun kalian dan suruhan siapa jangan sekali-kali melakukan intimidasi kepada pedagang. Kami ini wong cilik, mau menyambung hidup kok dipersulit,” tandas Sabil.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here