Pembunuh 21-22 Mei Masih Misteri

0
128

POLRI sudah menjelaskan siapa saja dalang dan pelaku kerusuhan maut 21-22 Mei di Jakarta. Dalam keterangan pers di Kantor Kemenko Polhukam (11/6/2019), Kadiv Humas Polri Irjen Pol M. Iqbal menjelaskan dengan rinci hasil temuan tim investigasi tentang huru-hara tersebut dan rencana pembunuhan terhadap empat tokoh nasional. Berbagai bukti dipaparkan, lengkap dengan rekaman audio visual keterangan para tersangka.  

Kita berbaik sangka saja, bahwa investigasi itu dilakukan dengan baik, memenuhi kaidah scientific crime investigation, profesional, dan yang juga sangat penting, terpeliharanya imparsialitas sebagai penegak hukum.

Kita belum tahu, apakah investigasi yang dipimpin oleh Irwasum Polri Komjen Pol Moechgiyarto itu sudah final atau belum. Sebab, masih ada pertanyaan yang belum terjawab. Pertanyaan tersebut adalah siapa sebenarnya pelaku penembakan dengan peluru tajam yang menewaskan banyak orang itu.

Penjelasan resmi Polri kemarin belum sampai ke situ. Menurut Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid, polisi gagal mengungkap fakta sembilan korban tewas dalam peristiwa tersebut.

“Mengecewakan, alih-alih menunjukkan perkembangan penyidikan tentang sebab musabab korban yang tewas dan pelaku yang harus bertanggungjawab, narasi yang dapat berkembang dari konferensi pers itu malah mengarah pada wacana 'perusuh vs polisi',” kata Usman. 

Usman mengatakan, dengan narasi seperti itu terkesan mengarahkan wacana bahwa semua korban tewas adalah perusuh, dan kematian mereka hanyalah konsekuensi logis yang dari tindakan mereka dalam kerusuhan.

Kita sepakat. Siapa dalang dan pelaku kerusuhan berdarah itu, atau siapa otak dan eksekutor dalam rencana pembunuhan terhadap keempat tokoh nasional, memang harus diungkap tuntas agar tidak menjadi rumor yang liar. Tapi itu baru satu sisi. Sisi yang lainnya adalah siapa dalang dan pelaku penembakan sembilan korban itu.

Sebab, dari hasil penyelidikan Komnas HAM, ada empat orang tewas dalam bentrokan 21-22 Mei itu akibat tertembak peluru tajam. Kesimpulan Komnas HAM itu diperoleh dari keterangan langsung dari dokter yang menangani korban. Artinya, temuan itu sangat sahih secara hukum dan medis.

Peluru tajam yang merenggut nyawa empat korban malang itu tentu tak melesat sendiri, tapi dilesatkan dari laras senjata yang pasti ada orang yang menembakkannya.

Siapa? Itulah yang harus dicari polisi. Tanggungjawab polisi sebagai penegak hukum terletak di situ. Apakah polisi yang menembak? Di atas kertas tidak mungkin. Sebab, menurut keterangan Kadiv Humas Polri, anggota polisi yang diterjunkan mengamankan unjuk rasa itu hanya dibekali dengan peluru hampa dan peluru karet, tanpa sebutir pun peluru tajam.

Lagi pula, Polri punya banyak sekali aturan prosedur operasi standar (standard operating procedure, SOP) yang wajib dipedomani seluruh jajaran Polri dalam melaksanakan tugasnya menangani kerusuhan. Ada Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 16/ 2006 tentang Pedoman Pengendalian Massa, ada Perkap Nomor 10/2010 tentang Tata Cara Lintas Ganti dan Cara Bertindak dalam Penanggulangan Huru-Hara. Juga ada Perkap Nomor 8/2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia Dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Tapi, mungkinkah ada anggota Polri yang  diam-diam menyisipkan peluru tajam ke dalam magazen senjatanya? Atau mungkinkah peluru itu berasal dari orang-orang yang disangka polisi sebagai penyelundup senjata kemarin?

Sekali lagi inilah yang perlu dijawab dengan penyelidikan dan uji balistik yang cermat. Sebab, sejak kejadian itu  sudah sedemikian asumsi banyak berkembang mengenai asal muasal peluru tajam tersebut. Jangan biarkan publik menarik sendiri kesimpulan dari aneka ragam asumsi itu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here