Pembunuhan Wartawan Picu Kemarahan Rakyat Slovakia

0
169
Tercatat 65 ribu rakyat Slovakia unjuk rasa di Kota Bratislava setelah dibunuhnya wartawan Jan Kuciek dan kekasihnya pada Minggu (25/2) lalu

Nusantara.news, Bratislava – Tercatat 65 ribu warga Slovakia turun ke jalan selama tiga minggu berturut-turut paska terbunuhnya wartawan muda Jan Kuciak dan kekasihnya – Martina Kusnirova. Demo yang berlangsung di 35 kota itu memaksa Perdana Menteri Robert Fico mengundurkan diri pada Kamis Wage (15/3) kemarin lusa.

Kendati Fico telah mengundurkan diri namun demonstran akan tetap menjalankan kekuasaannya dari balik layar. Mereka pun menyerukan pemilihan umum lebih awal. Namun Fico menegaskan pemerintahan koalisinya diberikan mandat menyelesaikan kekuasaan selama 4 tahun hingga tahun 2020 nanti.

Kuciak dibunuh saat menyelidiki dugaan korupsi politik yang melibatkan mafia Italia. Tulisan berserinya belum tuntas saat Kuciak ditemukan terbunuh pada akhir Februari. Kematian itu pula yang menyulut kemarahan rakyat kepada pemerintah yang dianggap gagal menangani korupsi.

Perdana Menteri Slovakia Robert Fico mengundurkan diri

Kematian Kuciak terkait serial investigasi di media tempatnya bekerja membuat Perdana Menteri Fico, menteri dalam negeri, menteri kebudayaan dan pejabat senior lainnya mengundurkan diri. Jabatan Perdana Menteri dia limpahkan ke rekan sepertainya, Peter Pellegrini. Tapi rakyat tidak mau tertipu sebab mereka percaya Fico akan menjadi penguasa de facto yang tetap mengendalikan kekuasaan di negaranya.

Rakyat Slovakia menuntut pemilu dipercepat untuk mengganti sebuah rezim korup

Kemarahan rakyat yang diwujudkan dalam bentuk unjuk rasa di Bratislava – ibu kota Slovakia – dan 35 kota lainnya adalah pengerahan massa terbesar sejak jatuhnya rezim komunis. Pada pekan ini gelombang massa datang lebih besar lagi – dan massa bukan lagi menuntut pengunduran diri perdana menteri melainkan – dengan tuntutan pemilu dipercepat untuk mengganti rezim pemerintahan secara massal.

Bahkan muncul kelompok garis keras dengan massa yang lebih kecil dan memisahkan diri dari gelombang massa yang lebih besar dengan tuntutan “Seret Fico ke Penjara”. Mereka melakukan unjuk rasa di depan gedung-gedung pemerintah.

Setelah peristiwa pembunuhan itu polisi memang sempat membekuk tujuh orang. Tapi ketujuh orang itu dibebaskan setelah dimintai keterangan. Hingga kini belum satu pun yang dituntut atas peristiwa pembunuhan itu.

Motive Pembunuhan

Dalam laporan berserinya Jan Kuciak menuliskan laporan Investigasinya berjudul “Italian Mafia In Slovakia; Its Tentacles Reach As Far As Politics”. Saat terbunuh di tengah malam Kuciak sedang menyelesaikan seri terakhirnya di situs berita miliknya Aktualitas.sk

Belum sempat mengakhiri laporan reportasenya, Kuciak dan tunangannya ditemukan tewas di rumahnya pada Minggu (25/2) yang lalu. Itulah pembunuhan pertama wartawan dalam sejarah Slovakia.

Tak lama setelah pembunuhan sejumlah warga menyampaikan duka cita dengan aksi seribu lilin di Bratislava yang selanjutnya diikuti oleh kota-kota lain di Slovakia.

Artikel terakhir Kuciak – terbit setelah dia dibunuh – berusaha melacak hubungan antara mafia Italia dan tokoh-tokoh yang dekat dengan Perdana Menteri Robert Fico. Sehari setelah pembunuhan tampak potret hitam putih kedua korban ditempelkan di dinding teras rumahnya, dikelilingi oleh lilin dan bunga.

Kuciak menelusuri dugaan pengusaha Italia yang memiliki jaringan dengan sindikat criminal yang sedang diawasi – Calabrian – dan sindikat kejahatan lokal yang sangat ditakuti – Ndrangheta – telah lama menetap di Slovakia timur. Mereka secara bertahun-tahun melakukan penggelapan dana Uni Eropa untuk wilayah miskin di perbatasan Ukraina.

Para Mafia berjas pengusaha – sebut Kuciak – telah mengembangkan hubungan bisnis dengan pejabat senior – termasuk orang-orang dekat Perdana Menteri Fico. Satu di antara yang disebut adalah model papan atas Maria Troskova yang menjabat ketua penasehat perdana menteri dan juga mantan bos Troskova – Viliam Jasan – yang kini menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Slovakia.

Kedua pejabat itu – dalam sebuah pernyataan bersama – akan mengundurkan diri dari jabatannya sesegera mungkin hingga kasus itu diselidiki. Kepada media mereka mengatakan “pernyatan sejumlah politisi dan pemberitaa media yang menghubungkan nama kami dengan kasus pembunuhan ini  tidak bisa diterima”. Mereka bertekad mengundurkan diri sehingga nama mereka tidak terseret-seret dalam arus politik Fico.

Menteri Kebudayaan Marek Madaric – anggota Partai Pemangku Hak Milik yang dipimpin Fico – juga mengundurkan diri. Madaric menyebut itulah satu-satunya pilihan sebagai menteri setelah pembunuhan wartawan dan kekasihnya itu terjadi.

Fico memang tidak menanggapi secara spesifik permintaan wartawan untuk memberikan keterangan atas kasus pembunuhan itu. Namun Fico sempat memberikan keterangan pers saat mengumumkan sayembara – berbicara dengan sebuah meja yang berisi uang tunai satu juta euro – sebagai hadiah bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi kasus pembunuhan itu.

“Jangan menghubungkan orang-orang yang tidak bersalah tanpa bukti terhadap kasus pembunuhan itu,” kata Fico. “Ini melintas batas, tidak lucu lagi,” lanjutnya – mengecam oposisi dan media karena menggunakan tragedy itu untuk mencapai tujuan mereka sendiri.

Bagi Monika Todova – wartawan investigative untuk surat kabar pesaing Dennik N yang juga teman Jan Kuciak – tiga hari terakhir segala sesuatunya terlihat kabur. Jan Kuciak dinilainya cepat, tidak emosional dan profesional, tapi ada lingkaran gelap di bawah matanya.

“Klaim-klaim (keterlibatan Mafia) ini mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah,” ulas Todova menirukan ucapan Kuciak di kantor editorial Dennik N.

“Tapi saya seperti bermimpi saat di hari Senin pagi mendengar kabar Jan meninggal, seseorang telah membunuh di rumahnya, saya tidak mempercayainya, kami sangat terkejut karenanya,” kenang Todova yang meskipun mengaku bekerja di surat kabar pesaing, keduanya  – dia dan Kuciak – sering bertukar kontak dan informasi dan meliput hal yang sama.

Pemimpin redaksinya Matus Kostnolny setuju dengan perdana menteri bahwa sebuah garis telah disilangkan. Tapi sekarang tugasnya pemerintah, polisi dan pengadilan untuk memastikan negara hadir dalam pengusutan kasus itu.

“Ini adalah kesempatan terakhir untuk meyakinkan rakyat bahwa Slovakia bukan negara di mana seorang jurnalis dapat dibunuh karena pekerjaannya dan tidak ada yang terjadi,” ujar Kostnolny kepada BBC.

“Di mana politisi bisa menjadi bagian dari skandal korupsi, dan tidak ada yang terjadi, mereka tetap di pemerintahan,” lanjutnya.

“Saya pikir ini adalah kesempatan terakhir untuk meyakinkan orang bahwa kita bukan negara mafia,” tandas Kostnolny.

Perdana Menteri Fico dan pemerintahannya selama ini juga kerap diberitakan terlibat skandal dengan pengembang property yang ngemplang pajak. Kasus itu pernah memicu terjadinya unjuk rasa sebelumnya – meskipun tidak sebesar dalam tiga pekan terakhir.

Kematian wartawan Kuciak dan kekasihnya menjadi trigger kemarahan rakyat Slovakia yang memang benci dengan perilaku pejabatnya yang doyan kongkalingkong dengan mafia di negaranya.

Bagaimana dengan Indonesia? []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here