Pemerintah Akan Buat Aturan Bobot Kapal di Zona Konservasi

0
120
Keindahan terumbu karang Raja Ampat yang dirusak oleh kapal pesiar Caledonian Sky

Nusantara.news, Jakarta – Setelah insiden kandasnya kapal pesiar MV Caledonian Sky yang merusak terumbu karang di Raja Ampat, kini pemerintah melakukan evaluasi kebijakan yang mengatur kebijakan tentang zonasi.

Selama ini pemerintah hanya membolehkan atau melarang masuknya kapal-kapal pesiar ke kawasan konservasi. Di kawasan konservasi yang membolehkan masuknya kapal, pemerintah belum mengatur bobot kapal yang dibolehkan berlayar.

kapal

Kapal MV Caledonian Sky yang menabrak terumbu karang

Perairan Raja Ampat, tempat terjadinya insiden kandasnya kapal karena air surut yang merusak terumbu karang, dalam pandangan pelaksana tugas Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Ridwan Jamaludin, termasuk zona yang kapal boleh masuk.

“Zonasi yang dibuat berdasarkan keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan akan segera diplot di atas peta laut Pushidros (Pusat Hidro-Oseanografi) TNI AL, supaya terpublikasi dan semua orang tahu. Kedua, kita melihat pembelajaran dari The Great Barrier Reef di Australia. Di situ disebut kapal yang boleh masuk ukurannya sekian. Hal seperti itu akan kita perbaiki,” jelas Ridwan  di Jakarta, Kamis (16/3) lalu.

Sebelum kandas di Selat Dampir, Raja Ampat, terang Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan Bramantya Satyamurti Poerwadi, kapal itu sudah diberikan izin berlayar pada 1 Maret 2017. Tanggal 4 Maret 2017 kapal mulai bergerak ke Bitung dan akhirnya kandas di Raja Ampat.

“Kawasan perairan yang menjadi lokasi kandas kapal itu adalah kawasan zona pemanfaatan terbatas KPPD (Kawasan Pengelolaan Perairan Daerah) Raja Ampat,” ujar Brahmantya.

“Saya pribadi, kalau lihat kapal segitu besar, mestinya mereka mendarat di Sorong saja kemudian ditransfer ke kapal kecil. Seharusnya KPPD dan kami menyatakan bahwa KPPD menentukan titik-titik mana yang boleh dan tidak boleh,” tambahnya.

Tak Ada Aturan Jelas

Tidak adanya peraturan yang jelas tentang bobot kapal yang boleh berlayar di kawasan konservasi laut Raja Ampat adalah cermin kompetensi pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mengurus kawasan konservasi di Indonesia.

raja ampat

Penyelam menyelidiki skala kerusakan di Selat Dampir, Raja Ampat

“Wilayah konservasi yang selama ini digadang-gadang pemerintah Indonesia, bahkan dunia, pengaturannya masih jauh dari yang kita harapkan. Ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, kapasitas pemerintah pusat dan pemerintah daerah selain tidak efektif juga lemah dalam pengawasan. Kedua, peraturan yang sudah ada belum cukup kuat untuk melindungi kawasan konservasi,” tuding Arifsyah Nasution dari Greenpeace Indonesia.

Selain menyoroti tentang lemahnya pengawasan dan aturan yang kurang memadahi, Arifsyah juga menyoroti peran kapten kapal MV Caledonian Sky. Sebab ketiadaan pengaturan yang detail tidak menggugurkan kewajiban baik pemilik maupun awak kapal yang mesti bertanggung-jawab.

“Kalau mereka mengaku tidak tahu kedalaman laut dan keberadaan terumbu karang itu mustahil, sebab kapal secanggih itu dilengkapi perlengkapan navigasi modern,” kecam Arifsyah.

Berdasarkan kesaksian penduduk setempat, bukan sekali ini saja kapal sebesar MV Caledonian Sky berlayar ke Raja Ampat. “Tahun lalu saya melihat kapal sebesar itu berlayar di Selat Dampir. Jadi, sudah ada kapal besar yang berlayar ke Raja Ampat, tapi ini pertama kali ada yang menabrak terumbu karang,” ujar Ruben Sauvai, instruktur selam professional di Raja Ampat.

Rusak Parah

Begitu insiden terjadi, pemerintah sudah ancang-ancang menuntut klaim ganti rugi ke pemilik kapal MV Caledonian Sky sekaligus mengajukan tuntutan pidana kepada awak kapal. Untuk itu, pemerintah dan pihak asuransi bersama-sama meninjau lokasi untuk menentukan skala kerusakan pada Jumat (17/3) ini.

“Survei bersama ini penting karena ini akan menjadi bahan bersama. Tanpa survei bersama, masing-masing pihak akan bertahan pada data masing-masing,” kata Ridwan.

raja ampat

Terumbu Karang rusak parah akibat ditabrak MV Caledonian Sky

Pemerintah melalui Kemenko Maritim memperkirakan keruskaan mencapai 1600 meter persegi. Namun Direktur Program Bahari Conservation International memperkirakannya lebih luas dan lebih parah.

“Saya enggan berdebat soal angka, tapi estimasi awal jauh lebih besar. Ada daerah yang sangat parah kerusakannya. Di lokasi inilah kapal kandas. Tapi, ketika kapal ditarik, daerah-daerah lain terpengaruh,” terang Victor yang mengaku lembaganya sudah melakukan konservasi terumbu karang di Raja Ampat sejak beberapa tahun lalu.

Momentum Pembenahan

Di balik musibah kandasnya MV Caledonian Sky di Selat Dampir, Raja Ampat, Arifsyah dari Greenpeace Indonesia berharap dapat dijadikan momentum bagi Kementerian Keluatan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk berbenah meningkatkan koordinasi dalam mengurus kawasan konservasi.

Mengutip data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kondisi terumbu karang di Indonesia mayoritas dalam kondisi buruk.

Data yang terkumpul sejak 1993 hingga 2015 menyebutkan di 93 daerah dan 1.259 titik lokasi menunjukkan hanya 5 persen terumbu karang dalam kondisi sangat baik, 27 persen dalam kondisi baik, 37,97 persen dalam kondisi buruk dan sisanya 30,02 persen dalam kondisi yang sangat buruk. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here