Pemerintah Harus Mencegah Pelebaran Defisit Perdagangan

0
41
Pemerintah perlu mencegah pelebaran defisit perdagangan agar tidak membebani nilai tukar dan APBN.

Nusantara.news, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis kinerja perdagangan Indonesia sepanjang Mei 2018 mengalami defisit US$1,52 miliar. Sementara sampai April 2018 defisit perdagangan tercatat US$1,63 miliar, sehingga sampai Mei 2018 total defisit perdagangan mencapai 2,84%.

Akan kah defisit ini semakin melebar? Bagaimana dampaknya pada perekonomian?

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto impor sepanjang April 2018 mencapai US$16,09 miliar atau naik 11,38% dibandingkan Maret 2018. Pelebaran defisit transaksi perdagangan lantaran dipicu oleh kenaikan impor meningkat baik migas dan nonmigas.

Ekspor pada April 2018 mengalami penurunan 7,19% menjadi US$14,47 miliar dibandingkan bulan sebelumnya, dengan rincian ekspor nonmigas US$13,28 miliar dan migas US$1,19 miliar. Angka ekspor secara keseluruhan tersebut turun 7,19% dibandingkan Maret 2018, tetapi naik 9,01% dibandingkan dengan April 2017.

Ekspor nonmigas dan migas pada April tersebut mengalami kontraksi masing-masing -6,80% dan -11,32% dibandingkan dengan bulan Maret 2018.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berpendapat pada dasarnya defisit terjadi karena pertumbuhan konsumsi yang tinggi.

Walaupun begitu, ia menilai itu sebagai hal yang wajar. Sebab porsi konsumsi tidak terlalu besar secara year to date sebesar 20% hingga 21%.

“Pertumbuhan konsumsi memang agak tinggi walaupun porsinya tidak besar. Impor kita secara keseluruhan memang pertumbuhannya tinggi dari Januari 20% hingga 21% year to date, ekspornya hanya 8%,” jelasnya hari ini.

Menurut Darmin pemerintah saat ini sedang berupaya untuk menyelesaikan defisit neraca perdagangan melalui impor maupun ekspor.

“Oleh karena itu juga di Istana dialog dengan presiden, fokus kita mendorong supaya neraca perdagangan cepat selesai, ya itu nggak bisa dipilih-pilih nggak bisa satu-satunya impor atau ekspor tapi harus keduanya,” sambungnya.

“Iya dengan peningkatan ekspor tapi impor konsumsi mungkin ada yang bisa lebih di rasionalisir walaupun bahan baku dan bahan penolong mestinya tidak diganggu-ganggu karena itu akan memengaruhi pertumbuhan,” jelasnya.

Sementara itu, ia mengatakan penyelesaian tersebut akan dilakukan sesegera mungkin. Pasalnya, hal tersebut berkaitan dengan situasi keuangan global.

“Kita tidak mau berlama-lama, segera selesai, kalau tidak dalam situasi ancam-mengancam perang dagang kita akan terpengaruh. Di mana keuangan global pasti terpengaruh kita akan tertekan lebih banyak sudah terpengaruh oleh Amerika Serikat menaikkan tingkat bunga kemudian ada lagi persoalan neraca perdagangan yang defisit,” tutupnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berpendapa jika perekonomian ingin maju dan di sisi lain, defisit neraca bisa terjaga, perlu diperkuat kebijakan-kebijakan yang mendukung ekspor, industri yang mensubstitusi impor.

“Kita juga membahas apa respons secara bersama dari sektor ril seperti Menko Perekonomian, dari kami dari sisi apakah intensif, apakah kemudahan, apakah itu dari perpajakan, dari bea cukai, kepabeanan dan juga dari makro prudentialnya Bank Indonesia serta makro prudential policy-nya di OJK. Ini nanti akan kita terus follow up untuk bisa secara konkret untuk bisa memperbaiki kondisi,” tutur Sri Mulyani usai mendiskusikan APBN dengan Presiden Jokowi.

Peneliti Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menyatakan defisit terjadi karena besarnya impor dipengaruhi pelemahan kurs rupiah, serta membengkaknya defisit migas.

Dia mengemukakan, indikator dampak kurs rupiah terhadap impor tercermin dari harga rata-rata barang impor nonmigas turun 2,5% (mtm) dari US$1.290 per ton menjadi US$1.258 per ton.  Namun, nilai impornya justru naik signifikan. Artinya nilai impor bengkak karena selisih kurs rupiah dan dolar.

Sementara bulan Mei,  menjelang Lebaran, permintaan konsumsi BBM yang naik membuat defisit migas menjadi US$1,2 miliar jauh melebihi defisit periode yang sama tahun 2017 yakni US$497. Tekanan harga minyak yang mahal diprediksi memperburuk neraca migas hingga akhir tahun.

Dari sisi ekspor dampak perang dagang mulai dirasakan pada komoditas ekspor unggulan. Ekspor CPO minus 2,53% dibanding bulan april. Disusul karet -3,57%.

Padahal kedua komoditas tersebut berkontribusi sebesar 16,4% dari total ekspor nonmigas.

Ekonomi tak sehat

Jika mencermati defisit perdagangan yang dialami Indonesia merupakan defisit terparah sejak 2014. Mengapa demikian? Transaksi berjalan juga defisit -2,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), pertumbuhan ekonomi stagnan di 5%, konsumsi rumah tangga juga stagnan di 4,95%. Ini menunjukan ekonomi tidak sehat.

Defisit neraca perdagangan membengkak terutama disebabkan karena impor migas sepanjang Januari-April 2018 menjadi US$9 miliar, lebih tinggi 700 juta dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Impor migas tumbuh 40,8% (yoy) terkait efek kenaikan harga minyak mentah dunia.

Sedangkan impor bahan baku dan impor barang modal yang naik, Bhima berpendapat, lebih disebabkan oleh kebutuhan proyek infrastruktur pemerintah bukan karena kebutuhan industri manufaktur.

“Infrastruktur itu juga bukan dari investasi kan, tapi utang. Ini sebenarnya tidak sehat,” demikian Bhima.

Sementara itu, Bhima melihat paket-paket kebijakan ekonomi yang dibuat pemerintah tidak efektif mendorong sektor industri. Respons kebijakan moneter juga menurutnya sangat lambat, karena bunga acuan BI 7 Day Repo Rate tidak dinaikkan.

“Kondisi ini tentunya tidak sehat bagi perekonomian. Meningkatnya impor membuat permintaan dolar naik signifikan. Akibatnya rupiah diprediksi terus melanjutkan pelemahan hingga Juni,” ujar Bhima.

Bhima memperkirakan nilai tukar rupiah dapat mencapai lebih dari Rp14 ribu per dolar AS pada akhir tahun. Rupiah tercatat sudah menembus Rp14 ribu per dolar AS sejak 8 Mei 2018, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia.

“Rupiah masih belum bisa ditopang sentimen dalam negeri. Ini akan menyebabkan cadangan devisa terus tergerus. Dari awal tahun sudah tergerus US$7 miliar,” ungkap Bhima.

Itu sebabnya pemerintah dan BI harus mengambil langkah-langkah nyata guna menekan defisit perdagangan agar tidak membengkak. Setidaknya ada tiga langkah strategis yang bisa diambil, pertama, mendorong ekspor, menggenjot investasi investasi asing langsung (foreign direct investment–FDI) serta investasi portofolio.

Pengingkatan FDI akan menjadi fokus utama pemerintah, karena mengurangi defisit.

Kedua, menahan impor bahan baku untuk menciptakan industri di dalam negeri yang berbasis bahan lokal. Pemerintah perlu memberikan tax holiday guna bagi produsen berbasis bahan bakar lokal.

Ketiga, adalah menjaga bahan-bahan yang bersifat konsumtif. Jangan sampai bangsa ini menjadi sangat konsumtif untuk barang-barang impor, otomatis bangsa ini harus bekerja keras. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here