Pemerintah Tak Boleh Gentar Hadapi Gertak Sambal Freeport

0
539

Nusantara.news, Jakarta – Upaya hukum yang dilakukan Freeport terhadap pemerintah Indonesia adalah strategi kuno untuk meningkatkan posisi tawar. Pemerintah tak boleh tunduk dan mengendurkan sikapnya.

Demikian bunyi siaran pers yang diterima nusantara.news dari Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice (IGJ) Rachmi Hertanti, Senin (20/2) malam kemarin. Oleh karenanya Rachmi mendesak pemerintah Indonesia tidak menghiraukan ancaman gugatan Freeport dan terus konsisten dalam mengimplementasikan amanat Undang-undang No.4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara.

“Jangan sampai pengalaman gugatan Newmont pada 2014 terulang lagi. Newmont menggugat Pemerintah Indonesia ke ICSID untuk meningkatkan posisi tawarnya. Dan terbukti, setelah Newmont mencabut gugatannya pada 25 Agustus 2014, kemudian Pemerintah Indonesia mengeluarkan izin ekspor untuk Newmont terhitung sejak 18 September 2014 hingga 18 Maret 2015”, pinta Rachmi.
Gugatan Freeport, lanjut Rachmi, nantinya hanya akan menambah daftar panjang pengalaman Indonesia atas gugatan Investor terhadap Negara atau yang dikenal dengan istilah Investor-State Dispute Settlement (ISDS). Berdasarkan Kontrak Karya, mekanisme penyelesaian sengketa yang dipilih adalah melalui UNCITRAL (United Nations Commission on International Trade Law). Sejauh ini, 60% dari gugatan ISDS terhadap Indonesia ada di sektor tambang.
Dalam pandangan IGJ, Indonesia adalah satu-satunya Negara di kawasan ASEAN yang konsisten menolak ISDS. Penolakan ini didasari atas dampak ISDS terhadap hilangnya ruang kebijakan (policy space) Negara.
“Apalagi, ‘chilling effect’ yang ada pada mekanisme ISDS secara tidak langsung telah menjadi alat oleh korporasi multinasional untuk memberikan kekebalan hukum atas pelanggaran terhadap undang-undang dan peraturan nasional. Pemerintah Indonesia harus konsisten dengan posisinya menolak ISDS, khususnya dalam kasus Freeport,”terang Rachmi.
Maka Rachmi tegas menandaskan, ini bukan soal Pemerintah Indonesia wanprestasi atas pelaksanaan isi Kontrak Karya. “Tetapi, memang Freeport enggan menjalankan UU Minerba dan menggunakan mekanisme ISDS untuk menghindar dari kewajibannya. Untuk itu, Pemerintah jangan mau tunduk pada gugatan Freeport dan terus paksa Freeport untuk tunduk pada aturan UU Minerba,” tuding Rachmi.
Sebagaimana diketahui, dengan berlakunya UU Minerba, maka seluruh bentuk Kontrak Karya dan Perjanjian Karya harus segera diubah menjadi IUP atau IUPK setelah habis masa waktunya dan melakukan penyesuaian isi perjanjian atau kontrak dengan ketentuan UU Minerba paling lambat 1 tahun setelah UU Minerba berlaku.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here