Pemerintah Telantarkan Industri Semen Lokal 

1
75
Akibat ditelantarkan pemerintah, 30 juta ton semen lokal tak terserap di pasar. Padahal pemerintah sedang sibuk-sibuknya membangun proyek infrasrtuktur, mengapa malah membuat semen produk China yang dominan di pasar?

Nusantara.news, Jakarta – Pembangunan infrastruktur jalan, tol, bandara, pelabuhan, rel kereta api, pembangkit, dan lainnya telah dicanangkan Presiden Jokowi sejak 2015 dan memakan biaya hingga Rp5.500 triliun. Fantastis.

Logikanya, seiring dengan pembangunan infrastruktur yang megah tersebut, industri semen lokal harusnya makmur karena mendapat kue bisnis mensuplai semen sebanyak-banyaknya pada pembangunan infrastruktur.

Alih-alih mendapat untung, justru malah buntung. Mengapa? Adakah pemeirntah pusat telah menelantarkan industri semen nasional?

Kebijakan Presiden Jokowi untuk membangun infrastruktur besar-besaran, semestinya bisa mendongkrak permintaan komoditas semen nasional. Namun, realisasi di pasat ternyata tak sesuai harapan.

Seperti yang diungkap oleh Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno.

“Saya dapat laporan pasar semen nasional ada masalah. Buktinya ada 30 juta ton semen tak terserap pasar, tapi itu takkan lama, pemerintah konsen pada pertumbuhan industri dalam negeri, ” kata Irwan di Padang baru-baru ini. 

Dampak ini dikhawatirkan akan merembet ke perusahaan semen lokal, seperti Semen Padang. Meski saat ini kinerja Semen Padang masih tergolong aman, namun Irwan berharap pasar tetap dijaga oleh pemerintah.

Ia yakin pemerintah punya kepedulian tinggi dan menjaga agar produksi semen BUMN, yakni Semen Indonesia Group dan Semen Baturaja tetap stabil.

“Yang paling penting tentu pasarnya dijaga, kita di daerah terus melakukannya,” kata Irwan.

Komisaris Semen Padang, anak perusahaan Semen Indonesia (SI), Khairul Jasmi, menyebut serbuan pabrik semen asing benar-benar merampas pasar semen milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Apalagi kemudian ada kebijakan impor semen dan klinker. Ini menurut dia tidak baik.

“Bagi kami di Sumbar, Semen Padang harus sehat dan kinerjanya terus menanjak. Sumbar peduli dengan BUMN ini dan Semen Indonesia pasti berbuat yang sama,” kata Irwan.

Irwan yakin pemerintah sudah mencatat dengan baik keluhan semen BUMN yang kehilangan pasarnya. “Apalagi Pak Jokowi giat-giatnya membangun infrastruktur. Kalau tol Padang–Pekanbaru tentu memakai Semen Padang karena ini produksi lokal yang bekerja anak negeri,” tambahnya
.

Kinerja cukup baik
Laba PT Semen Padang pada 2017 turun dari laba 2016 yang Rp723 miliar, namun kinerja tersebut masih cukup baik dibandingkan rata-rata industri semen nasional. 

Untuk 2018, manajemen optimistis bisa lebih baik lagi. Ini didukung fakta kinerja dalam group SI lebih baik.

Momentum ini harusnya perlu dijaga oleh semua pihak agar gerak ke arah yang sudah baik tidak terganggu oleh hal-hal yang tidak perlu.

Direktur Utama Semen Padang Yosviandri mengatakan kinerja perseroan dibanding rerata industri semen nasional masih relatif bagus. Sebagai market leader di Sumatera, Semen Padang fokus menjaga pasarnya di sana. Saat ini kita memulai fokus dan tajam ke pasar Sumatera sebagai rumah sendiri.

Industri semen lokal tersungkur

Pada sisi lain, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, selaku induk dari PT Semen Padang, diketahui mengerem ekspansi karena industri semen dalam negeri belum stabil.

Direktur Utama Semen Indonesia Hendi Prio Santoso mengatakan suplai semen di dalam negeri saat ini terlalu berlebih (over supply) sehingga pabrik juga membatasi produksi dan menyebabkan kapasitas terpasang menjadi berlebih (over capacity).

Dia mengatakan perseroan tidak akan melakukan ekspansi ke luar negeri serta tidak ada rencana untuk akuisisi perusahaan.  “Kita hold dulu sih, itu sama di semen aja. Kita menunda karena over capacity kalau dipaksakan akan menambah beban,” ujar Hendi belum lama ini. 
 

Hendy mengatakan akibat over supply tersebut harga semen nasional masih belum pulih. Meski harga belum pulih, Hendi berharap volume penjualan dapat meningkat. 

Penjualan semen sepanjang tahun lalu tercatat 66,38 juta ton atau naik 7,68% dibandingkan dengan 2016 sebanyak 61,64 juta ton.

Buka keran ekspor

Sebenarnya keluhan industri semen nasional itu tak perlu terjadi menurut pemerintah. Karena itu pemerintah mendorong pelaku industri semen dalam negeri untuk membuka pasar ekspor seluas-luasnya.

Upaya tersebut perlu dilakukan untuk meringankan kondisi perusahaan semen yang tertekan karena kelebihan pasokan (oversupply) semen dalam negeri yang saat ini  mencapai 41 juta ton. Berbeda dengan data Gubernus Sumbar yang mengatakan oversupply 30 juta ton.

“Kita dorong untuk ekspor. Ini kan berarti daya saing industri semen kita cukup kompetitif,” ujar Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono.

Sebelumnya, Direktur PT Conch Cement Indonesia, Wang Hai Qing mengatakan pihaknya sudah menyiapkan pasar ekspor ke Filipina dan Papua New Guinea, dengan ekspor ke PNG sekitar 120 ribu ton.
 

“Kami ekspor sekitar 10% dari kapasitas produksi pabrik kami yang berlokasi di Papua. Pabrik lain belum ada yang ekspor. Kapasitas produksi di Papua itu 1,2 juta ton per tahun,” jelas Wang.

Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia jumlah kapasitas terpasang produksi semen di Indonesia hingga kuartal I 2018 mencapai 107,4 juta ton. Sementara total kebutuhan nasional mencapai 66,35 juta ton. Artinya ada kelebihan pasokan sekitar 41,05 juta ton.

Sepanjang tahun 2017, volume ekspor semen Indonesia hanya sekitar 3,41 juta ton, atau hanya sekitar 3% dari kapasitas terpasang produksi nasional di tahun 2017. Lima besar tujuan utama Indonesia adalah Sri Lanka, Australia, Bangladesh, Filipina, dan Timor Leste.

Salah satu negara tujuan yang bisa diprospek adalah Singapura, yang menjadi salah satu importir semen terbesar di dunia pada tahun 2016, dengan volume impor mencapai 5,09 juta ton. 

Sebagai informasi, Indonesia hanya mengekspor semen ke Singapura sebanyak 311 ton pada tahun 2017.

Persoalannya, sebagaimana sudah menjadi pengetahuan umum di industri semen, pasar ekspor semen memang besar. Tapi biaya angkut semen ke negara tujuan ekspor masih terlalu mahal, sehingga mengembangkan pasar ekspor semen tidaklah menarik secara bisnis.

Apa yang dilakukan PT Semen Indonesia Tbk untuk memenuhi kebutuhan pasar di Myanmar, Vietnam dan China, dengan mengakuisisi semen lokal di Vietnam, yakni Thang Long Cement seharga US$200 juta. Langkah ini efektif untuk ekspansi bisnis PT Semen Indonsia Tbk, sekaligus untuk menginternasionalisasi bisnis semen.

Namun anehnya kebutuhan semen yang begitu besar pada proyek infrasrtuktur nasional, mengapa kerannya dibuka lebar kepada sejumlah perusahaan semen China. Harusnya pemerintah melindungi keberadaan industri semen lokal dengan memberi prioritas penyuplai utama pembangunan infrastruktur.

Keanehan-keanehan kebijakan pemerintah seperti ini memang harus disudahi, karena menelantarkan industri semen lokal, disaat kecenderungan di dunia melindungi produk sendiri, sungguh sangat keterlaluan.[]

 

 

 

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here