Pemilu DPR dan Senat AS akan Dikacaukan Rusia

0
42
Trump dan Cover Buku "Fire and Fury"yang menyebutnya dia gila. Kini nasib Trump bergantung kepada Pemilu Sela November 2018 yang diwaspadai CIA akan disusupi Rusia seperti Pilpres AS yang memenangkan Trump

Nusantara.news, Washington – Pemilu sela pada November 2018 yang memilih seluruh anggota DPR Amerika Serikat (AS) dan sepertiga anggota Senat AS akan dikacaukan oleh Rusia. Demikian pernyataan Direktur Badan Sandi Negara AS (CIA/Central Intelligence Agency) Mike Pompeo kepada wartawan, Minggu (7/1) kemarin lusa.

Sebelumnya CIA telah menyimpulkan, Rusia telah mencampuri Pemilihan Presiden AS 2016 untuk membantu pemenangan Presiden Donald Trump. Keterlibatan Rusia itu dilakukan melalui peretasan email pribadi milik Calon Presiden AS Hillary Clinton dan menyebarluaskan ke sejumlah media sosial. Sejauh ini Facebook dan Google yang melakukan penyidikan internal membenarkan adanya dugaan itu.

Direktur CIA Mike Pompeo dalam acara “Face of Nation” yang ditayangkan stasiun televisi CBS di New York, menyebutkan intervensi Rusia itu sudah berlangsung sejak lama dan akan terus berlanjut. “Ya, saya masih khawatir tidak hanya tentang orang Rusia, tapi juga upaya pihak lain. Kami memiliki banyak musuh, yang ingin merusak demokrasi Barat,” tuding Mike Pompeo.

Secara resmi Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyangkal keterlibatannya dalam pemenangan Donald Trump pada Pemilu Presiden 2016 lalu. Namun AS sendiri hingga kini masih melakukan penyelidikan atas skandal itu yang dipimpin langsung oleh Penasehat Khusus AS Robert Mueller.

Dua rekan Trump, masing-masing mantan penasihat keamanan nasional Michael Flynn dan ajudan kampanye George Papadopoulos telah mengaku bersalah berbohong kepada agen biro federal sandi negara AS (FBI) dalam penyelidikan itu. Namun Trump dengan tegas menyangkal adanya persekongkolan kampanye yang melibatkan Rusia.

Terkait hal ini, pernyataan Trump terkesan ambigu (mendua). Di satu sisi dia membenarkan penilaian CIA yang menyebutkan Rusia berusaha untuk ikut campur dalam Pemilihan Presiden AS, namun di sisi lain dia mendukung penyangkalan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin yang menyatakan tidak ikut campur dalam Pilpres AS yang kontroversial dengan hasil yang mengejutkan sejumlah kalangan itu.

Kepala Penasehat Keamanan Nasional Kepresidenan Jenderal HR McMaster justru menuding isu keterlibatan Rusia sengaja disebarkan oleh Rusia sebagai bagian dari kampanye subversive yang canggih untuk melumpuhkan demokrasi. Rusia ditudingnya sengaja menggunakan propaganda dan disinformasi terhadap demokrasi. Maka McMaster pun mengingatkan, dugaan campur tangan Rusia dalam Pemilihan Presiden AS pasti merupakan ancaman bagi keamanan nasional.

Terlebih, lanjut McMaster, kebijakan keamanan nasional di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump tegas mengatakan sebagai kekuatan saingan Rusia dan China. “Kita harus melihat apa yang sebenarnya dilakukan oleh Rusia. Tentu saja kita harus melawan perilaku destabilisasi Rusia, dan kampanye propaganda dan disinformasi yang canggih,” bebernya kepada wartawan BBC pada pertengahan Desember lalu.

Lebih lanjut McMaster menyebut isu tentang keterlibatan Rusia dalam Pilpres AS adalah usaha untuk memecah belah masyarakat AS dan mengadu domba mereka satu dengan yang lainnya. Terutama di negara-negara demokratis dan masyarakat terbuka seperti negaranya. Isu itu juga hendak melemahkan kehendak kebanyakan orang Amerika dan tekad kami orang Amerika.

“Saya percaya bahwa Rusia terlibat dalam kampanye subversi yang sangat canggih untuk mempengaruhi kepercayaan kita terhadap institusi demokratis, dalam proses demokrasi – termasuk pemilihan umum,” tandas McMaster.

Trump dan pejabatnya boleh saja menyangkal. Namun paling tidak sudah ada 2 orang anggota dari Tim Kampanye Trump yang didakwa secara resmi melakukan 12 kasus kejahatan termasuk di antaranya tindak pidana pencucian uang (TPPU). Satu orang lagi sedang menghadapi proses penyelidikan serius yang hingga kini terus berproses.  Jadi semuanya ada 3 orang.

Ketiga orang dekat Trump masing-masing Paul Manafort selaku mantan Manajer Kampanye Presiden Donald Trump, Rick Gates yang juga rekan bisnis Trump dan George Papadopoulos. Bahkan George yang keturunan Yunani itu pada awal Oktober lalu mengaku bersalah karena telah berbohong kepada petugas Biro Penyidik Federal (FBI/Federal Bureau Investigation).

Namun dari ketiga orang dekat Trump itu, hanya Manafort dan Gates yang menghadapi sidang dakwaan di Pengadilan Washington, pada akhir Oktober lalu.  Diseretnya kedua terdakwa itu menjadi berita heboh di AS. Sejumlah media cetak besar menuliskan laporan itu di halaman depan.

Penyelidik Khusus itu langsung dipimpin oleh Pengacara Khusus Departemen Kehakiman AS Robert Mueller yang menggali berbagai sumber tentang dugaan keterlibatan Rusia dalam mengarahkan orientasi Pemilu AS untuk pemenangan Trump. Selain melacak media sosial, Mueller juga mendalami serangkaian pertemuan dan kejadian di Gedung Putih.

Kebijakan politik luar negeri AS, khususnya yang terkait dengan kepentingan Rusia di Timur Tengah, Semenanjung Korea dan Eropa Timur, tersandera oleh dugaan keterlibatan Rusia yang membantu pemenangannya. Sebut saja AS dibuat frustrasi dalam menghadapi persoalan Suriah dan Ukrania, bahkan mendapatkan gangguan yang berarti dalam upayanya mengucilkan Korea Utara.

Namun Pompeo mengatakan kepada CBS bahwa CIA memiliki fungsi penting sebagai bagian dari tim keamanan nasional untuk menjaga Pemilu AS tetap aman dan demokratis. “Kami bekerja keras untuk melakukan itu, jadi kita akan bekerja untuk melawan Rusia atau pihak lain yang mengancam hasil itu,” katanya.

Sejauh ini Trump bisa aman dari pemakzulan karena Kongres masih dikuasai oleh Republik. Maka tidak mengherankan apabila Trump berkepentingan langsung menjaga dominasi Partai Republik di Kongres dan oleh karenanya, dia pun dijadwalkan terjun langsung dalam upaya memenangkan calon-calon DPR dan Senat dari partainya.

Grand old party (GOP), sebutan lain dari Partai Republik, sekarang ini menguasai lebih dari separo anggota DPR AS, dan 32 di antara 50 anggota Senat. Dari 50 jabatan Gubernur negara bagian tercatat 34 gubernur dari GOP.

Terakhir kali, seiring dengan persetujuan GOP terhadap RUU pemotongan pajak membuat partai pendukung Trump ini terancam kehilangan kursi di sejumlah negara bagian. Kalau GOP kehilangan suara mayoritasnya, bukannya tidak mungkin Trump yang disebut gila oleh penulis buku “Fire and Fury” Michael Wolff terancam pemakzulan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here