Pemilu Iran, Pertarungan Nasionalis dan Globalis

1
43
Seorang anak perempuan memegang poster calon presiden Iran Ebrahim Raisi dalam sebuah reli kampanye di Teheran, Iran, Rabu (17/5). Foto diambil tanggal 17 Mei 2017. ANTARA FOTO/TIMA via REUTERS

Nusantara.news, Teheran – Masyarakat Iran melaksanakan pemilihan presiden yang dilangsungkan Jumat, 19 Mei 2017. Seperti kebanyakan pemilu yang terjadi di Amerika dan Eropa, pemilu Iran digambarkan sebagai pertarungan antara dua tokoh globalis dan nasionalis, bahkan ada pula yang menggambarkannya sebagai pertarungan tokoh populis dan establish. Keduanya adalah ulama Syiah dan pembela setia gagasan pemerintahan Islam yang diperintah oleh ulama.

Calon presiden petahana, Hassan Rouhani yang berasal dari kelompok moderat dianggap sebagai globalis atau (kelompok establish). Dia dulu didukung oleh kubu reformis Iran, dan dalam jajak pendapat di negara tersebut diprediksi bakal memenangi pemilu kali ini, lebih-lebih dalam sejarah pemilu Iran, belum pernah ada petahana yang kalah. Rouhani dianggap sebagai sosok yang lebih kooperatif dengan dunia Barat. Penanda tangan kesepakatan nuklir dengan AS (Presiden Barrack Obama) pada 2015 ini, dianggap mampu membawa Iran pada perbaikan perekonomian.

Kesepakatan nuklir yang ditanda tangani Rouhani dianggap telah membuka pintu bagi peluang ekonomi, membawa Iran keluar dari keterpencilan dan telah menciptakan jutaan lapangan kerja bagi warga Iran.

Kesepakatan nuklir yang membebaskan Iran dari sanksi sebelumnya, telah membawa serangkaian transaksi bernilai jutaan dolar dengan perusahaan-perusahaan Barat, misalnya untuk pesawat terbang dan eksplorasi minyak di Iran.

Menurut data CIA World Factbook, pada tahun 2016 pertumbuhan PDB Iran mencapai 4,5%, naik dibanding tahun sebelumnya, 2015 (0,4%). Sebelum Rouhani menjabat sebanyak 15,5% warga negara Iran menganggur, tapi tahun 2016 pengangguran di Iran menurun di angka 10,7%.

Ketika sanksi nuklir mencapai puncaknya, antara tahun 2011-2014 pendapatan orang Iran turun lebih dari 20%, rata-rata lebih dari USD 5,300. Sementara, harga barang-barang dasar melejit dan ekonomi mengalami masa hiper-inflasi. Sanksi bagi Iran telah menelan biaya sekitar USD 50 miliar untuk pendapatan yang hilang setiap tahunnya. Namun, keuntungan tersebut kini juga sebagian besar tergerus oleh turunnya harga minyak dunia.

Meski terbilang sukses, pada pemilu kali ini Rouhani akan dihadapkan pada kenyataan, bahwa presiden AS bukan Obama lagi. Presiden AS sekarang, Donald Trump, sangat menentang kesepakatan nuklir AS-Iran yang dilakukan di era Obama. Ini juga yang membuat kekhawatiran orang Iran terhadap masa depan pandangan globalis Rouhani. Selain, sebagian warga Iran kelas menengah-bawah juga banyak yang tidak merasakan manfaat dari kesepakatan nuklir yang dilakukan pemerintah Rouhani.

Di sisi lain, lawan terkuat Rouhani adalah Ebrahim Raisi dari kelompok garis keras. Raisi merupakan kandidat yang mendapat dukungan dari pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang juga ragu dengan manfaat kesepakatan nuklir besutan Rouhani, meski dulu dia ikut menyetujuinya. Raisi merupakan mantan jaksa yang juga mantan anggota “Komisi Kematian” yang pernah memimpin eksekusi ribuan tahanan politik pada tahun 1988.

Sebuah hasil jajak pendapat baru-baru ini di Iran menyebutkan Raisi berada di posisi kedua dalam perebutan kursi kepresidenan dengan perolehan 27% suara.

Jajak pendapat yang sama oleh Badan Pemasyarakatan Mahasiswa Iran memprediksi bahwa presiden incumbent, Hassan Rouhani, akan mendapatkan suara sekitar 42%, tergantung pada jumlah pemilih yang datang di hari Jumat.

Raisi sebagai nasionalis dan anti-Barat mengkritik kesepakatan nuklir yang dilakukan pemerintah Rouhani. Dia mengatakan pada Rabu lalu, kesepakatan tersebut adalah langkah dimana pemerintah telah melemahkan potensi defensifnya, yaitu misil untuk mencegah perang.

Raisi juga menegaskan bahwa solusi untuk masalah Iran harus ditemukan “di dalam negeri” bukan dengan Barat, dan salah satu alasan utama Iran stabil dan aman adalah dukungan militernya untuk pejuang Syiah di Irak dan Suriah.

“Satu-satunya sikap untuk memecahkan masalah adalah semangat revolusioner,” kata Raisi dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah.

Namun, para ekonom liberal Iran menolak gagasan Raisi sebagai sesuatu yang aneh dan berbahaya. “Kebijakan ekonomi dan sosialnya seperti yang terjadi pada mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad: bencana,” kata Saeed Laylaz, ekonom yang dekat dengan Presiden Rouhani.

“Perusahaan asing mana yang akan berinvestasi di Iran jika dia menjadi presiden?” katanya sebagaimana dilansir New York Times (17/5).

Selain dari pemimpin besar Iran, Khamenei, Raisi juga mendapat dukungan dari pasukan keamanan Iran, termasuk Korps Garda Revolusioner yang kuat dan anggota pasukan paramiliter basij karena dianggap sangat menolak ideologi Barat.

Sebagaimana dilansir The New York Times pengamat politik Carol Morello mencatat bahwa jika Rouhani memenangkan pemilu kembali, dia akan disambut oleh kalangan Eropa yang menginginkan lebih banyak berbisnis dengan Teheran, juga kalangan yang tidak setuju dengan penjatuhan sanksi nuklir terhadap Iran.

Namun jika Raisi menang, baik Iran maupun AS dipimpin oleh seorang presiden yang menganggap kesepakatan nuklir yang pernah dilakukan itu buruk, dan mereka akan dan cenderung menggunakan kekuatan militer ketimbang diplomasi non-militer.

“Dalam hal ini, kesepakatan nuklir (Iran-AS) mungkin akan memiliki masa hidup yang pendek,” kata Morello.

Menurut pengamat lain, Karim Sadjadpour dari Carnegie Endowment for International Peace, jika Rouhani menang, tidak akan mengubah persepsi mereka (Barat) tentang Iran.

“Tapi jika Raisi menang, membuat mereka lebih mudah untuk menggambarkan Iran sebagai aktor jahat di wilayah ini,” katanya.

Elliott Abrams, seorang mantan pejabat keamanan nasional AS era presiden George W. Bush dan Ronald Reagan, mengatakan bahwa Raisi adalah wajah sejati Republik Islam, sementara Rouhani sebaliknya.”

Demokrasi Iran

Dalam demokrasi Iran, presiden dan parlemen Iran dipilih secara demokratis, namun otoritas tertinggi negara tersebut adalah seorang ‘Pemimpin Tertinggi’ yang ditunjuk karena sejarah masa lalu, dia memiliki keputusan akhir mengenai semua masalah kebijakan luar negeri dan dalam negeri.

Pemimpin Tertinggi Iran saat ini adalah Ayatollah Ali Khamenei, yang juga ikut menunjuk Dewan Pelindung, lembaga konservatif yang ditunjuk untuk memutuskan siapa saja yang boleh mencalonkan diri sebagai presiden dan siapa yang tidak. Banyak kandidat reformis Iran didiskualifikasi dari pemilihan oleh lembaga ini.

Dalam sistem Iran, walaupun ada Pemimpin Tertinggi, presiden memiliki kelonggaran yang cukup besar untuk memberlakukan kebijakan dalam dan luar negeri, dengan menunjuk ribuan pejabat di negara tersebut dan membangun basis kekuatan signifikan. Hal ini memungkinkan presiden mengarahkan rezim pemerintahan ke arah yang tidak terduga, seperti kesepakatan nuklir Rouhani. Meskipun semuanya melalui persetujuan Pemimpin Tertinggi.

Pemilu Iran berlangsung dua putaran, jika pada putaran pertama tidak ada kandidat yang mendapat suara lebih dari 50%. Pemilu putaran kedua akan berlangsung pada 26 Mei mendatang.

Sebetulnya, ada lima calon presiden dalam pemilu Iran tahun ini, namun hanya dua yang dipandang sebagai kandidat terkuat: incumbent Hassan Rouhani dan Ebrahim Raisi.

Meski Rouhani diperkirakan menang, tapi pemilu Iran sulit diprediksi. Pada pemilu tahun 2013, Rouhani sendiri belum diperhitungkan dua minggu menjelang pemilu, namun suara tokoh moderat ini melonjak tajam dan memenangi pemilu setelah kaum reformis terkemuka meminta konstituen mereka untuk mendukungnya.

Pada pemilu Iran kali ini, pertanyaan utamanya adalah: apakah orang Iran masih suka dengan agenda moderat Rouhani? Atau apakah mereka telah bersedia memilih presiden konservatif yang bisa mengembalikan marwah Iran di mata Barat, meski harus mengisolasi Iran dari dunia luar.

Apapun, warga Iran akan memilih pemimpin negaranya pada hari Jumat, yang dapat memiliki implikasi serius bagi masa depan negara mereka, dan hubungannya dengan Barat. Kita tunggu. []

1 KOMENTAR

  1. I must say you have very interesting content here.
    Your content can go viral. You need initial boost only.

    How to get massive traffic? Search for: Murgrabia’s tools go viral

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here