Pemimpin Perempuan Malang Raya dari Zaman Kerajaan Hingga ke Zaman ‘Millenial’

0
281
Ilustrasi Pemimpin Wanita (Sumber: Virals Linimasa)

Nusantara.news, Kota Malang – Kehidupan di zaman kerajaan, tidak terlalu jauh beda dengan zaman sekarang. Penerapan sistem kerajaan bak ibarat sistem pemerintahan di masa sekarang. Hanya saja cara dan praktiknya dalam menjalankan sebuah pemerintahan tersebut yang berbeda.

Jika dahulu, dengan sosok patronisme para raja serta politik keluarga dan keturunan yang akan menjadi turunan ras atau kasta kerajaaan. Kini berkembangnya teori demkrasi yang akan memilih pemimpin langsung dari rakyat.

Namun yang tidak bisa lepas dan hilang adalah dalam menjalankan politik pemerintahan, tetap dengan sistim musyawarah, atau berkomunikasi dengan beberapa ahli kerajaan sebagai pertimbangan dalam memutuskan suatu kebijakan. Juga tidak banyak yang mengambil keputusan sendiri.

Di Malang Raya, dalam sejarah dituliskan merupakan suatu kawasan wilayah pusat Kerajaan Gajayana dan Kerajaan Singosari. Dua kerajaan tersebut merupakan cikal bakal dari berdirinya Kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan terbesar salah satu pencetus Nusantara II.

Sejarahwan Kota Malang, Dwi Cahyono menjelaskan bahwa ada beberapa sosok wanita yang berpengaruh dalam kerajaan. Meskipun secara simbolik bukan menjadi kepala kerajaan.

“Sejarah pernah mencatat sejumlah sosok jawara perempuan pemimpin di Malang Raya, justru berkat perempuan tersebut menjadi pengaruh besar dan kuatnya kerajaan,” jelas dia.

Dijelaskan, Dwi terkait beberapa sosok perempuan pemimpin yang berpengaruh di masa kerajaan terdahulu.

Sosok Perempuan Berpengaruh di Malang Raya pada Masa Kerajaan

Ken Dedes

Jauh sebelum era kekuasaan Majapahit, yakni era Kerajaan Singhasari rentang waktu 1222 Masehi, terdapat sosok perempuan tangguh yang dianggap sebagai leluhur raja-raja yang berkuasa di Jawa versi Kitab Pararaton. Selain itu, Ken Dedes juga disebut sebagai ibu para raja di jawa, ibu pararaton. Beliau yang melahirkan raja-raja dijawa, hingga menyambung sampai keturunan Kerajaan Majapahit pula.

Arca Perwujudan Ken Dedes

Perempuan yang digambarkan sebagai wanita nareswari (utama) yakni bernama Ken Dedes, seorang istri dari pendiri Kerajaan Singhasari, yaitu Ken Arok. Meski sosok Ken Dedes tidak memimpin kekuasaan secara formal, namun sosoknya dianggap sangat berpengaruh selama konstelasi pemerintahan Singhasari dan selanjutnya.

Ken Dedes juga menjadi saah satu asal usul pendirian Kerajaan Singhasari yang sebelumnya wilayah Kerajaan Singhasari merupakan salah satu Negara bagian dari Kerajaan Kediri. Selain itu, Ken Dedes pula penyebab dari pertumpahan darah yang terjadi di Kerajaan Singhasari, karena motif balas dendam.

Dyah Kusumawardhani

Dyah Kusumawardhani merupakan seorang putri pasangan maharaja Majapahit Sri Rajasa Nagara dyah Hayam Wuruk dengan permaisuri Sri Sudewi atau Paduka Sori atau Trubhuawana Tunggadewi. Sejarah mencatat baik tekstual atau sastra kuno dan prasasti, Dyah Kusumawardhani digelari dengan nama ‘Bhre Kabalan’ atau ‘Bathara I Kabalan’, sebutan bagi para penguasa kerajaan vasal (bagian).

Dyah Kusumardhani dipercaya memegang komando sebagai raja di kerajaan bagian Majapahit, tepatnya di Nagari Kabalan yang sekarang berada di Dusun Kebalon di wilayah, lereng barat gunung, Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang Kota Malang.

Sosok perempuan yang digambarkan Prasati Waringin Pitu (1447) sebagai perempuan tangguh nan cantik jelita ini, diketahui Dyah Kusumawardhani memegang kekuasaan dalam rentang waktu yang cukup lama, antara tahun 1352-1389 Masehi.

Setelah menjadi ratu di keraton Nagari Kabalan, Kusumawardhani pernah diangkat sebagai ratu Lasem dikenal dalam serat Pararaton sebagai Ratu Lasem Sang Ahayu. Kusumawardhani juga pernah menjadi maharani atau ratu kerajaan Majapahit menggantikan kedudukan suaminya.

Dyah Mahamishi

Tetap di Nagari Kabalan, pada zaman kerajaan Majapahit, tepatnya kini Dusun Kebalon di wilayah lereng barat gunung, Kelurahaan Buring, Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Sekitar rentang tahun 1441-1447 itu, terjadi pergantian pemegang kekuasaan.

Nagari Kabalan yang semula dipimpin Dyah Kusumawardhani, digantikan juga oleh pemimpin bersosok perempuan yaitu bernama Dyah Mahamishi. Namun sayang, terkait silsilah dan sosoknya tidak banyak diberitakan dalam teks-teks kuno.

“Ceritanya tidak banyak diketahui. Keberadaan sosoknya hanya diberitakan secara tersirat dalam Prasasti Waringin Pitu sebagai penguasa pengganti Dyah Kusumawardani,” papar Dwi Cahyono.

Sri Proboretno

Perempuan tangguh di daerah Malang, selanjutnya adalah Sri Proboretno, pribadinya jarang diketahui publik. Sri Proboretno merupakan sosok pejuang perempuan heroik yang dikenal karena keberaniannya dalam mempertaruhkan jiwa raganya dan turun ke medan perang.

Sri Proboretno yang juga dipanggil Roro Ayu Proboretno ini adalah seorang gadis yang lincah, cantik dan suka ilmu kanuragan. Ia merupakan anak dari Adipati Malang Mancanegara Wetan Mataram Ronggo Tohjiwo ini, yang gugur di medan pertempuran menghadapi ekspansi Kasultanan Mataram terhadap Kadipaten Malang, dalam Kisah Babad Malang.

Pernikahannya dengan Raden Panji Pulangjiwo dikaruniai satu anak seorang putra yang bernama Raden Panji Wulung. Raden Pulangjiwo merupakan panglima perang Kadipaten Malang yang nantinya menjadi asal usul Kecamatan Kepanjen, di Kabupaten Malang.

Pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram, dalam kitab ‘Babad Tanah Jawi Pesisiran’ diceritakan Adipati Malang dan seluruh Adipati di Bang Wetan (Daerah Timur) menolak tunduk pada Mataram, dengan cara tidak mau mengirim upeti.

Sikap Adipati dianggap sebagai bentuk makar dalam kerajaan, yang kemudian Raja Mataram mengirim pasukan yang dipimpin oleh Surontani. Sementara itu, Kadipaten Malang juga melawan dengan pasukan Malang yang dipimpin oleh Raden Panji dan Proboretno terjadilah perang besar di daerah Bromo Tengger Semeru.

Proboretno tertancap keris Surontani, yang akhirnya meninggal dalam perjalanan kembali ke pusat Kadipaten Malang. Proboretno kemudian dimakamkan secara Islam di Desa Penarukan, yang kini tempatnya di belakang kantor Diknas Kabupaten Malang.

Keempat sosok perempuan yang tercatat dalam sejarah Malang Raya tersebut merupakan beberapa pemimpin perempuan yang tercatat dalam narasi sejarah. Selebihnya bisa jadi ada banyak dan belum dinarasikan dalam sejarah.

“Karena terdapat jejak tradisi yang panjang dimana perempuan telah mendapatkan kemungkinan terbuka untuk menempati pucuk pimpinan, atau tokoh yang berpengaruh pada zaman kerajaan” pungkas Dosen Sejarah Universitas Negri Malang tersebut.

Pemimpin Perempuan Millenial Berpengaruh dalam Pilkada Kota Malang 2018

Menjelang pesta demokrasi, sosok perempuan juga memiliki potensi untuk memimpin suatu daerah, bisa didapati contoh megawati, kota batu hingga beberapa daerah yang memiliki kepala daerah perempuan seperti di Kota Batu, Kutai Kalimantan Utara, Kabupaten dan Kota Probolinggo dan lainnya.

Peran perempuan juga diperlukan mengingat disiplin partisipasi politik perempuan. Perempuan diberikan suatu ruang untuk mampu menyuarakan hak dan kewajibannya dalam segala hal. Partisipasi dan suara perempuan pun mejadi indikator bagi legislatif negara untuk membuat suatu kebijakan.

Pilkada malang yang digelar 2018 nanti, tidak mau ketinggalan. Era ini beberapa perempuan di Malang Raya memiliki potensi untuk memimpin Kota Malang. Berikut adalah sosok perempuan atau srikandi-srikandi pejuang Kota Malang yang memiliki potensi di Era Millenial kini adalah:

Heri Pudji Santoso

Heri Pudji Santoso, atau yang akrab disapa ‘Bunda’ ini merupakan Ketua DPD PPP Kota Malang. Memiliki jiwa kepemimpinan seperti suaminya yakni Peni Suparto yang merupakan Walikota Malang selama dua periode di tahun 2003 hingga 2013 lalu.

Heri Pudji Santoso, Ketua DPD PPP Kota Malang (Sumber: Tika/Malangvoice)

Bunda, pernah mencalonkan diri sebagai Walikota Malang, pada Pilkada Kota Malang 2013, namun pihaknya belum berhasil mengambil tampuk kuasa yang direbut oleh M Anton dan Sutiaji dari PKB dan Gerindra. Kala itu, Bunda di usung oleh Partai Golkar, PAN, Partai RepublikaN dan 14 partai kecil.

Kini, Bunda sebagai nahkoda DPD PPP Kota Malang, mengarahkan dukungan pada Yaqud Ananda Gudban. Pihaknya resmi menjalin koalisi dengan Partai Hanura dan PAN, yang kemudian poros koalisinya diberi nama Poros Koalisi Harapan Pembangunan.

Laily Fitriyah Min Nelly

Akrab dengan sapaan Mbak Nelly ini merupakan Ketua DPC Partai Perindi Kota Malang, dengan kondisi yang tergolong muda dibanding politisi lainnya, Mbak Nelly merupakan orang yang sangat gesit dalam mengerjakan suat pekerjaan.

Berbagai kalangan lintas komunitas pasti mengenal sosok Mbak Nelly, pasalnya ia aktif sebagai Aktivis sosial yang terjun-terjun di masyarakat. Selain itu, meskipun Partai Perindo tergolong partai termuda yang mengikuti Pilkada Kota Malang ini dibawah pimpinan Mbak Nelly bersemangat menyongsong Pilkada Kota Malang 2018.

Laily Fitriyah Min Nelly, Ketua DPC Partai Perindo Kota Malang

Sejauh ini, terdengar kabar yang kuat bahwa Mbak Nelly mengarahkan dukungannya ke Poros Petahana, bersama PKS, PKB dan Nasdem mengusung Sang Walikota Petahana, M Anton untuk maju  mempertahankan kursi kekuasaanya di Kota Malang.

Mbak Nelly sendiri pernah menjadi Wakil Sekretaris DPC Partai Hanura Kota Malang, Wakil Ketua Srikandi Hanura Jawa Timur, Wakil Ketua Srikandi Pemuda Pancasila, dan kini menjadi Ketua Partai Perindo Kota Malang, Komunitas Hijab Kota Malang, dan Penggiat Arema Klojen.

Ya’qud Ananda Gudban

Dijuluki sebagai politisi cantik, Yaqud Ananda Gudban menjadi Ketua DPC Partai Hanura Kota Malang. Nanda Gudban juga merupakan Anggota Komisi B DPRD Kota Malang. Sosoknya yang ramah dan dekat dengan mahasiswa dan rakyat menjadi sorotan publik ketika dia turun ke masyarakat.

Nanda Gudban, Ketua DPC Partai Hanura Kota Malang

Ia juga merupakan salah satu Alumni Aktivis perempuan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Universitas Merdeka Malang. Selain itu, dia juga menjadi Wasekjen ADEKSI (Asosiasi DPRD Seluruh Indonesia); Ketua Partai Hanura Kota Malang; Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia Malang; Ketua Komunitas Perempuan Peduli Indonesia

 

 

Nanda, digadang-gadang maju menjadi Bakal Calon Walikota Malang, di Pilkada Kota Malang 2018 nanti dari Poros Koalisi Harapan Pembangunan, yakni gabungan dari Partai Hanura, PAN dan PPP.

Sri Oentari

Sri Untari, merupakan sosok wanita muda yang menjadi Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Dapil JATIM V Fraksi PDI Perjuangan. Ia menjabat sebagai Fraksi Ketua. Di DPRD Jatim ia masuk dalam Anggota Komisi C yakni di bidang Keuangan.

Sri Oentari, Sekretaris DPD PDIP Jawa Timur

Ia juga terlibat dalam Badan Anggaran. Badan Musyawarah, Anggota. Badan Kehormatan. Badan Legislatif. Sejak mahasiswa ia menjadi aktivis perempuan yang berhaluan nasionalis. Kini ia juga menjabat sebagai Sekretaris DPD PDIP Jawa Timur.

Sri Rahayu

Dra. Sri Rahayu yang merupakan wanita kelahiran Nganjuk, 03 Desember 1960 adalah anggota DPR RI periode 2009-2014 dari PDI Perjuangan yang mewakili Jawa Timur khususnya wilayah Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu.

Sri Rahayu, PDIP

Sri Rahayu bertugas di Komisi IX yang menangani Kementerian Kesehatan Indonesia, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Indonesia, Asuransi Kesehatan Indonesia dan Jamsostek.

Ia merupakan alumnus IKIP Negeri Malang tahun 1983. Sebelumnya Sri Rahayu pernah menjabat sebagai anggota DPRD Malang 2004-2009 dan pengurus Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Malang.

Sederet nama-nama tersebut merupakan sosok perempuan pernah menjadi sosok pemimpin atau bahkan tokoh yang berpengaruh di masyarakat kala itu. Beberapa catatan dan informasi sosok perempuan dari zaman kerajaan hingga era kini, menyongsong Pilkada Kota Malang 2018 dimana beberapa sosok perempuan yang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin di Kota Malang. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here