Pemimpin yang ‘Bergincu’ Sulit Untuk Sejahterakan Rakyatnya

0
339

Nusantara.news, Surabaya – Budayawan Emha Ainun Nadjib mengingatkan agar pemimpin, calon pemimpin di Indonesia untuk tidak selalu melakukan pencitraan. Karena pencitraan sama halnya dengan pemalsuan, dan membohongi rakyat. Pemimpin, harus berhenti melakukan pencitraan, harus jujur dan tulus tanpa pamrih bekerja untuk menyejahterakan rakyatnya.

Cak Nun juga mengingatkan pada saat berkampanye untuk tidak ‘bergincu’. Tetapi tampil apa adanya sesuai karakter asli. Karena pada umumnya, calon pemimpin yang akan maju di Pilkada kerap melakukan kebohongan untuk menarik simpati pemilih. Dengan berbagai cara dibalut sejumlah program yang seakan pro rakyat, padahal berisi kepalsuan.

“Itu yang tidak boleh dilakukan, karena sekarang umumnya mereka memakai ‘gincu’. Saiful, (Saifullah Yusuf, saat itu juga berada di atas panggung) tidak perlu kamu pakai gincu tampilkan dirimu apa adanya,” ucap Cak Nun, sontak disambut gemuruh tepuk tangan ribuan jamaah Maiyah di acara Halal bi Halal’e Arek Suroboyo yang digelar Yayasan Kalimasadha Nusantara (YKN) di depan kantor SHW Center Jalan Imam Bonjol 78, Surabaya Rabu (19/7/2017) malam.

Budayawan nyentrik asal Jombang itu juga mengingatkan, mereka yang akan maju di Pilkada tidak sekedar memburu jabatan dan kemenangan. Setelah menang, janji yang pernah diucapkan tidak terwujud. Mementingkan diri sendiri dan kelompoknya, ujungnya mengabaikan dan nelantarkan rakyat, itu harus dihentikan.

Bersama sejumlah tokoh nasional yang hadir, Cak Nun mengisahkan pernah di suatu kesempatan di acara serupa di Bekasi, seorang bupati yang mengikuti acara dilempar sandal oleh salah seorang pengunjung.

“Kepada pejabat itu saya katakan, Anda beruntung. Karena dalam acara seperti ini tidak pernah ada yang mendapat hidayah (lemparan sandal) seperti Anda. Karena, hatinya rakyat ya itu, seperti sandal yang dilemparkan ke Anda tadi,” terang Cak Nun.

Lanjutnya, seorang calon kepala daerah harus mempelajari dan memahami kondisi rakyat. Mengetahui posisinya sebagai khalifah yang mendapat mandat dari rakyat. Mengetahui kesengsaraan yang dialami oleh rakyatnya, serta melakukan tindakan dan jalan keluar untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Tidak malah sebaliknya hanya mementingkan diri sendiri.

Menyinggung konstelasi politik dan pemilihan kepala daerah, termasuk di Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018 mendatang, yang dibutuhkan rakyat adalah kemurnian hati bukan janji-janji palsu.

Sementara, menanggapi keprihatinan dan kecemasan masa depan Indonesia yang terus terpuruk, Cak Nun mengajak kepada yang hadir untuk tidak terlalu cemas. Seraya terus berdoa dan bersyukur berharap rahmat Tuhan. Lanjut Cak Nun, karena di berbagai daerah di Indonesia tersebar jamaah Maiyah yang selalu mengedepankan toleransi dan kebersamaan termasuk untuk keutuhan NKRI.

Di Indonesia akan hadir pemimpin yang mengerti tugas dan kewajibannya menjaga kemaslahatan, mereka dari generasi millenium termasuk jamaah Maiyah. Cak Nun juga meminta tokoh-tokoh nasional yang hadir selain YKN untuk terus menjaga keutuhan Indonesia.

Kebersamaan dan toleransi yang telah terbangun, utamanya dilakukan oleh jamaah Maiyah di seluruh Indonesia terus dijaga. Cak Nun mengibaratkan saat ini sudah ada tumbuh (wadah, Jawa), dan tokoh-tokoh lainnya diharapkan bisa menjadi pelengkap atau tutup wadah tersebut.

You a news nation of Indonesia, ibarat tumbuh harus ada penutupnya, yakni pemimpin yang klop. Selain kepada tokoh-tokoh termasuk yang hadir malam ini, juga Kalimasadha untuk ikut menyongsong lahirnya pemimpin baru,” ucap ayah vokalis Letto Band, Sabrang Mowo Damar Panuluh itu.

Sejumlah tokoh yang hadir di acara itu selain Pembina YKN dan Pendiri Nusantara.news Sigid Haryo Wibisono sebagai tuan rumah acara, juga ada Hariman Siregar aktivis Malari 1974, tokoh intelijen Suripto, pengamat politik Muhammad Qodari serta Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur yang dipastikan akan maju di Pilkada Jawa Timur 2018, mendatang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here