Pemkot Paksa Pedagang Merjosari Segera Pindah

0
55
Foto Pedagang Pasar Merjosari sedang merapikan puing bedaknya, saat pembongkaran berlangsung (Sumber: Aditya/Nusantara.news)

Nusantara.news, Kota Malang – Perbedaan pandangan dan pendapat terkait Pasar Merjosari antara pihak DPRD dan pihak Pemerintah Kota Malang seakan membuat kurang harmonisnya agenda kerja yang dilakukan oleh pemerintah tersebut terkait pembongkaran Pasar Merjosari.

Pihak DPRD Komisi C, yang telah melakukan sidak beberapa kali di Pasar Baru Terpadu Dinoyo (PTD) menyatakan bahwa pasar tersebut belum layak untuk ditempati, ditambah belum lengkapnya dokumen-dokumen perizinannya. Namun, pihak pemerintah terlihat sangat mesra untuk terus menghimbau para pedagang pindah ke pasar dinoyo dengan segera.

Berkali-kali kondisi sempat memanas antara pedagang pasar yang masih ingin tinggal, dengan pihak pemerintah dan investor yang terus menekan pedagang untuk pindah. Penekanan tersebut tidak secara langsung namun pelan-pelan bangunan pasar Merjosari dibongkar, atap dicopot, listrik dan air diputus dipadamkan seolah-olah pedagang diusir perlahan.

Pihak DPRD Kota Malang terlihat geram. Perwakilan rakyat itu pun kali ini menantang pemerintah Kota Malang melakukan verifikasi terbuka terkait data kelayakan Pasar Merjosari.

Ketua DPRD Kota Malang, Arief Wicaksono mengatakan pemindahan yang dilakukan kepada para pedagang cenderung dipaksakan. Karena berbagai kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya belum juga diselesaikan. Mulai dari uji layak fungsi bangunan hingga penetapan nilai jual dari masing-masing bedak. “Kesepakatan belum beres saja, atap sudah dibuka semua, listrik dan air di putus, kan kasihan pedagang,” kata dia.

Pihaknya menegaskan yakni pembongkaran di Pasar Merjosari harus dihentikan dengan segera. “Harus selesai dulu semua persoalan yang ada di pasar baru tersebut, jangan lagi ada tindakan pembongkaran lanjutan dan intimidasi pedagang,” tandas pria berkumis tipis tersebut.

Pihaknya mendapat laporan bahwa beberapa pedagang ada yang diintimidasi dan bedak yang masih jualan dicoret-coret sehingga layak untuk dibongkar “Perwakilan pedagang ada yang mengatakan baha pihaknya diintimidasi oleh oknum yang tak dikenal, sehingga mereka takut dan ada beberapa yang pindah pergi mengosongkan tempat jualan mereka,” katanya.

Ia menilai pembongkaran atap yang sudah terjadi sebenarnya juga melanggar kesepakatan. Sebab, masih ada pedagang yang memilih berjualan di Pasar Merjosari.“Mereka belum mau pindah karena PTD tidak sesuai dengan perjanjian kerjasama yang disepakati bersama,” imbuh Arief.

Berdasar keterangan investor, jumlah pedagang dari Pasar Dinoyo mencapai 644 orang. 93 pedagang belum registrasi ulang atau pengurusan administrasi ke PT CGA. Sedangkan sisanya sudah ikut kesepakatan. Karena ada yang belum mendaftar, pedagang diberi waktu selama enam hari. Waktu enam hari itu rinciannya tiga hari untuk pengumuman kepada pedagang, dan tiga hari sisanya untuk pendaftaran ke PT CGA.

Arief menyebut 93 pedagang belum menyelesaikan administrasinya, namun yang pihaknya ketakutan adalah ketika pedagang asli yang tak mampu membayar bedak disana haknya akan dilelang ke orang lain dengan cara dihanguskan ”masih banyak pedagang asli yang belum mampu menebus dan membayar bedak baru, kalo tidak mampu membayar hangus, terus dia berjualan dimana dong?,” tanya Ketua DPRD Kota Malang tersebut.

Arief menyampaikan, dari total sekitar 1.367 lapak yang ada di PTD, saat ini kepemilikannya banyak berasal dari pedagang asli Pasar Merjosari. Hal ini sangat disayangkan, Hak Bedak yang harusnya dimiliki pedagang harus membayar lagi dengan nominal yang cukup besar. Oleh karenannya ada beberapa yang belum mampu melunasi bedak barunya di PTD. “Bahkan fakta di lapangan, lapak dan bedak baru tersebut banyak yang dimiliki oleh pedagang baru. Saya tantang pemerintah untuk blak-blakan verifikasi data itu,” tegasnya.

DPRD yang merupakan representatif perwakilan rakyat tersebut geram pasalnya melihat kondisi pedagang yang seakan-akan dipermainkan “Sudah seakan-akan dipaksa untuk pindah, pada bangunan yang belum layak, ditambah lagi harus membayar lagi pada bedak yang dulu ia miliki di Pasar Dinoyo,” tandas Politisi PDI Perjuangan tersebut.

Khosyidah, salah satu pedagang pasar asli dinoyo terlihat pasrah bedaknya di bongkar oleh pihak wastib pasar. ”Saya juga tidak tahu lagi mas harus bagaimana lagi, saya dulu pedagang asli dinoyo sudah belasan tahun dan sampai saat ini saya belum melunasi bedak baru saya yang di pasar baru, ia menggerutu mengungapkan bahwa pemerintah hari ini tidak adil, dalam pembangunan pasar baru tersebut,” ungkapnya kepada Nusantara.news, (6/5/2017) sambil merapikan puing-puing bangunan. Ketika dimintai keterangan lebih lanjut pihaknya belum bersedia menjawab.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here