Pemkot Surabaya Dinilai Kurang Gigih, DPRD Pesimistis Megaproyek Trem Dapat Terealisasi

0
118

Nusantara.news, Surabaya – Kalangan DPRD Kota Surabaya pesimis megaproyek pembangunan trem bisa terealisasi 2017 seperti yang pernah diutarakan oleh Pemerintah Kota Surabaya. Pasalnya, megaproyek yang semula akan dibiayai oleh Kementerian Perhubungan ini ternyata di tengah perjalanan, dananya tidak ada sama sekali.

Seperti disampaikan Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya Buchori Imron, setelah konsultasi dengan Kemenhub, proyek trem di Surabaya ternyata tidak bisa diharapkan sepenuhnya didanai pusat. Menurut Buchori, pusat hanya mendanai pembuatan depo trem yang dilokasikan di Terminal Joyoboyo dengan biaya sebesar  Rp 100 miliar.

“Karena pusat tidak menyediakan dana proyek trem, kita pesimistis proyek ini bisa selesai di akhir 2017. Proyek trem di Surabaya, membutuhkan anggaran yang sangat besar. Sebelumnya diperkirakan sekitar Rp 2,4 triliun. Namun dari perhitungan Kemenhub, alokasi anggaran bisa mencapai Rp 3 triliun lebih,” ujarnya, Senin (20/3/) di Surabaya.

Proyek Angkutan Massal Cepat (AMC) di Surabaya sebenarnya masuk dalam Rancangan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Bappenas tahun 2015 – 2019. Namun, dari hasil konsultasi Komisi C DPRD Kota Surabaya dengan Kemenhub ternyata dana proyek belum siap. Menurutnya saat ini, pemerintah pusat tengah berkonsentrasi membangun infrastruktur di Palembang, menjelang pelaksanaan Asian Games di daerah tersebut.

Ketua Komisi C DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri mengatakan, proyek LRT Palembang anggarannya Rp 11,5 triliun. Sampai hari ini progress-nya sudah 30 persen dan ditargetkan selesai 2018 sebelum Asian Games dimulai.

Ihwal proyek angkutan massal berbasis rel itu dia ketahui setelah Komisi C DPRD Surabaya melakukan kunjungan kerja ke Palembang. Kunker ke Kota Pempek itu dilakukan terkait masih belum jelasnya proyek trem di Kota Surabaya.

Politisi yang akrab disapa Cak Ipuk ini menilai, upaya yang dilakukan Pemkot Surabaya masih belum maksimal dibandingkan Palembang. Pemkot setempat, ungkapnya, mampu meyakinkan pemerintah pusat, sehingga proyek yang nilainya lebih besar ketimbang Surabaya itu bisa diakomodir.

“Ternyata upaya mereka memang sangat gigih dan luar biasa. Mereka berusaha masuk ke semua lini, semua kementerian disurati, hingga presiden. Seakan-akan menangis dengan alasan rasio kemacetan sudah tinggi, sementara APBD-nya tidak cukup,” urai Syaifuddin..

Tanpa bermaksud membandingkan dengan upaya Pemkot Surabaya, dia berpendapat, jika dinas teknis Pemkot Palembang sangat memahami soal transportasi, dan piawai dalam pemaparan.“Sampai akhirnya diundang untuk presentasi di depan presiden, dan kemudian keluarlah perpres-nya,” ujarnya.

Selain itu, imbuh Cak Ipuk, dalam upaya merealisasikan proyek LRT, Pemkot Palembang melibatkan peran Pemprov Sumatera Selatan. Awalnya, pemprov setempat mengajukan MRT sebagai moda transportasi di Palembang, namun akhirnya diputuskan jenis LRT sesuai kebijakan nasional kemenhub.

Oleh karena itu, pihaknya bakal berbagi pengalaman dengan Pemkot Surabaya melalui dinas terkait, soal hasil kunker ke Palembang. Misalnya, semangat dan kesiapannya sampai pada persoalan jaringan utilitas, yang disiapkan sendiri. Sehingga pemerintah pusat merasa tidak ada kendala apa pun saat mengucurkan anggaran pembangunannya. “Apalagi bertepatan pula dengan momen Asian Games yang akan digelar di sana,” tambah politisi PDI Perjuangan ini.

Walikota Risma Klaim Trem Bisa Mengurai Kemacetan

Sementara itu Walikota Tri Rismaharini beberapa waktu menyatakan bahwa megaproyek trem sangat dibutuhkan untuk mengurangi kemacetan kota Surabaya. Proyek ini akan melintas di samping jalur pedestrian sehingga jika trem berhenti, penumpang dengan mudah naik dan turun trem.

“Moda transportasi ini juga sangat ramah lingkungan karena menggunakan energi listrik. Dengan adanya trem yang menghubungkan sisi timur dan barat Surabaya menuju ke tengah kota diharapkan kemacetan bisa terurai. Sebagai pengumpan semua moda transportasi massal ini, Pemkot akan mengaktifkan bus dan angkutan kota sehingga mempermudah pengguna,” jelasnya beberapa waktu lalu.

Sementara itu, pakar ekonomi dan statistik Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) Kesnayana Yahya mengungkapkan, kehadiran trem di Surabaya menjadi ajang pembelajaran sekaligus dapat mengubah perilaku masyarakat yang masih banyak menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan menggunakan angkutan massal.

“Hadirnya trem sebagai moda transportasi yang nyaman dan jenisnya diperkirakan bisa mengurangi kemacetan di Surabaya. Pegawai yang pekerjaannya tidak tahan stres akan memilih trem karena menjadi moda yang nyaman dan tidak perlu bertempur melawan kemacetan di jalan,” katanya.

Kresnayana juga berharap jalur lintasan trem merupakan kawasan tengah kota. Hadirnya trem bisa mengurai kemacetan saat berangkat atau pulang kantor yang kerap menjadi permasalahan di kawasan tersebut. Paling tidak perlu waktu sekitar dua tahun untuk mengubah perilaku masyarakat dari menggunakan kendaraan pribadi beralih ke trem. Sebab, trem merupakan moda transportasi baru di Indonesia, terutama bagi generasi tahun 1970-an.

“Dua tahun pertama, kehadiran trem seperti sebuah tontonan sekaligus pengalaman baru. Butuh waktu bagi masyarakat untuk menyesuaikan moda transportasi baru. Namun, karena trem nyaman, pasti mudah diminati masyarakat. Selain mengurangi kemacetan, kehadiran trem di Surabaya diyakini bisa meningkatkan kunjungan wisatawan,” pungkasnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here