Pemkot Surabaya Kembangkan Industri Maritim dengan Korea

0
149

Nusantara.news, Surabaya – Cerita kejayaan pelaut-pelaut nusantara sempat mengangumkan dunia. Kini, industri maritim di negeri ini secara teknologi masih jauh tertinggal. Hal ini menginspirasi KADIN Jatim Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menandatangani nota kesepakatan (MoU) dengan Kota Busan Korea Selatan. Indonesia ingin bangkit lagi di infrastruktur maritim sesuai program Nawa Cita ketiga Presiden Joko Widodo.

Untuk memulai lagi cerita kejayaan itu, mau tidak mau Indonesia memang harus menggandeng asing. Hanya saja harus memasukkan kesepakatan bagi asing untuk juga melakukan transfer teknologi agar Indonesia kelak bisa berdikari dan tidak terus menerus jadi konsumen. Langkah ini  setidaknya dijalankan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui penandatanganan nota kesepakatan (MoU) dengan Kota Busan Korea Selatan.

“Jangan hanya menjual spare part atau kapal. Kami juga berharap perwakilan Korea menanamkan modalnya di Surabaya atau Jawa Timur dalam industri maritim. Kita juga sinergikan dengan program pemprov dan pusat,” terang Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Surabaya Jamhadi usai menerima perwakilan Korea Maritim and Equipment Association (KOMEA) yang dipimpin ketuanya Chang-Soo Chung, Kamis (16/2/2017).

Harapan itu bukan tanpa alasan. Sebagai pintu gerbang ke kawasan timur Indonesia, transportasi laut murah bisa menjadi solusi memangkas disparitas harga. Terutama untuk penyebaran kebutuhan sembako. “Saya berharap, setiap minggu ada angkutan laut dan sekaligus transportasi massal yang murah sebagai penghubung antar kepulauan di Indonesia,” terangnya kepada Nusantara.News.

Jika mengandalkan industri maritim dalam negeri, memang tidak memungkinkan harapan itu terpenuhi saat ini. Namun dengan kultur Korea yang lebih santun dari agresi ekonomi Cina, mimpi transfer ekonomi ini setidaknya masih bisa diharapkan. Apalagi produk industri maritim Korea lebih murah dengan kualitas yang terjaga.

Pengakuan ini dilontarkan M Ischaq Assistant Commercial Manager Dok Pantai Lamongan. “Kebutuhan Indonesia sangat besar tidak mungkin dipenuhi domestik. Mulai dari mesin kapal, sparepart hingga manufaktur lainnya. Produk Korea lebih murah dan berkualitas. Ini bisa jadi alternatif bagi kita dibandingkan produk dari Eropa yang harganya jauh lebih mahal atau Cina yang sama murah tapi kualitasnya tidak sebaik Korea,” terangnya.

Namun Ischaq juga punya harapan serupa dengan KADIN Surabaya, yakni Korea bisa mengarahkan anggotanya untuk menanamkan modalnya di sektor maritim di Jawa Timur. “Di dok Pantai Lamongan, juga masih ada lahan untuk investasi pembangunan industri mesin atau perakitan,” kata dia beberkan peluang kerjasama dengan KOMEA.

Kebutuhan produk maritim yang murah memang jadi keharusan jika ingin meningkatkan potensi besar ini. Bukan cerita usang lagi jika gara-gara harga yang tak terjangkau, pemilik kapal motor nelayan (KMN) terutama skala 30 GT ke bawah, memilih untuk kanibal mesin jika mengalami kerusakan. Padahal tidak ada jaminan mekanisme kerjanya sehandal mesin baru.

“Itu memang jadi pilihan terbaik kami untuk siasati mahalnya mesin atau suku cadang kapal. Resikonya, tentu saja ada. Jadi sasaran razia, boros bahan bakar atau mogok di tengah laut. Dari pada kapal tidak melaut, padahal itu satu-satunya sumber ekonomi nelayan. Mesin pun bukan khusus untuk kapal, tapi kita modifikasi dari mesin truk engkel. Jadi kalau ada razia SIPI (Surat Izin Penangkapan Ikan), ya kita harus sedikit main dengan polair atau syahbandar,” terang sumber redaksi.

Pembuatan mesin kapal memang mustahil direalisasi dalam waktu dekat. Namun sebenarnya ada sektor lain yang modal SDM-nya sebenarnya Indonesia sudah punya. Yakni sektor manufaktur. Seperti yang dikatakan Dwi Sudharmono pemilik KNM asal Lamongan. “Indonesia mampu kok jika industri manufaktur. Di Batam, banyak orang Indonesia yang kerja di sektor perakitan kapal kendati kapal masih harus datangkan dari luar. Harusnya itu yang diutamakan. Selain bisa membuka lapangan kerja, ada transfer teknologi dari asing ke bangsa kita,” ucapnya.

Sebelumnya, usai MoU Sekretaris Kota (Sekkota) Surabaya Hendro Gunawan juga berharap ada output positif antara kedua belah pihak. “Untuk pengembangan kelautan dan kemaritiman kami ingin mempercepat pendistribusian barang dari Busan ke Surabaya, begitu pula sebaliknya, cara ini dinilai baik karena jalur distribusi dari Busan tidak perlu lagi singgah di Singapura tetapi langsung ke Surabaya serta mengurangi ongkos ekspedisi,” ujarnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here