Pemprov Jamin Beras Impor Hanya Transit di Jawa Timur

0
17
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Jatim Fattah Jasin (kedua kiri), Kepala Divisi Regional (Kadivre) Bulog Jatim Mohammad Hasyim (kanani) meninjau beras impor asal Thailand di gudang Bulog Divre Jatim, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (1/3). Pemerintah pusat mendatangkan beras impor asal Thailand ke Jawa Timur yang dikemas dalam karung 50 kilogram sebanyak 20 ribu ton hanya sebagai tempat gudang penyimpanan, karena Pemerintah Provinsi Jawa Timur menolak masuknya beras impor. ANTARA FOTO

Nusantara.news, Surabaya – Panen raya yang bakal dilakukan di beberapa kawasan lumbung padi di Jawa Timur sempat diresahkan dengan kabar dibukanya keran impor beras. Mimpi untuk meraih pendapatan tinggi pun sempat surut karena salah satu pintu masuk ada di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Terkait hal ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur menjamin jika beras impor yang berdasarkan data resmi sebanyak 45.250 ton hanya transit dan disimpan di Gudang Bulog Sub Divre Surabaya Utara. Penegasan ini disampaikan Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Fatah Jasin, Kamis (1/3/2018).

Dia mengatakan, seluruh beras impor, baik yang dari Thailand ataupun yang dari Vietnam yang masuk hanya transit dan tidak untuk dilepas di pasaran Jawa Timur. “Beras-beras ini peruntukannya bukan untuk konsumsi Jawa Timur. Dan saat ini ada sekitar 45.250 ton beras impor yang masuk melalui dua pelabuhan di Jatim. Sebanyak 20.000 ton impor dari Thailand masuk melalui Tanjung Perak Surabaya dan disimpan di gudang Bulog yang berlokasi di Buduran Sidoarjo. Sementara sisanya sebanyak 25.250 ton berasal dari Vietnam, masuk dari pelabuhan Banyuwangi dan disimpan di Banyuwangi,” katanya di sela kegiatan penggembokan gudang Bulog di Sidoarjo.

Ia mengemukakan, surat izin Gubernur terkait masuknya beras impor sangat jelas bahwa beras ini transit saja. “Walaupun di Jatim, beras ini satu kilogram pun tidak akan beredar di sini. Sebagai pengamanan, gudang akan ditutup dan kuncinya dipegang kepolisian,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur, Hadi Sulistyo mengatakan bahwa salah satu pertimbangan Gubernur Soekarwo untuk menjaga beras impor agar tidak beredar di pasar karena untuk mengantisipasi produksi beras yang diprediksi bakal melimpah pasca panen raya. Bahkan pada tahun ini, produksinya ditarget bisa mencapai 13,4 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau 8,7 juta ton setara beras.

“Konsumsi beras masyarakat Jatim hanya sekitar 3,5 juta ton GKG atau sekitar 3,6 juta ton setara beras. Masih ada surplus sekitar 5,1 juta ton beras. Jadi, Jatim tidak akan kekurangan beras,” ujarnya.

Sementara itu, Tim Satgas Pangan dari Kepolisian Kompol Ernesto Saiser mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan pengawasan beras impor yang ada di Jatim sejak sebelum masuk gudang. “Bahkan sebelum masuk gudang, kami pastikan dulu gudang itu dalam kondisi kosong sehingga beras impor tidak akan tercampur dengan beras dalam negeri. Selanjutnya beras masuk dan kami kunci. Ada dua gerbang yang dikunci, kunci gerbang pertama dibawa oleh Bulog dan gerbang kedua atau yang di luar kami yang pegang. Jika Bulog ingin membuka untuk melakukan perawatan pasti akan didampingi oleh kepolisian,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Bulog Divisi Regional Jatim Muhammad Hasyim memastikan bahwa beras impor yang masuk Jatim tidak akan mengganggu pengadaan beras. Bulog akan tetap melakukan penyerapan beras petani sesuai perintah pemerintah.

“Setiap hari kami tetap melakukan pembelian beras. Dan sekali lagi kami tegaskan bahwa beras impor ini tidak akan mengganggu beras petani. Kami hanya akan mendistribusikan beras impor ini sesuai perintah Menteri Perdagangan dan pasti akan terkendali. Jangan ada anggapan bahwa beras ini akan merembes ke pasar Jatim karena pengawasan dan pengamanan sangat ketat,” ujarnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here