Pemuda, Ibu dari Segala Kebajikan

0
189
Dalam setiap perubahan menuntut peran aktif generasi muda. Sejarah selalu memanggilnya FOTO ISTIMEWA

Nusantara.news, Jakarta – Dulu sekali saya pernah mendengar ungkapan ala New Left, “Jangan percaya orang yang berumur di atas 30 tahun.” Sampai sekarang pun saya Percaya itu. Sebab biasanya orang yang berumur di atas 30 sudah menata hidup normal dengan membangun keluarga yang Sakinah, Mawadah dan Warrahmah, di samping juga membangun profesi untuk kemapanan hidupnya.

Pandangan di atas tentu saja mengacu pada usia manusia yang sangat terbatas, rata-rata hanya sekitar 70 tahun. Orang yang berumur di atas 30 tahun sudah melampaui sepertiga perjalanani rata-rata umur manusia. Mereka biasanya sudah berkeluarga. Sehebat apapun dia pasti berhadapan dengan tagihan listrik, bayar cicilan atau kontrak rumah, belum lagi persoalan rumah tangga lainnya yang memaksanya untuk bekerja .

Ini berbeda dengan anak muda dalam kelompok umur 15-29 tahun yang jumlahnya di Indonesia mencapai 62 juta. Kebutuhan hidupnya yang belum seberapa membuatnya lebih kuat dalam mempertahankan prinsip, lebih hirau terhadap nasib orang-orang di sekitarnya, dan lebih jernih dalam mewujudkannya dalam gerakan tanpa dirusak oleh kepentingan pribadi, mentor atau atasannya.

Idealnya memang begitu. Tapi tidak sedikit pula, umumnya anak-anak muda dari organisasi kemahasiswaan yang sudah mapan, dirusak oleh kepentingan para mentornya. Sehingga dalam berbicara pun seolah mengalami penuaan dini dengan bersikap lebih santun, diplomatis dan penuh gagasan normatif. Pemuda yang jenis begini saya sebut sebagai zombie yang tanpa imajinasi dan gagasan-gagasan kreatif untuk mendobrak kebekuan peradaban.

Tentu tidak semua anak muda bersikap seperi mayat hidup. Bahkan yang lebih parah dari itu, ada pula jenis anak muda yang menjadi sampah peradaban dengan mengkonsumsi narkoba. Tapi tentu saja ada yang terpanggil oleh panggilan zaman, seperti Pemuda Sutomo di tahun 1908, atau Pemuda Mohammad Yamin di tahun 1928, Pemuda Soekarni di tahun 1945, Pemuda Soe Hoe Gie di tahun 1966, atau Pemuda Hariman Siregar di tahun 1974, atau Pemuda Indro Tjahjono di tahun 1978 dan seterusnya.

Penting pula untuk dicatat, revolusi kemerdekaan Indonesia bukan lahir dari pemberontakan militer yang merebut kemerdekaannya dari tangan penjajah. Melainkan dari keinginan kuat pemuda Chaerul Saleh, pemuda Soekarni dan pemuda-pemuda lainnya yang ingin merdeka secepat-sepatnya dengan cara menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, Karawang.

Untuk itu pula, Benedict Anderson memotret secara gamblang tentang peran anak muda yang khas Indonesia dalam bukunya yang berjudul “Revoloesi Pemuda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946.” Penentu kemerdekaan Indonesia, tulis Anderson, tidak dimainkan oleh cendikiawan atau kelas-kelas tertindas, melainkan oleh pemuda.

Basis ideologi pemuda, tulis Anderson, adalah fortiter in re atau prinsip yang kuat untuk suatu perubahan total dan memulai pembaruan. Desakan kuat itu yang memaksa Soekarno dan Hatta membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945. Itulah fakta-fakta sejarah, betapa pentingnya peran pemuda di seputar detik-detik proklamasi yang kita rayakan setiap tanggal 17 Agustus itu.

Sastrawan terkemuka Indonesia Pramoedya Ananta-Toer pun menggambarkan pemuda sebagai prajnya paramita, ibu dari segala kebajikan. Pram percaya setiap manusia mengalami lompatan nilai, terutama nilai yang membentuk dan menjiwai istilah pemuda sebagai spiendor varitatis, penerang bagi jutaan orang yang mendambakan gemerlap cahaya hari baru.

Peradaban itu seperti halnya jasad. Tanpa adanya regenerasi yang sanggup menjawab perubahan, niscaya pula, segemilang apa pun peradaban dengan sendirinya akan membusuk dan punah. Hirarki nilai-nilai yang sudah mapan akan selalu dapat dikalahkan oleh imajinasi anak-anak muda yang dibangkitkan oleh kehendak zaman.

Begitu banyak contoh sejarah yang mengajarkan kepada kita, bagaimana eloknya peradaban Mesopotamia di daerah aliran sungai Tigris, betapa berjayanya Romawi, begitu hebatnya Sriwijaya dan Majapahit dalam menguasai maritim kepulauan nusantara, pada akhirnya kini hanya tinggal menyisakan reruntuhan.

Pembusukan itu terjadi sebagai akibat langsung menuanya peradaban dan absennya kaum muda dalam menjawab perubahan. Kita boleh kagum atas kehebatan Tjokroaminoto, Soekarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim, Sam Ratulangi, Tan Malaka dan Semaun. Tapi kekaguman itu tidak ada artinya, apabila pikiran Pemuda Soekarno dan para pemimpin segenerasinya kita biarkan membeku dalam pikiran.

Hancurnya komunisme tidak perlu diratapi. Karena itu keniscayaan sejarah sebab ajaran itu dibiarkan membeku dan tuli dari panggilan sejarah. Satu-satunya yang mampu menjawab panggilan sejarah adalah anak-anak muda. Bukan orang-orang tua yang bersiap diri menerima panggilan Tuhan.

Kapitalisme pun tidak bisa jumawa mengklaim sebagai satu-satunya pemenang peradaban. Sikap serakah untuk mengambil alih segala kuasa ke segelintir orang pada akhinya mendorongnya ke jurang kepunahan. Bayang-bayang depresi kini telah mengintai negara-negara Kapitalisme yang sudah mapan.

Narasi besar, utamanya pertarungan Kapitalisme vs Sosialisme, sebagaimana pertarungan Tom dan Jerry sepanjang Abad ke-20 sudah rontoh oleh gejala menguatnya solidaritas yang digerakkan oleh narasi-narasi kecil yang bersifat lebih spontan dan seketika.

Konsep pemerintahan yang terencana, terukur dan sistematik satu per satu rontok oleh kebutuhan penyelesaian persoalan secara adhoc dan seketika, karena percepatan zaman tidak terpotret oleh tata kelola sistematis, hukum dan perundang-undangan. Hanya Pemuda yang bisa menyikapi keadaan ini, sebab inilah tantangan milenial yang akan dihadapi 20 hingga 30 tahun ke depan.

Masih ingat koin untuk Prita? Atau pembelaan massif kepada nenek tua yang terpaksa mencuri buah semangka karena kelaparan? Itulah serpihan narasi-narasi kecil yang menggerakkan kepedulian banyak orang. Begitu pun dengan Kapitalisme global yang jumawa niscaya akan bertekuk-lutut menghadapi gerakan solidaritas yang dimungkinkan oleh teknologi informasi.

Tentang perkembangan Tekhnologi Informasi yang begitu ajaib mewujudkan “Imagine the People” gagasan John Lennon : no border, no religion, di akhir 1960-an lalu adalah digerakkan anak-anak muda yang bukan hanya mampu membuat lompatan nilai-nilai, melainkan juga lompatan tekhnologi.

Peradaban Yunani Kuno, kejayaan Islam di Cordoba, hanyalah kenangan lama yang hancur sendiri oleh menuanya peradaban. Hadirnya anak-anak muda dengan jiwa muda pastinya, akan terus memperbarui bagian yang aus dan kikis dari peradaan itu sendiri.

Karena itulah hukum alam. Obsesi manusia memang ingin hidup seribu tahun seperti puisi Chairil Anwar, maka lahirlah dongeng tentang Highlander, atau kisah raja-raja Tiongkok yang mencari obat panjang umur ke sepenjuru dunia. Tapi pada ujungnya toh mereka berakhir di sebuah upacara pemakaman.

Untuk itulah saya bersepakat dengan Pramoedya Ananta-Toer, bahwa Pemuda adalah ibu dari segala kebajikan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here