Pemuda Kota Batu Rayakan Kemerdekaan dengan Semangat Eco-Nasionalisme

0
52
Upacara memperingati 72 tahun Kemerdekaan Indonesia dengan semangat Lingkungan di Sumber Umbul Gemulo, Bulukerto, Kota Batu (Foto: Aditya)

Nusantara.news, Kota Batu – ‘Merdeka yang Lestari!’  pekik salah satu pemuda Kota Batu yang mengikuti proses upacara kemerdekaan yang dielenggarakan di Sumber mata air Umbul Gemulo,  Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Kamis (17/8/2017).

Momentum hari kemerdekaan Indonesia yang ke-72 ini dikemas oleh para pemuda Kota Batu dengan upacara kemerdekaan yang unik. Apabila kita menjumpai setiap upacara di lapangan dan tempat terbuka yang luas, para pecinta lingkungan dan pemuda Kota Batu menyelenggarakan upacara kemerdekaan di situs Sumber Air Gemulo, yang notabene pernah menjadi lokasi konflik warga dengan pihak pendirian perhotelan yang berpotensi merusak sumber mata air tersebut.

Sekitar 50 pemuda-pemudi yang juga diikuti beberapa elemen aktivis mahasiswa, komunitas Nawakalam Gemulo, Kristen Hijau, WALHI, MCW dan Komunitas Cak Munir turut berpartisipasi untuk meramaikan agenda tersebut. Agenda tersebut dilakukan dengan tujuan untuk kembali merefleksikan makna kemerdekaan untuk lingkungan. Karena masih banyak tindak-tanduk manusia yang tidak berkeadilan lingkungan.

Upacara berlangsung khidmat dengan peserta upacara menceburkan diri di sungai sekitar mata air, yang kemudian dilanjutkan dengan Menyanyikan lagu kebangsaan, pembacaan teks proklamasi, teks pancasila, dan sampaian pidato dari WALHI Jatim.

Purnawirawan D Negara, Dewan Daerah WALHI Malang menjelaskan terkait kemerdekaan untuk lingkungan yang menjadi tema besar upacara yang diselenggarakan. “Lingkungan sangat penting bagi kehidupan, karena kita hidup bergantung pada lingkungan. Oleh karenannya kedaulatan lingkungan harus dijunjung tinggi bukan malah dikesampingkan dan memajukan pembanalan pembangunan yang tidak mengindahkan lingkungan,” ujarnya dalam amanat upacara

“Kedaulatan lingkungan menjadi simbol atas kedaulatan kehidupan! Sudah menjadi kewajiban kita menjadi bagian perawat dan penyelamatan atas eksploitasi lingkungan,” tandas Dekan Fakultas Hukum UWG Malang tersebut.

Selain itu beberapa nilai-nilai yang ingin disampaikan dalam prosesi upacara yang unik tersebut adalah pentingnya lingkungan, terfokus khusus yakni sumber mata air. Karena air adalah sebagai simbol kehidupan dan air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan setelah udara dan energy (makanan).

Upacara tersebut ditutup dengan pelepasan ikan, sebagai simbol bahwa seluruh makhluk hidup, manusia, hewan, dan tumbuhan berhak atas air. Ari bukan hanya milik satu golongan dan air tidak dapat di privatisasi untuk satu golongan saja.

 Eco-Nasionalisme, Semangat Baru Kemerdekaan

Maraknya konflik lingkungan beberapa tahun terakhir, yang kemudian menjadi pemicu bagi masyarakat untuk berpikir lebih dalam untuk memperhatikan lingkungan. Arus pembangunan yang begitu kencang, orientasi profit produksi perusahaan yang kerap kurang mengindahkan keberlanjutan lingkungan menjadi salah satu faktor rusaknya lingkungan.

Tindak kejahatan lingkungan yang semakin nyata terlihat baik dilakukan oleh kuasa modal perusahaan maupun pejabat pemerintahan yang juga turut mendukung dengan dalih mendongkrak ekonomi menjadikan masyarakat kecil dan lingkungan semakin tersisih.

Berangkat dari hal itu kemudian beberapa pemuda Kota Batu dan aktivis lingkungan menyuarakan slogan baru yakni semangat Eco-nasionalisme, yakni secara garis besar dimaknai memerdekakan lingkungan agar terbebas dari penjajah dan penindas lingkungan dalam bentuk apapun.

Perlunya semangat juang yang sama dalam membangun kebangsaan dan juga melestarikan alam. Karena apabila lingkungan rusak, alam rusak, maka negara, bangsa itu pun akan tiada. Keberlangsungan kehidupan yang tidak bisa terlepas dari lingkungan menjadikan satu kajian kritis masyarakat untuk merawat dan menjaga lingkungan dan alam agar tetap lestari.

Wujud pemerintahan Ecokrasi harus segera dibentuk, yakni pemerintah yang berwawasan lingkungan. Menghargai, merawat dan melestarikan sendi-sendi sumber daya alam agar tetap lestari. Bukan malah berpihak dan mendukung eksploitasi lingkungan dengan dalih menunjang kebutuhan ekonomi.

Kondisi Lingkungan yang semakin Kritis

Semangat Eco-Nasionalisme yang disuarakan pemuda Kota Batu dan Malang raya tersebut berlatar belakang kondisi lingkungan kian hari semakin kritis dan pembangunan yang kurang mengindahkan lingkungan semakin massif.

Menurut Konsorsium Pembaruan Agraria, organisasi payung non-pemerintah tingkat nasional yang berdiri sejak 1994, sengketa agraria di Indonesia mencapai 450 konflik sepanjang 2016. Mayoritas konflik muncul dari sektor perkebunan 163 kasus, properti 117 kasus infrastruktur 100 kasus, kehutanan 25 kasus, tambang 21 kasus, migas 7 kasus, pesisir-kelautan 10 kasus, dan pertanian 7 kasus.

Melalui sektor infrastruktur, proyek pemerintah kerap menjadi pemicu kasus tersebut. misalnya, terjadi di Sukamulya, Jawa Barat. Pada 17 November lalu lahan pertanian warga di sana dirampas untuk pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat. Warga ditembaki gas air mata oleh polisi. Tujuh petani ditangkap. Belasan luka-luka. Rencana serupa, dan penolakan yang sama oleh warga, masih bergolak di Kulonprogo, Yogyakarta.

Di sektor pertambangan, upaya eksploitasi karst oleh PT Semen Indonesia di Rembang, Jawa Tengah, juga berbuntut panjang. Warga yang menolak penambangan berseteru dengan pemerintah. Warga mengajukan gugatan hukum ke Mahkamah Agung untuk mengevaluasi izin penambangan yang diteken Gubernur Ganjar Pranowo.

Pada Oktober 2016, MA memenangkan warga dan memerintahkan gubernur mencabut izin. Meski begitu, masalah tak seketika rampung. Pemerintah masih ngotot penambangan terus jalan.

Di kawasan pesisir ada konflik berujung kematian yang menimpa Salim Kancil, petani Desa Selok Awar-Awar, Lumajang, Jawa Timur. Dia menolak penambangan pasir besi pada 2015. Sampai sekarang konflik di sana belum tuntas.

Kasus terbaru di pesisir pantai Parangkusumo, Yogyakarta. Belasan rumah warga di atas gumuk pasir dirobohkan pada 14 Desember 2016 oleh Satuan Polisi Pamong Praja Bantul serta aparat gabungan polisi dan tentara.

WALHI dalam risetnya di Kota Batu, pada tahun 2007 mencatat ada 111 titik sumber air yang aktif dan produktif menghasilkan air. Namun, pada akhir 2016 kemarin WALHI mengamati bahwa sumber air yang aktif hanya 50 persen saja, sekitar 57 sumber mata air yang masih aktif.

“Di Malang, terakhir ada sekitar 873 sumber mata air yang aktif pada tahun 2007, namun kini menyusut hingga 1/3nya,” jelas Dewan Daerah WALHI Malang tersebut.

Sumber air patut dijaga dan dilestarikan, tercatat di dunia hanya ada sekitar 2,5 persen sumber air tawar, yang lainnya adalah air asin, payau dan lainnya. Ratusan negara akan memperebutkan air tersebut kelak yang dinamakan Water wars.  Jika ini tidak dikelola dengan baik maka kita hanya seperti tuan yang tak pernah merasakan kenikmatannya.

Kondisi lingkungan yang kian hari makin kritis perlu menjadi refleksi bersama untuk menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan karena sudah menjadi tanggung jawab makhluk hidup. “Ambil bagian dari perjuangan lingkngan, maka sama seperti kau memperjuangkan kehidupan! Merdeka Indonesia! Merdeka dari Penindas Lingkungan! Salam Lestari!,” tutup pria yang akrab disapa Mas Pupung tersebut.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here