Penambangan Pasir Kuarsa Ilegal Rawan Picu Konflik Sosial di Tuban

0
697
Alat berat terus mengeruk potensi pasir kuarsa di salah satu lokasi penambangan pasir kuarsa di Telogoagung, Bancar Tuban

Nusantara.news, Tuban – Besarnya kandungan sumber daya alam (SDA) yang tersimpan di perut bumi Kabupaten Tuban, menjadi incaran eksplorasi besar-besaran. Indikasi ini harus jadi perhatian serius otoritas setempat. Jika tidak, rawan memicu konflik ketika eksplorasi dilakukan berdampak pada hajat hidup manusia.

Gejolak ini yang kini terasa di Desa Wukirharjo, Kecamatan Parengan. Warga desa mulai meradang dengan aktivitas penambangan pasir kuarsa yang menggunakan akses jalan kabupaten sejak 2 bulan terakhir. Dampak awal yang dirasakan adalah rusaknya jalan sepanjang 5 kilometer akibat dilalui puluhan truk besar setiap harinya. Padahal jalan itu merupakan akses masuk ke kawasan wisata pemandian air hangat Prataan yang masuk areal Perhutani.    

Kepala Desa Wukirharjo Yuliati mengungkapkan, penambangan pasir kuarsa itu juga tidak sesuai izin awal yakni untuk perumahan. “Pemiliknya Handoko warga Bojonegoro yang lantas menyerahkan pengelolaannya kepada Martono warga Kecamatan Jatirogo yang dipercaya sebagai mandor sekaligus pencari pembeli pasir kuarsa,” terangnya.

Lokasi tambang yang berada di sisi utara Petak 41-E (Pal B391) RPH Gebalan, BKPH Parengan Selatan, KPH Parengan memang milik pribadi. Namun secara administrati masuk Dusun Gebalan Desa Wukirharjo. Karena rasa tanggung jawab institusional ini, Yuliati berharap Pemkab Tuban segera menindaklanjuti keresahan warganya. “Apalagi pekerjanya tidak ada yang dari sini, sehingga kontribusinya kepada desa juga nol,” tegasnya.

Status lahan ini juga dibenarkan Wakil Adm KPH Parengan Hendra. “Hasil pemeriksaan ada 2 titik penambangan. Yang pertama menggunakan alat berat sekitar 1 kilometer sisi utara Petak 41-E. Sedangkan penambangan manual ada di sisi timur Petak 41-F. Tidak ada yang masuk akwasan hutan,” terangnya.

Informasi terakhir, hingga Kamis (30/3/2017) aktivitas penambangan pasir kuarsa terhenti. Ada indikasi pemilik tambang tiarap ketika aktivitasnya mulai memunculkan keresahan warga. Apalagi setelah Pemkab Tuban melalui Kabag Humas dan Protokol Agus Wijaya berjanji akan memeriksa kelengkapan syarat administrasinya. “Kami akan mengecek dulu ke Badan Perizinan terkait keberadaan penambangan pasir kuarsa di Wukirharjo,” katanya.

Namun ada yang janggal jika aktivitas pertambangan yang masif tersebut tidak terpantau pemkab. Apalagi sudah berlangsung 2 bulan terakhir dan melibatkan puluhan truk besar setiap hari tanpa mengenal hari libur. “Kan aneh mas. Dump truk itu hilir mudik mulai pukul 07.00 WIb hingga 17.00 WIB kok sampai tidak tahu. Itu jalan yang rusak juga jalan kabupaten lho,” terang seorang warga yang kebetulan melintasi jalan rusak.

Selain di Wukirharjo, pengolahan pasir kuarsa juga sempat membuat petani di Desa Kedungjambe juga resah pada 2014 lalu. Air untuk pencucian pasir sempat masuk ke saluran irigasi yang lokasinya ada di sisi jalan provinsi. Pencucian ini untuk memisahkan butiran halus pasir dengan silika yang menjadi komoditi penting dalam beberapa produk industri, semisal semen.

Padahal limbah dari proses pencucian ini berdampak buruk bagi tanaman. Selain itu, bahan baku air pencucian mengambil dari Kali Bokong di Dusun Kenthi, Desa Talangembar, Kecamatan Montong yang dibutuhkan untuk mengairi areal persawahan di sepanjang aliran sungai.

Dalam dunia perindustrian pemakaian pasir kuarsa memang terus meningkat. Baik sebagai bahan baku pokok maupun bahan pelengkap. Sebagai bahan baku utama, contohnya untuk industri industri gelas kaca, tegel, semen, mosaik keramik, bahan baku fero silikon, silikon carbide bahan abrasit (ampelas dan sand blasting).

Sedangkan sebagai bahan pelengkap, misalnya pada pengecoran, industri perminyakan dan pertambangan, bata tahan api (refraktori) atau bata ringan, dan lain lainnya. Manfaat pasir silika yang lainnya adalah dalam pembuatan semen yang dibarengi dengan batu kapur, tanah liat dan pasir besi.

Melihat banyaknya sisi positif itu, komiditi pasir kuarsa di tuban memang sangat menggiurkan. Namun kembali lagi kepada penataan manajemen lingkungan. Selain memperketat pengawasan, stake holder setempat juga harus mempertimbangkan kesejahteraan warga dan kelangsungan ekologisnya sebagai salah satu daerah yang dianugerahi bentangan bukit kapur terbesar di Indonesia. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here