Penasihat Keamanan Nasional Trump Mundur, Ada Apa?

0
88
Foto: Getty Images

Nusantara.news, Washington – Di tengah kegaduhan pemerintahan Donald Trump akibat sejumlah kebijakan kontroversial yang dikeluarkannya, penasihat keamanan nasional Presiden Amerika Serikat, Michael Flynn, mengundurkan diri dari jabatannya. Flynn mundur lantaran terlibat skandal kontak dengan pejabat Rusia sebelum Trump terpilih sebagai presiden.

Ada apa sebenarnya? Apakah semata-mata karena jalinan kontak Flynn dan pihak Rusia yang dianggap ilegal menurut etika diplomasi AS, atau ada rahasia yang lebih besar di balik itu antara Trump dan Rusia?

Pernyataan pengunduran diri Flynn disampaikan pada Senin (13/2) malam, menyusul laporan Kementerian Kehakiman AS yang memperingatkan pemerintahan Trump beberapa minggu lalu bahwa komunikasi yang pernah dilakukan Flynn bisa dijadikan sebagai posisi tawar untuk menduduki jabatannya.

Menurut Kementerian tersebut, komunikasi yang dibangun oleh perorangan dianggap ilegal dalam diplomasi AS.

“Saya pernah menjelaskan kepada wakil presiden terpilih dan beberapa pejabat lainnya bahwa saya pernah melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Duta Besar Rusia,” demikian salah satu poin pernyataan Flynn dalam surat pengunduran dirinya.

“Saya mengajukan pengunduran diri, merasa terhormat telah melayani Presiden Trump meskipun hanya tiga minggu untuk mengembalikan orientasi kebijakan luar negeri AS dalam posisinya memimpin dunia,” ucapnya sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (14/2).

Untuk sementara, posisi Flynn digantikan oleh Jenderal (purn.) Keit Kellog yang saat ini menjabat kepala Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, sebelum Trump menunjuk pejabat yang bakal mengisi kekosongan tersebut.

“Kellogg (purnawirawan jenderal), David Petraeus mantan direktur CIA, dan Robert Harward mantan wakil komandan Komando Pusat AS dipertimbangkan untuk mengisi posisi tersebut,” kata seorang pejabat Gedung Putih.

Flynn telah mengaku kepada Pence bahwa dia tidak membahas masalah sanksi AS dengan Rusia, namun transkrip komunikasi yang disadap, yang dijelaskan oleh para pejabat AS, menunjukkan bahwa Flynn telah melakukan kontak dengan Duta Besar Rusia untuk Amerika Serikat, Sergey Kislyev.

Kontak tersebut berpotensi melanggar hukum yang melarang warga negara AS untuk terlibat dalam kebijakan luar negeri, yang dikenal sebagai ‘Undang-undang Logan’.

Pengunduran diri Flynn tergolong dramatis karena di tengah berbagai isu internal yang berulang kali menerpa Gedung Putih.

“Sayangnya, karena peristiwanya begitu cepat, saya secara tidak sengaja telah memberikan penjelasan yang tidak lengkap kepada wakil presiden,” kata Flynn dalam surat pengunduran dirinya.

Flynn adalah seorang pensiunan Angkatan Darat AS pendukung utama Donald Trump. Dia cukup berperan dalam kebijakan luar negeri AS terutama untuk mencoba membujuk Trump menghangatkan hubungan dengan Rusia.

Seorang pejabat AS mengatakan, mundurnya Flynn, mengurangi penasihat Trump yang paling getol membujuknya untuk mengambil sikap lunak terhadap Vladimir Putin, di tengah agresi militer Rusia di Ukraina dan Suriah serta menguatnya penolakan Kongres Partai Republik terhadap penghapusan sanksi Rusia.

Seorang pejabat lainnya berpandangan bahwa kemunduran Flynn mungkin saja justru memperkuat pengaruh beberapa sekretaris kabinet, termasuk Menteri Pertahanan Jim Mattis dan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson. Tidak adanya Flynn juga bisa memperkuat pengaruh  pembantu presiden Steve Bannon dan Stephen Miller yang semakin dekat dengan ‘telinga’ Presiden.

Sementara itu, Kongres Demokrat mengingatkan agar pemerintah menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi terkait kemunduran Flynn.

“Kami akan berkomunikasi dengan Departemen Kehakiman dan FBI,” kata perwakilan Demokrat John Conyers dari Michigan dan Elia Cummings dari Maryland.

Senator Demokrat yang lain, Adam Schiff dari California mengatakan, kemunduran Flynn tidak mengakhiri pertanyaan terkait kontak dengan Rusia.

“Apakah dia bertindak atas instruksi Presiden atau pejabat lain, atau atas sepengetahuan mereka,” kata Schiff.

Sementara itu, juru bicara Vladimir Putin, Dmitry Peskov, dalam menanggapi pengunduran diri penasihat keamanan nasional Trump mengatakan bahwa topik sanksi Rusia, sebagaimana dituduhkan dalam kontak Flynn dan Rusia, tidak pernah dibahas.

Kejadian ini tentu amat disayangkan oleh lawan-lawan politik Trump, di bulan pertama pemerintahan baru Trump seharusnya dia fokus membangun momentum, membuat kebijakan-kebijakan sesuai harapan pemilih, dan memulai janji menjadikan AS “Great Again”.

Tapi yang terjadi sebaliknya, pemerintahan Trump dipenuhi dengan pertikaian di kalangan internal, dan sejumlah kebocoran informasi yang berujung mundurnya salah satu penasihat senior.

Mereka, sebagaimana juga kebanyakan kalangan di dunia, ingin mengetahui sesungguhnya apa dan bagaimana percakapan yang dilakukan Flynn. Apakah atas inisiatif dia sendiri, atau ada pihak lain, atau atas perintah Presiden?

Sampai saat ini, belum ada bukti yang menunjukkan kalau Sang Presiden terlibat dalam skandal tersebut. Tapi ada pertanyaan serius di kalangan lawan politik Trump, kenapa Flynn tidak cepat dicoret dari jabatannya jika laporan dari Departemen Kehakiman itu datang beberapa minggu lalu.

Masalah ini jika tidak terselesaikan dengan baik tentu saja akan menjadi batu sandungan bagi Presiden Donald Trump dalam pemerintahannya ke depan.

Michael Flynn: Pro-Rusia dan fokus pada ekstrimisme Islam

Michael Flynn adalah seorang mantan kepala intelijen militer yang melihat Islam militan sebagai ancaman utama bagi stabilitas global.

Pria 58 tahun, pensiunan jenderal bintang tiga itu, adalah pendukung utama Trump dan termasuk yang paling keras mengkritik Hillary Clinton selama masa kampanye Pemilu AS lalu.

Namun nasib Flynn terhenti di tengah jalan akibat skandal kontak dengan duta besar Rusia yang dilakukannya sebelum Trump dilantik sebagai presiden AS.

Flynn pernah menjabat sebagai kepala Badan Intelijen Pertahanan pada tahun 2012 di era Obama, tapi dia terlempar pada saat terjadi restrukturisasi.

“Kami mengalahkan Hitler karena hubungan kita dengan Rusia,” kata Flynn kepada Washington Post Agustus tahun lalu.

“Kami memiliki masalah dengan Islam radikal dan saya benar-benar berpikir bahwa kita bisa bekerja sama dengan mereka (Rusia) melawan musuh ini,” lanjutnya.

Flynn memiliki karir militer profesional terutama di unit intelijen. Tahun 2000-an dia bertugas di Irak lalu Afghanistan, dimana dia menjadi direktur intelijen bagi pasukan koalisi.

Setelah meninggalkan Badan Intelijen Pertahanan, Flynn berulang kali mengkritik pemerintahan Obama karena tidak cukup fokus menghadapi ancaman Islam. Dia pernah menerbitkan buku berjudul, “The Field of Fight: How We Can Win the Global War Against Radical Islam and Its Allies.”

Dalam bukunya, dia menulis  bahwa negara-negara Muslim harus dipaksa untuk mengakui dan membasmi keyakinan Islam radikal.

Seperti halnya Trump, Flynn juga mengkritik sekutu AS di NATO karena mereka tidak punya cukup usaha dan dana dalam perjanjian pertahanan yang penting bagi Barat. [ ] (berbagai sumber)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here