Penembakan Sekolah Kembali Terjadi di Texas, 10 Tewas

0
97
Tersangka dan korban penembakan brutal di SMA Santa Fe, Texas

Nusantara.news, Santa Fe – Setelah penembakan di SMA Marjory Stoneman Douglas di Parkland, Florida, yang menewaskan 17 orang, kini penembakan sekolah kembali terjadi di SMA Santa Fe yang sedikitnya menewaskan 10 orang pada Jumat (18/5) sekitar pukul 08.00 pagi waktu setempat.

Kejadian itu bermula ketika seseorang bersenjatakan pistol jenis “soft gun” menerobos sekolah dan melepaskan tembakan secara membabi buta. Awalnya pihak sekolah enggan menyebutkan berapa jumlah korban tewas dan luka-luka.

“Yang kami tahu kami seorang penembak masuk ke Gedung itu dan orang itu telah ditangkap dan diamankan,” ujar Asisten Kepala Sekolah Chris Richardson kepada wartawan. “Kami berharap yang terburuk selesai.”

Kejadian Menakutkan

Seorang saksi mata – Gonzalez – mengatakan dua pria berusia pelajar ditahan setelah terjadinya penembakan. Tercatat seorang perwira polisi yang cedera sedang dirawat, seberapa parah dia cedera belum diketahui. Namun Gonzalez tidak memiliki identitas siapa kedua tersangka dan siapa perwira polisi yang terluka tembakan.

Korban yang selamat dari penembakan dijemput orang tuanya

Sejumlah pelajar yang selamat dari penembakan menuturkan mereka mendengarkan bunyi alarm kebakaran selanjutnya terdengar suara tembakan sebelum pukul 8 pagi waktu setempat. “Tidak ada yang tahu apa yang harus dilakukan,” ungkap seorang pelajar yang menangis saat ditemui wartawan NBC lokal. “Tidak ada yang bisa dilakukan selain lari.”

Pelajar lainnya mengungkap penembakan terjadi di kelas seni. “Itu sangat menakutkan,” ujarnya pelajar perempuan itu kepada wartawan. “Kakakku ada di kelas itu saat penembakan terjadi.”

Tampak pula seorang pelajar perempuan yang dievakuasi tampak berpelukan dengan kedua orang tuanya saat dia dijemput di luar sekolah. Dia tampak ketakutan. Sedangkan deputi sheriff County Galveston tampak sibuk mengamankan lokasi.

“Saya bergegas ke sini secepat yang saya bisa,” terang Shannon Curry yang putrinya Paige Curry memberi tahu orang tuanya saat terjadinya penembakan itu. “Dia menelepon saya dan mengatakan ada penembakan di sekolah. Saya menyuruh untuk mendengarkan gurunya dan tetap di (lantai) bawah.”

Saksi mata lainnya menyebutkan penembakan terjadi sekitar pukul 07.30-07.45 waktu setempat. Saat peristiwa terjadi, ungkap seorang murid, mereka sedang mengikuti simulasi kebakaran.

“Kami semua berdiri (di luar), tapi tidak ada lima menit, kami mulai mendengar suara tembakan dan seluruh orang mulai berlarian. Tapi para guru menginstruksikan aga tetap diam di tempat, tapi kami tetap berlari,” kata Angelica Martinez dilansir dari CNN, Jumat (18/5) malam.

“Saya tidak melihat seseorang menembak, tapi seperti suara (tembakan) terdengar,” imbuhnya.

Angelica mengatakan dia juga mendengar alarm kebakaran. Angelica tidak merinci apakah suara alarm itu terdengar sebelum atau sesudah suara tembakan di kelas seni.  “Saya tidak melihat (pelaku). Saya hanya berlari,” katanya.

Saksi lainnya, Dakota Shrader, mengatakan dia mendengar suara tembakan setelah alarm kebakaran berbunyi. “Saya sedang di lorong kelas sejarah, dan tak lama setelah kami mendengar alarm, semua orang mulai mengikuti prosedur simulasi kebakaran.” kata Shrader sambil meneteskan air mata.

“Dan setelah itu, kami hanya mendengar tiga suara tembakan, bunyi ledakan keras, dan seluruh guru mengingatkan kami untuk segera melarikan diri,” jelasnya.

Tidak Terdeteksi

Saat penembakan terjadi, seorang lelaki yang mengenakan atribut bendera Amerika dan topi bertuliskan “Make Great American” dan pistol di sampingnya tiba-tiba muncul di luar sekolah yang langsung dihadang oleh polisi. “Si bodoh ini sedang petentang-petenteng di jalanan membawa pistol,” ujar polisi.

Berdasarkan cuitan Twitter @SSanchez_TV selaku kontributor sejumlah media di Santa Fe, ditulisnya BREAKING: Tersangka dari lokasi penembakan SMA Santa Fee sudah dibawa ke Penjara Galveston County. Dia diindikasikan bernama Dimitrios Pagourtzis. Menjadi tahanan untuk pembunuhan keji – dengan ancaman hukuman mati (capital murders), tidak diborgol.

Tersangka pembunuhan dengan ancaman hukuman mati (Capital Murders)

Gubernur Texas Greg Abbott tidak melihat tanda-tanda periingatan (red flag) sebelum terjadinya penembakan. Satu-satunya tanda adalah halaman Facebook tersangka yang mengenakan T-shirt bertuliskan “born to kill” – terlahir untuk membunuh – dan itu tidak bisa dianggap sebagai peringatan. Karena banyak anak remaja seusianya yang menggunakan T-shirt serupa.

Beruntung polisi cepat bertindak sehingga tidak menimbulkan korban yang lebih banyak lagi. Namun polisi yang secara sigap membekuk pelaku menganggapnya hal biasa. Karena itu tugas rutinnya sebagai polisi. Stephen McCraw dari polisi negara bagian Texas menyebutkan petugas sudah menjalankannya sesuai protokol.

“Ketika anda mendapatkan panggilan seperti ini, setiap petugas polisi di mana pun Anda berada, harus segera bergerak mengamankan pelaku. Tidak ada alternative. Karena setiap detik berarti orang lain akan mati. Dan kami terbiasa menghadapi situsi seperti ini,” ujarnya.

Korban tewas akibat penembakan brutal yang semula dilaporkan 8 orang itu hingga berita ditulis sudah bertambah menjadi 10 orang. Polisi menyebut korban tewas sebagian besar adalah pelajar di sekolah itu. Sebagaimana dikutip dari CNN, Sabtu (19/5), polisi setempat menyebutkan sembilan orang yang tewas adalah pelajar dan satu orang lainnya guru. Dua orang polisi juga terluka saat berusaha mengamankan si penembak.

Tim penjinak bom pun dikerahkan

Di lokasi penembakan polisi juga menemukan alat peledak berupa pipa pom dan penanak nasi (rice cooker). Selain itu, sebanyak 12 orang dilarikan ke rumah sakit. Para korban ini dilarikan ke tiga rumah sakit terdekat. Sebanyak 7 orang dibawa ke rumah sakit Clear Lake di Webster, tiga korban dibawa ke John Sealy Hospital di Galveston, dan dua sisanya dilarikan ke Mainland Medical Center di Texas City.

Rawan Konflik

Presiden Donald Trump langsung merespon melalui kicauan di Twitternya. Dia menyampaikan ucapan duka cita kepada keluarga korban tewas. “Kami bersama kalian di momen yang sangat tragis ini, dan kami akan terus bersama kalian selamanya,” kata Trump dalam twit-nya.

Twitter milik David Hogg

Sedangkan di Florida – aktivis pelajar yang juga satu di antara penggerak demo pelajar AS yang berhasil menghimpun 800 ribu warga satu pekan setelah penembakan Parkland, David Hogg (17) – pada akun Twitter @davidhogg111 menyindir dengan ungkapan: “Bersiaplah selama dua minggu liputan media tentang politisi yang bertindak seperti mereka peduli ketika kenyataannya mereka hanya ingin meningkatkan popularitas menjelang pemilu sela.

Santa Fe adalah kota yang di masa lalu sempat menjadi rebutan antara Meksiko dan Amerika Serikat – berlokasi sekitar 200 mil dari kota Sutherland Springs, Texas – tempat di mana lelaki bersenjata menerobos masuk ke dalam gereja pada musim gugur lalu dan membunuh 26 jemaat – hampir setengah di antara mereka anak-anak – dengan senjata senapan Ruger.

Ketegangan etnis sudah berlangsung sejak lama di daerah ini. Kini ketegangan etnis kembali meningkat dengan tampilnya Presiden AS Donald Trump yang kemenangannya banyak disokong oleh kelompok-kelompok supremasi kulit putih. Sebagai catatan, pelaku penembakan di Parkland juga didindikasikan pernah berlatih militer di kelompok supremasi kulit putih.

Jadi, kelompok yang potensial menjadi teroris itu bisa berasal dari mana saja. Satu-satunya kesamaan di antara mereka adalah rasis dan anti apa pun yang berbeda dengan kelompoknya.[] Dari berbagai sumber

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here