Penerbangan Surabaya-Sumenep Genjot Ekonomi Madura

0
142
Wagub Jatim Saifullah Yusuf memeriksa pesawat Wings Air (Tudji Martudji)

Nusantara.news, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jatim terus berbenah, membuka daerah-daerah minim sarana transportasi serta meningkatkan konektivitas antar-daerah. Semua dilakukan untuk mempercepatan distribusi barang terutama di wilayah-wilayah kepulauan di Jatim.

Pembenahan itu ditandai dengan peresmian dan pembukaan rute penerbangan baru oleh Maskapai Wings Air, yakni rute Surabaya-Sumenep. Prosesi peresmiannya dilakukan oleh Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, yang juga dihadiri Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jatim, Wahid Wahyudi serta menejeman Wings Air.

“Penerbangan ini merupakan cita-cita sejak lama oleh semua pihak untuk memajukan ekonomi Madura. Diharapkan menjadi bagian dalam mempersempit kesenjangan yang ada,” kata Saifullah di Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, Rabu (27/9).

Wagub Jatim Saifullah Yusuf meresmikan rute penerbangan Surabaya-Sumenep (Tudji Martudji)

Saifullah menyebut, penerbangan Surabaya-Sumenep menjadi kesempatan emas bagi Sumenep dan Madura untuk bisa menjadi lebih maju. Dengan jarak tempuh yang dipersingkat, diharapkan akan percepatan distribusi barang. Gus Ipul–sapaan Saifullah–menambahkan Pemda Sumenep juga harus siap dalam membuat rancangan pengelolaan bandara tersebut termasuk ke depannya. Di Jatim, sejumlah bandara yang sudah dibangun di antaranya di Banyuwangi, Jember dan Malang. Itu diharapkan menjadi pengungkit tumbuhnya perekonomian dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Penerbangan dari Bandara Juanda Surabaya ke Bandara Trunojoyo, Sumenep dilakukan sekali dalam sehari. Harapannya, akan membuka akses ke dunia luar sekaligus melahirkan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Namun, tanpa meninggalkan ciri khas daerah tersebut.
Penerbangan Surabaya ke Sumenep dilakukan menggunakan pesawat berkapasitas 72 penumpang, jadwal penerbangan dengan pesawat ATR-72 500 milik PT Wings Air dilakukan siang hari, pukul 12.40 WIB dan Sumenep-Surabaya pada pukul 13.40 WIB.

“Dengan berfungsinya Bandara Trunojoyo maka alur masuk barang akan semakin meningkat. Contohnya di sekitar Bandara di Banyuwangi tidak diperbolehkan ada bangunan, tujuannya agar tidak meninggalkan ciri khasnya. Sektor pariwisata yang menjadi sasaran Pemda Banyuwangi dengan adanya bandara,” ungkapnya.

Wings Air Layani Rute Surabaya-Sumenep (Tudji Martudji)

Beroperasinya penerbangan Surabaya ke Sumenep dan sebaliknya, diharapkan mendukung adanya bandara di kepulauan di Jatim. Misalnya di Masalembu, Kangean, dan Bawean yang memerlukan jarak tempuh lama agar bisa sampai di sana.  Harapan lainnya agar banyak sektor yang bisa dikelola dengan tersedianya transportasi, seperti sektor pariwisata, perdagangan dan ekonomi yang ikut terungkit.

“Bukan tidak mungkin nanti ada penerbangan dari Banyuwangi ke Sumenep, Jember ke Sumenep, Sumenep ke Bawean. Tujuannya tidak lain demi kemajuan kepulauan di Jatim,” jelasnya.

Cek jalur perintis

Untuk memastikan kesiapan pembukaan jalur penerbangan perintis, Pesawat milik maskapai PT Airfast melakukan penerbangan untuk mengecek rute jalur perintis ke sejumlah bandara di Jatim.

Kepala Unit Penyelenggara Bandara Kelas III Trunojoyo, Sumenep, Wahyu Siswoyo menyebut pesawat milik PT Airfast merupakan operator penerbangan perintis yang mengawali terbang cek rute.

Dibukanya jalur penerbangan itu merupakan keseriusan Pemerintah Provinsi Jatim untuk mengejar ketertinggalan, termasuk Pulau Madura. Harapannya, Madura atau Sumenep akan membuat distribusi ekonomi lebih merata.

“Jadi, pertumbuhan ekonomi tidak hanya dirasakan di Surabaya saja, tapi juga daerah-daerah lain di Jatim,” tambah Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim, Wahid Wahyudi. Pemprov Jatim juga terus berupaya membangun bandara-bandara baru lainnya guna meningkatkan konektifitas antar daerah di Jatim, terutama wilayah kepulauan.

“Saat ini, yang masih dalam kajian adalah pembangunan bandara di Kangean dan Masalembu,” tambah Wahid.

Disebutkan, Kangean dan Masalembu merupakan pintu masuk wilayah Kabupaten Sumenep. Nantinya, secara bertahap Bandara Trunojoyo juga akan menjadi home base penerbangan ke pulau-pulau lain di wilayah Sumenep.

“Ada sekitar 40-an pulau di wilayah Sumenep. Dan semuanya layak untuk dikembangkan guna meningkatkan ekonomi masyarakat setempat,” tegasnya.

Pesawat N-250 Gatot Kaca, Buatan Anak Bangsa

Kemandirian Dirgantara

Sebelumnya, pada peringatan HUT Republik Indonesia ke-72, pemerintah dengan semangat kemerdekaan dan kemandirian bangga dengan produksi pesawat terbang buatan anak bangsa sendiri. Pesawat terbang N219 buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dilakukan uji terbang di atas langit nusantara, yang dibiayai Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).

Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin mengatakan, sebelum menjalani terbang perdana, pesawat N219 harus mengantongi izin dari Kementerian Perhubungan sebagai otoritas penerbangan. Pesawat N219 merupakan pesawat angkut ringan yang memiliki kemampuan beroperasi di daerah penerbangan perintis, daerah terpencil dan pedalaman yang bandaranya tak terlalu panjang.

Keberadaan N219 diharapkan mampu menjawab kebutuhan melayani operasional bandara perintis. Serta diharapkan juga mampu menguasai pasar pesawat terbang di kelasnya. Selain pesawat N219, Indonesia juga menunggu hadirnya pesawat penumpang regional untuk jarak pendek, bermesin twin-turboprop, R80. Pesawat buatan Ilthabi Rekatama, PT Eagle Capital bersama PT DI itu ditargetkan terbang di langit nusantara pada 2023, sebab Purwarupa R80 akan dimulai 2018 dan rampung 2021.

Seperti halnya pesawat N219, pembuatan pesawat R80 yang dikawal oleh Ilham Habibie itu mempunyai semangat untuk meneruskan peluang emas kemandirian industri dirgantara Indonesia sejak 1995.

Pada 22 tahun lalu, Indonesia sudah menapaki jalur tinggal landas untuk membangun kemandirian industri pesawat dalam negeri dengan keberhasilan uji terbang pesawat N250. Namun akhirnya akibat krisis ekonomi 1997, proyek ini dipaksa berhenti. Kemajuan dari N219 dan R80 disambut gembira disertai harapan tinggi pemangku kepentingan industri penerbangan dalam negeri.

Mantan Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, Andi Alisjahbana, yakin N219 bisa mulus terbang di langit Indonesia. Sebab pesawat ini memang dihadirkan sesuai dengan karakter wilayah Indonesia.

“Pesawat N219 ini memang dirancang dan dibuat dengan teliti oleh anak bangsa sehingga sesuai dan cocok untuk keperluan transportasi antar pulau dan pedalaman di Indonesia,” jelas Andi yang kini menjabat Tenaga Ahli Bidang Pengembangan Pesawat Terbang PT DI.
Dia berharap, N219 sesuai yang diinginkan bisa menopang dan menghubungkan antar daerah di Indonesia. Di luar itu, pesawat ini bisa membuat penduduk pedalaman bisa terakses dengan dunia luar tak seperti sebelumnya.

Pesawat anak bangsa tersebut ibarat oase di tengah mati surinya industri penerbangan tanah air sejak 19 tahun terakhir. Mantan Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal menuturkan, pesawat R80 momen kebangkitan industri. Untuk itu dia berharap R80 didukung penuh pemerintah. Sebab pembangunan pesawat regional penumpang ini butuh dana paling tidak US$600-700 juta. Dana itu dipakai mulai dari engineering, purwarupa, dan pengujian pesawat terbang baik di darat maupun udara. Ia pun mendukung pembuatan R80 sehingga bisa bersaing dengan beberapa negara yang masih membuat pesawat jenis serupa.

Jusman menuturkan, hadirnya R80 jangan sampai mengulang kisah getir N250, yang dihentikan paksa oleh Dana Moneter Internasional atau IMF. Jusman yang merupakan bagian dari tim pengembangan N250 merasa IMF adalah biang dari mati surinya industri penerbangan Tanah Air.

Sebab, di dalam nota kesepakatan yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto pada 15 Januari 1998 itu, pemerintah melalui APBN dilarang menggelontorkan dana untuk IPTN (sekarang PTDI). Fase buruk ini terjadi hampir tiga tahun setelah N250 berhasil terbang perdana. Kala itu, N250 membutuhkan jam terbang minimal 2.000 jam untuk mendapatkan sertifikat Federal Aviation Administration (FAA) dari Amerika Serikat.

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here