Pengamat Nilai Jokowi Tak Main Main Akan Gebuk Kelompok PKI

0
293

Nusantara.news,  Jakarta – Setelah Menko Polhukam mengumumkan akan membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang dinilai bertentangan dengan Pancasila dan mengancam keutuhan NKRI, giliran Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan pernyataan keras terhadap kelompok radikal komunis. “Kalau PKI nongol, ya kita gebuk,” tegas Jokowi.

Pernyataan keras Jokowi dilontarkan saat bertemu para pemimpin redaksi sejumlah media massa di Istana Negara, Jakarta, Rabu (17/5/2017).

Pada bagian lain, Presiden Jokowi mengatakan, semua gerakan yang anti Pancasila dan mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan digebuk. Secara spesifik Jokowi menyebut akan menggebuk kelompok komunis bila berani menampakkan diri.  “Kalau PKI nongol, ya kita gebuk,” katanya tegas.

Pengamat politik yang juga konsultan media, Hersubeno Arief mengapresiasi  dan menilai pernyataan Jokowi tersebut serius yang tidak main-main. “Ada beberapa alasan mengapa saya katakan pernyataan Jokowi serius,” kata Hersubeno Arief di Jakarta, Jumat (19/5/2017).

Jokowi, katanya, adalah sosok pemimpin Jawa yang lebih banyak menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan maksud atau keinginannya.

“Jokowi lahir di Solo juga menikah dengan putri Solo bernama Iriana. Kultur Mataram berbeda dengan Jawa Ngapak (Banyumasan), apalagi dengan budaya Arek di Jawa Timur. Kedua sub kultur ini relatif lebih terbuka, egaliter dan blak-blakan. Sementara, Jawa Mataram adalah sebuah sub kultur Jawa yang sangat halus dengan ciri kemampuan pengendalian diri yang sangat ketat. Penuh sanepo, perlambang, simbolisasi,” papar Harsu  dalam keterangan tertulis yang diterima Nusantara.news, Jumat (19/5/2017).

Dia mencontohkan bagaimana Jokowi menggertak Ketua Umum DPP Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang giat melakukan safari politik ke sejumlah wilayah di Jawa. Tour SBY keliling Jawa itu dianggap sebagai serangan ke Jokowi.

Lantaran itu Jokowi tiba-tiba mengunjungi proyek fasilitas atlet dan olahraga di Hambalang, Bogor.

“Di lokasi proyek yang terbengkalai ini Jokowi tidak melakukan apa-apa. Hanya berkunjung, melihat-lihat dan difoto oleh media. Tidak ada kata-kata keras. Pesannya jelas ditujukan kepada mantan Presiden SBY yang tengah melakukan safari ke berbagai kota di Jawa,” katanya.

Jokowi mengunjungi proyek Hambalang, karena dalam proyek bermasalah ini banyak menyeret kader Demokrat masuk penjara. Seperti Anas Urbaningrum, Nazaruddin, Angelina Sondakh, Andi Mallarangeng, bahkan mungkin masih banyak lainnya.

“Jadi, pesan yang ingin disampaikan Jokowi saat mengunjungi Hambalang adalah awas jangan teruskan lagi keliling Jawa,” tutur Harsubeno.

Dan, kini Jokowi sudah tidak menggunakan simbol-simbol lagi untuk menyampaikan keinginannya. Secara langsung, Jokowi menyebut akan menggebuk PKI jika berani muncul. Artinya, kemarahan Jokowi sudah tidak bisa disembunyikan lagi.

Pernyataan Jokowi itu sekaligus untuk membantah kabar miring tentang dirinya yang dicap bagian dari PKI. Seperti dilontarkan sendiri oleh Jokowi menjawab isu tersebut.

“Saat PKI dibubarkan, saya masih berumur 4 tahun. Saya lahir jelas, orang tua jelas. Silakan dicek. Tapi setelah orang tua saya jelas tak terlibat PKI,  kok dibilang itu bukan ibu saya. Kalau seperti itu terus ya tidak rampung-rampung,” ujar Jokowi geram.

Isu soal asal usul Jokowi dari keluarga PKI sempat menjadi ramai dibicarakan. Terlebih, muncul buku terlarang berjudul “Jokowi Undercover” yang ditulis oleh Bambang Tri Muyono. Penulisnya kini sudah ditahan kepolisian, namun kelanjutan kasusnya tak pernah terdengar lagi.

Dalam kosmologi Jawa, lanjut Hersubeno, para penguasa mempunyai ilmu sakti berupa ajian idu geni  (ludah api). Siapa saja yang terkena ludah atau kata-katanya, bisa mati.

Namanya juga presiden atau dalam kultur Jawa disebut sebagai raja, ratu.

Pertanyannya adalah, siapa kelompok PKI dimaksud yang akan terkena ajian idu geni sang penguasa?

Untuk kelompok kanan, penguasa sudah jelas menuding HTI. Lantas, bagaimana dengan kelompok kiri? Siapa mereka?

Nah, di PDI-P ada kadernya yang sudah mengaku sebagai anak PKI. Kader tersebut adalah anggota DPR RI dari PDIP Ribka Tjiptaning. Ribka malah sudah terbuka soal PKI melalui bukunya berjudul “Aku Bangga Jadi Anak PKI.”

Tetapi apakah PDIP bisa disebut dijadikan tempat bergerak kader komunis? Tudingan seperti ini pernah dilontarkan dosen Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA), Alfian Tanjung. Akibatnya Alfian digugat dan kasusnya ditangani aparat Polda Metro Jaya.

Beberapa waktu lalu, Alfian juga menuding Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Teten Masduki sebagai kader PKI dan menyebut Kantor KSP sering dijadikan tempat rapat kelompok PKI.

Tudingan ini juga menuai reaksi keras dari Teten Masduki.

Teten melalui kuasa hukumnya Ifdhal Kasim sempat akan melaporkan Alfian ke Polda Metro Jaya. Namun, hingga kini kelanjutan rencana itu tidak jelas lagi kabarnya.

Komunis atau khilafah sebagai ideologi, jelas ada.  tetapi tidak mudah untuk membuktikan seseorang atau kelompok tertentu beraliran kiri atau kanan. Semua harus dibuktikan melalui jalur hukum.

Salah-salah, bisa berbalik dituduh fitnah. Kecuali, jika seseorang atau kelompok itu sendiri sudah mengakui keberadaannya sebagai pengikut atau bagian dari kelompok kiri atau kanan, mungkin lebih mudah. Lalu apa arti gebuk komunis jika nongol? Apakah sudah identifikasi seperti HTI? Kita tunggu. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here