Pengaruh Tjokroaminoto Terhadap Nasionalisme Islam Soekarno

0
582

Nusantara.news, Jakarta – Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto adalah seorang tokoh pergerakan, pemikir, dan pemimpin organisasi politik terbesar yang sangat berpengaruh di tanah Hindia Belanda pada awal abad ke-20, yaitu Sarekat Islam. Ia diakui sebagai pelopor gerakan kebangsaan yang paling awal, dan guru para pendiri bangsa (mulai dari Soekarno, Kartosoewirdjo, Moesso, Semaun, hingga Buya Hamka). Dialah orator ulung keturunan kiyai (Kasan Basari dari Pesantren Tegalsari) dan priyayi (keturunan Susuhunan Pakubuwono III ) yang oleh sebagian peneliti disebut sebagai “Bapak Nasionalisme Indonesia”.

Salah satu trilogi darinya yang termasyhur adalah Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. Ini menggambarkan suasana perjuangan Indonesia pada masanya yang memerlukan tiga kemampuan pada seorang pejuang kemerdekaan. Dari berbagai muridnya yang paling ia sukai adalah Soekarno hingga ia menikahkan Soekarno dengan anaknya yakni Siti Oetari, istri pertama Soekarno. Pesannya kepada Para murid-muridnya ialah “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.”

Rumah Tjokraominoto di Gang Peneleh 7 no 29-31, Surabaya. Di rumah inilah Soekarno, dan dua puluh pemuda lainnya termasuk Semaun, Kartosowerijo, Moeso, Darsono, indekost dan menempa keindonesiaan bersama Tjokroaminoto

Tjokroaminoto menggunakan Islam sebagai ideologi pemersatu dalam mengusung gerakan kebangsaannya, mengingat agama Islam adalah agama mayoritas yang dianut bangsa Indonesia. Di samping ajaran-ajaran Islam sendiri yang mengandung nilai-nilai persaudaraan, pembebasan, dan persamaan, juga dinilai tepat sebagai alat perlawanan terhadap kolonialisme. Islam, di sisi yang bersamaan menjadi satu identitas pembeda terhadap identitas Barat yang kafir dan penjajah.

Dalam Kongres Central Sarekat Islam (CSI) di Bandung (1916), Tjokroaminoto mengatakan bahwa: ”Kita cinta bangsa sendiri dengan kekuatan ajaran agama kita, agama Islam, kita berusaha untuk mempersatukan seluruh bangsa kita, atau sebagian besar dari bangsa kita. Kita cinta tanah air, dimana kita dilahirkan…..”

Menurut Tjokroaminoto, Islam sepertujuh bagian rambut pun tidak menghalangi dan merintangi kemajuan nasionalisme yang sejati, tetapi justru memajukan. Nasionalisme yang dimajukan oleh Islam bukanlah nasionalisme yang sempit dan berbahaya, tetapi yang menuntun kepada penghambaan kepada Allah. Oleh karena itu, Islam dan Nasionalisme menurutnya adalah sebuah pertalian yang tak dapat dipisahkan.

Tjokroaminoto bersama istri (Soeharsikin)

Pengaruh Tjokroaminoto Terhadap Soekarno

Tak bisa dipungkiri, pengaruh Tjokroaminoto dalam diri Soekarno sangtalah besar, utamanya sewaktu ia masih remaja. Pengaruh tersebut karena Tjokroaminoto merupakan guru politik dan pembuka intelektualisasi Soekarno pada usia yang masih sangat muda. Melalui asuhan Tjokroaminoto yang saat itu menjadi pimpinan Sarekat Islam, Soekarno kemudian mulai mengenal dunia pergerakan. Bagi Soekarno, Tjokroaminoto bukan saja berperan sebagai tokoh politik, dapur tempat penggodokan nasionalisme, tetapi juga pemikir masalah-masalah keislaman dan tempat bertemunya berbagai aliran pemikiran.

Cindy Adam dalam bukunya Sukarno An Autobiography, menuliskan penuturan Soekrano mengenai gurunya dalam bukunya sebagai berikut:

“Oemar Said Tjokroaminoto sudah berusia 33 tahun ketika aku tiba di Surabaya. Tjokroaminoto mengajarkan siapa dia sesungguhnya, bukan apa yang dia tahu dan bukan pula seharusnya aku menjadi apa. Dia adalah orang yang penuh daya cipta dan bercita-cita tinggi, seorang pejuang yang sangat mencintai negerinya. Tjokroaminoto adalah pujaan dan impianku. Dan aku adalah seorang muridnya.”

“….Aku hampir tiap malam menghabiskan waktuku untuk belajar kepada Pak Tjokro. Ke manapun ia pergi aku tetap mengikutinya. Dan aku hanya duduk di sana sambil belajar dengan mengamat-ngamatinya. Dia memiliki wibawa yang besar sekali terhadap rakyat. …. Aku tidak pernah membaca buku-buku bacaan yang murah tentang menjadi seorang ahli pidato di rapat-rapat umum, juga aku tidak pernah mempraktikkannya di depan sebuah cermin. Bukan karena aku tidak cukup bangga untuk berlagak di depan sebuah cermin, tetapi karena aku memang tidak pernah melakukannya. Cerminku hanya Tjokroaminoto. Aku memperhatikan sungguh-sungguh gayanya ia berpidato. Aku belajar banyak dari pak Tjokro dan aku mempraktikannya…”

Sewaktu Soekarno tinggal di rumah Tjokroaminoto di Surabaya, semangat nasionalismenya telah tumbuh dan kebenciannya terhadap kolonialisme mulai berkembang. Di rumah yang pengap dan kampung yang padat di Gang Peneleh 7 no 29-31 inilah pemuda Soekarno, Alimin, Moesso, Abikusno, dan anak-anak muda yang tinggal di sana (indekost) menemukan dunianya.

Bernhard Dahm dalam bukunya Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan yang membahas keterlibatan Soekarno yang telah terjun ke dunia politik dengan bergabungnya di  Sarekat Islam dan Jong Java, menjelaskan bagaimana pandangan awal mengenai politik Soekarno yang masih teradopsi dengan pemikiran Tjokroaminoto dan Sarekat Islamnya. Oetoesan Hindia sebagai surat kabar harian Partai Sarekat Islam merupakan tempat Soekarno untuk menyuarakan kritiknya terhadap pemerintahan global, cukup banyak tulisan Soekarno yang menghiasi surat kabar Oetoesan Hindia.

Dalam karangannya yang pertama “Swapraja”, Soekarno menghimbau agar Hindia-Belanda diberi otonomi yang lebih luas dan agar ada penyerahan wewenang yang lebih besar dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Dalam karangan tersebut, Soekarno menghendaki adanya daerah otonomi yang luas untuk bangsanya agar dapat mewujudkan dewan-dewan rakyat yang baik dan tidak tergantung dengan pemerintahan pusat. Dalam artikel tersebut, pemikiran Soekarno tentang otonomi daerah, persis sebagaimana gagasan Tjokroaminoto tentang tuntutan zelfbestuur (pemerintahan sendiri yang otonom) yang ia suarakan pada tahun 1916 – 1918an.

Prinsip Soekarno dan prinsip Tjokroaminoto mengenai kemerdekaan Indonesia juga sama. Keduanya sama-sama menginginkan persatuan bangsa (persatuan umat). Suku bangsa Indonesia yang jumlahnya sangat banyak dengan variasi kebudayaannya yang beraneka ragam adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. Oleh karena itu, satu kesatuan bangsa merupakan syarat mutlak bagi tegaknya Indonesia merdeka.

Dalam hal ini, Soekarno dikutip dari buku Muh. Yamin. 1959. Naskah Persiapan Undang-Undang  Dasar 1945, mengemukakan sebagai berikut:

“Kemudian, apakah dasar sila yang ke-3? Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan. Tetapi kita mendirikan negara “semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu.” Saya yakin bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya negara Indonesia adalah permusyawaratan perwakilan.”

Sekarang kita lihat tulisan Tjokroaminoto dalam Tafsir Program Asas dan Program Tandhim PSII:

“….Terlebih-lebih buat zaman kita yang sekarang ini ialah harus satu pemerintahan yang kekuasaannya bersandar kepada kemauan rakyat (ummat), yang menyatakan sepenuh-penuh suaranya di dalam suatu majelis-usy-Syura, berupa majelis perwakilan rakyat, yang susunan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya harus berdasar kepada asas-asas demokrasi yang seluas-luasnya.”

Jika Soekarno menggunakan istilah dalam mendirikan negara “semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu,” maka istilah yang demikian telah lebih dulu digunakan oleh Tjokroaminoto dalam bukunya “Islam dan Sosialisme” yang diterbitkan tahun 1924. Tjokroaminoto menyatakan bahwa “satu buat semua, dan semua buat satu,” yaitu suatu cara hidup yang memperlihatkan kepada kita bahwa kita sekalian memikul tanggung jawab atas perbuatan kita semua, satu sama lain.

Kemudian pikiran Soekarno tentang “Syarat mutlak untuk kuatnya negara Indonesia ialah permusyawaratan perwakilan” sejalan dengan pemikiran Tjokroaminoto yakni, “Pemerintahan yang kekuasaannya bersandar kepada kemauan rakyat, berupa Majelis Permusyawaratan rakyat, berdasar asas-asas demokrasi yang seluas-luasnya.”

Menilik penalaran dan cara berpikir keduanya, baik Soekarno maupun Tjokroaminoto memiliki pola pemikiran yang sama, yaitu keduanya menghendaki prinsip musyawarah mufakat atau sistem parlementer sebagai salah satu sendi dasar Indonesia merdeka.

Tjokroaminoto juga mengajarkan kepada Soekarno bagaimana cara berpikir dan menjadi pemimpin yang berakar di masyarakat. Pemikiran itu tidak bisa lain kecuali memahami budaya bangsa yang sesungguhnya dan mengerti masalah serta tuntutan apa yang dikehendaki rakyat. Selain memiliki rasa kebangsaan, seorang pemimpin pun harus memiliki rasa keagamaan. Untuk itu, Tjokroaminoto mendorong Soekarno untuk mendalami gerakan pembaharuan Islam yang datang dari India dan Timur Tengah, untuk melihat adanya hubungan antara Islam dengan kemajuan peradaban umat manusia.

Dari Tjokroaminoto inilah, Soekarno mendapatkan sumber pemikirannya tentang Islam, selain juga dari pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan. Soekarno melihat pendekatan Tjokroaminoto kepada Islam terasa hidup, berbeda dengan cara-cara pemahaman tradisional yang pernah didengarnya. Hal ini disebabkan bahan bacaan Tjokroaminoto banyak bersumber dari pemikiran pembaharu Islam yang berkembang di India dan Timur Tengah serta pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan.

Bachtiar Efendi, seorang peneliti muslim Indonesia, mengungkapkan pengaruh Tjokroaminoto terhadap pemikiran Islam dan nasionalisme Soekarno: “Secara akal sehat, kita bisa menelusuri bahwa Soekarno belajar Islam secara intens dengan Tjokroaminoto. Dia belajar Islam dari Tjokroaminoto dan Tjokroaminoto sangat percaya pada Soekarno. Tjokroaminoto tidak sedikit pun meragukan keislaman Soekarno. Jadi sebenarnya, bapak nasionalisme Indonesia sekaligus bapak politik orang Islam itu adalah Tjokroaminoto.”

Soekarno sangat tertarik pada gerakan pembaharuan pemikiran keislaman, yang disebut rethinking of Islam. Menurutnya, Islam harus ditempatkan pada kedudukan yang tinggi, yaitu sebagai landasan budi dan moral dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Menempatkan Islam sebagai landasan budi dan moral, berarti melepaskan Islam secara formal dari struktur pemerintahan, tetapi tanpa melepaskan Islam dari pergaulan masyarakat dan kehidupan bernegara. Pada poin ini, pemikiran Islam Soekarno berbeda dengan Tjokroaminoto karena Tjokroaminoto sendiri menghendaki Islam tidak terlepas dari struktur pemerintahan dan hukum negara, meskipun tidak dimaksudkan untuk mendirikan negara Islam.

Soekarno mengakui bahwa dirinya campuran dari keagamaan, nasionalisme, dan sosialisme. Sebuah kombinasi yang dasar pemikirannya berasal dari Tjokroaminoto. Akumulasi pemikiran yang diserap Soekarno dari Tjokroaminoto dan berbagai sumber lainnya itu kemudian ia racik dalam sebuah gagasan tentang Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme yang bibitnya sudah Soekarno dapatkan dari pergaulan masa remajanya di Kampung Peneleh bersama Tjokroaminoto.

Lebih lanjut, Soekarno membangun kesadaran nasionalisme lewat  marhaenisme sebagai kunci yang tidak bisa terlepas dari ketuhanan yang merupakan agama mayoritas kaum marhaen di Indonesia. Pun nasionalisme dan pertemuannya dengan Marxisme tidak dapat dilepaskan dari perekat utamanya yang selalu diajarkan oleh Tjokroaminoto kepadanya, yaitu Sosialisme berketuhanan (Sosialisme Islam).

Pemikiran Tjokroaminoto soal kapitalisme juga turut mempengaruhi cara pandang Soekarno. Keduanya tidak menghendaki timbulnya kapitalisme di Indonesia karena kapitalisme tidak pernah memikirkan tentang keharusan melenyapkan kemiskinan dan penderitaan rakyat jelata di bumi Indonesia. Kemerdekaan politik dan kemerdekaan ekonomi yang mereka cita-citakan adalah kemerdekaan yang menjamin warga negaranya hidup bahagia dan sejahtera. Kemerdekaan tanpa kesejahteraan rakyat sama halnya dengan keadaan suatu negara yang hidup matinya ditentukan oleh bangsa lain. Kemerdekaan dan kesejahteraan menurut mereka tidak mungkin dipisahkan.

Soekarno pernah menyatakan, “…. Tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka. … Apakah kita mau Indonesia merdeka yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera?”. Hal ini telah diungkapkan Tjokroaminoto pada tahun-tahun sebelumnya, ia berpendapat, “… Kesejahteraan yang tidak mengindahkan agama Allah, budi pekerti dan hati nurani, tidaklah bisa memperbaiki manusia dan pergaulan hidupnya.

Sedangkan mengenai kapitalisme, Tjokroaminoto dengan tegas mengatakan, “Kapitalisme itu jahat (zondig kapitalism) karena menumpuk modal secara berlipat-lipat, mengabaikan kedermawanan sosial, dan mengambil keringat dari pekerjaan orang lain…”

Demikianlah pengaruh Tjokroaminoto terhadap Soekarno, yang dari segala gagasannya telah mewarnai konfigurasi kepoliikan di republik ini. Meskipun sebenarnya, pengaruh pemikiran dan perjuangan Tjokroaminoto ini tidak terbatas hanya pada Soekarno, tetapi telah melintasi alam pikiran berbagai tokoh dari beragam aliran (nasionalis Islam, nasionalis sekuler, dan sosialisme-komunis). Di antara tokoh tersebut misalnya Moesso, Alimin, Semaun, Darsono, Tan Malaka, Hamka, Abikoesno, Kartosoewirjo, Abdoel Moeis, Sangadjie, Moh. Roem, Muhammad Natsir, Kasman, Prawoto, dan tentu saja anak-anaknya, seperti Anwar dan Harsono. Mereka adalah tokoh besar, para pendiri bangsa ini.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here