Pengebirian Demokrasi Ala Cak Imin

0
355

Nusantara.news, Surabaya – Maraknya kader Nahdlatul Ulama (NU) masuk bursa Pilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018, semakin menunjukan bahwa NU tidak kehabisan stok untuk mencari pemimpin yang mumpuni. Namun jangan dijadikan upaya untuk memecah belah, membenci, saling hujat sesama kader nahdliyin.

Akhir-akhir ini, mencuatnya nama Mensos Khofifah Indar Parawansa yang  sempat menjadi viral peta kekuatan politik Jatim dalam menghadapi Pilgub 2018, bukan semata-mata karena sosoknya yang heboh karena dianggap sebagai menteri yang cerdas dan energik. Namun, lebih dari itu, terkait  penyataan Muhaimin Iskandar yang menilai bahwa Khofifah tidak harus running for government.

Mengapa politisi sekaliber Muhaimin Iskandar terang-terangan mengeluarkan seperti itu? Apakah ini sinyal bahwa Muhaimin yang kini mendukung pencalonan petahana Saifullah Yusuf alias Gus Ipul sudah mulai mengalami kegalauan politik, atau ketakutan akan sosok Khofifah yang menurut pakar politik nasional maupun Jatim berpeluang untuk meraih kursi Grahadi 1?

Semua ini tak lepas dari sosok Khofifah. Kubu Gus Ipul mulai panik meski genderang perang Pilgub Jatim masih lama. Muhaimin bahkan merilis ke media soal sikapnya di Pilgub Jatim, bahkan safari politik yang dijalinnya selama ini tidak berbuah hasil maksimal, bahkan sudah sampai ke Istana Kepresidenan.

Manuver Muhaimin meminta Presiden Jokowi Widodo agar tidak memberikan ijin kepada Khofifah untuk ikutan di Pilgub Jatim dan hanya fokus di Kemensos saja menuai banyak kritik. Menurutnya, Khofifah telah dua kali gagal dalam dua kali di Pilgub Jatim, Muhaimin khawatir jika nanti maju lagi, akan gagal. Apakah ini sinyal rasa galau dan ketakutan kubu Gus Ipul kepada Khofifah yang dinilai bakal bisa menjegalnya untuk meraih kursi Grahadi 1?

Sementara, sampai detik ini Khofifah belum menyatakan untuk maju dalam bursa Pilgub Jatim. Bahkan, Khofifah sejauh ini masih melakukan sounding test sebelum memutuskan maju atau tidaknya di Pilgub Jatim, dan pernyataan ini berulang kali disampaikan oleh Khofifah di setiap kesempatan saat berada di Jawa Timur terkait program kementerian.

Berbeda dengan yang dilakukan oleh Gus Ipul. Sejak mendeklarasikan diri maju Cagub d Pilgub Jatim 2018 diusung oleh PKB yang mempunyai 20 kursi di DPRD Jatim, gerilya politik yang dilakukan terus menuai popularitas dan mengungguli semua calon yang diwacanakan maju bersaing termasuk Mensos Khofifah. Bahkan indikasi untuk mengarahkan calon tunggal yang selama ini ramai dibicarakan juga belum menuai hasil yang signifikan.

Seperti yang dilakukan dengan safari politiknya ke beberapa partai politik bersama Ketua DPW PKB Jatim Halim Iskandar. Alih-alih mendapat dukungan partai koalisi, sampai detik ini beberapa partai yang sempat dijajaki agar bisa berkoalisi dengan PKB untuk mengarahkan calon tunggal belum ada respon sama sekali, alasannya, semua partai masih wait and see sampai last minute batas pengajuan cagub dan cawagub Jatim.

Suara Akar Rumput Inginkan Khofifah di Jatim

Klimaksnya, manuver yang dilakukan oleh Muhaimin Iskandar dengan PKB-nya mendapat cibiran dari para pendukung Khofifah yang menamakan dirinya Komunitas Pendukung Khofifah (KPK) yang anggotanya di berbagai daerah Tapal Kuda. Menurutnya, cara-cara yang dilakukan dengan melakukan manuver mengadu kepada presiden dianggap sebagai pengebirian demokrasi, di samping itu sejumlah pihak tidak berkenan jika Pilgub Jatim 2018 nanti hanya mempertontonkan Gus Ipul versus bumbung kosong.

Bukan saja karena manuvernya yang dianggap sebagai pengebirian politik. Cak Imin juga menyerukan bahwa untuk menghadapi suksesi kepemimpinan Jatim maka NU harus bersatu untuk memenangkan Gus Ipul. Pendek kata, warga NU harus bersatu padu mulai dari cabang-cabang NU disiapkan untuk mesin politk PKB. Dan manuver ini dilakukan dengan alasan untuk menjaga keutuhan warga NU agar tidak pecah jika Khofifah memutuskan maju Pilgub 2018.

Tak hanya itu, Komunitas Pendukung Khofifah (KPK) yang dipimpin Moch. Khotib, juga nyeletuk bahwa dua kekalahan calonnya di dua Pilkada Jatim bukan karena faktor ketidakbecusan mesin politik dan minusnya sosok Khofifah. Namun, lebih dari itu karena ada indikasi dugaan untuk menjegal Khofifah menjadi Gubernur Jawa Timur. Nah, Pilgub 2018 lawannya adalah Saifullah Yusuf bukan Soekarwo lagi, tentu, kans untuk bisa menang sudah di depan mata.

Ketua Lembaga Dakwah NU Banyuwangi, Kiai Zulkarnaen, yang juga salah satu pendukung Khofifah dalam Komunitas Pendukung Khofifah (KPK) mengatakan, agar jangan sampai ada yang menghalangi sahabat kita, Khofifah,  untuk maju di Pilgub Jatim.

“Dukungan dari warga nahdliyin akan terus mengalir, karena suara akar rumput di Jatim menginginkan Khofifah sebagai Gubernur Jatim menggantikan Soekarwo,” jelasnya kepada Nusantara.news, Selasa (12/7/2017).

Sementara itu politisi senior asal partai Demokrat Nur Muhidin menilai bahwa manuver politik yang dilakukan oleh Muhaimin Iskandar dengan meminta agar kepada Presiden Jokowi tidak memberikan ijin kepada Khofifah maju di Pilgub Jatim seharusnya tidak perlu dilakukan. Menurutnya, maju tidaknya Khofifah dalam Pilgub Jatim adalah hak politik Khofifah itu sendiri, dan sebagai warga negara yang baik seharusnya menghormati hak politik sesama politisi.

“Sebagai sebuah ikhtiar politik, manuver Cak Imin tersebut sah-sah saja. Hanya sebaiknya tidak perlu membawa nama presiden dalam konstestasi sebuha Pilkada. Presiden biar fokus untuk urusan pembangunan, sementara urusan Pilkada khususnya terkait dengan bakal calon pemimpin daerah adalah tanggung jawab para pemimpin partai. Presiden jangan digoda-goda dengan urusan-urusan Pilkada, biarkan presiden khusyuk membangun negeri ini,” jelas wakil ketua DPD Demokrat Jatim.[]

 

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here