Penggerak Resolusi Jihad yang Hadir di Empat Generasi

0
2020
KH Raden As'ad Syamsul Arifin, tokoh ulama penggerak azas tunggal Pancasila

Nusantara.news – Hari ini, 31 Januari 1926, Nahdlatul Ulama didirikan. Untuk itu nusantara.news berikut ini menyajikan KH As’ad Syamsul Arifin yang berkat pengabdiannya untuk agama, nusa, bangsa dan tanah air dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada 9 November 2016 lalu.

Peran KH Raden As’ad Syamsul Arifin yang lahir di perkampungan Sya’ib Ali, dekat Masjidil Haram, Mekah, 1897 sungguh tidak perlu diragukan lagi. Dia hadir, setidaknya dalam setiap gejolak perubahan sejak Republik Indonesia belum ada hingga delapan tahun menjelang berakhirnya pemerintahan Orde Baru. Namun pada kesempatan ini, izinkan penulis membatasi diri menulis masa kecil hingga jejak kejuangannya dalam Resolusi Jihad.

Gambar terkait

Kyai As’ad di Usia muda

Bicara Kyai As’ad memang tidak terkepas dari sejarah Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Desa Sukorejo, Asembagus, Situbondo yang didirikan oleh ayahnya, KH Raden Syamsul Arifin, beserta santri-santrinya asal Pulau Madura pada 1914.

Ketika itu kawasan Sukorejo masih berupa hutan belukar yang dihuni beragam binatang buas. Kemampuan ulah kanuragan menjadi hal yang penting, karena selain menaklukkan buasnya alam, santri-santri juga mesti menghadapi begal, garong dan kecu yang banyak sembunyi di daerah itu.

Tidak mengherankan bila Kyai As’ad, selain pandai ilmu agama juga memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni. Cerita-cerita kesaktiannya menjadi legenda tersendiri bagi masyarakat di Jawa Timur, khususnya di eks karesidenan Besuki. Semua itu tentu saja berkat gemblengan dari sang ayah dan santri-santrinya sejak usia bocah.

Keturunan Dua Wali

Memang, sejak kecil Kiai As’ad sudah mendapat pendidikan agama yang diajarkan langsung oleh ayahnya. Setelah beranjak remaja, ia dikirim ayahnya belajar di Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan, sebuah pesantren tua yang didirikan oleh K.H. Itsbat Hasan tahun 1785.  Di Pondok Pesantren itu Kiai As’ad diasuh oleh K.H. Abdul Majid dan K.H. Abdul Hamid yang masih keturunan K.H. Itsbat

Saat kedua orang tuanya pergi haji ke Mekah dan sekaligus memperdalam ilmu agama, selain As’ad masih ada satu lagi adiknya yang lahir di sana. Namun kedua orang tuanya membawa As’ad pulang ke tanah-air di usia 6 tahun. Sedangkan adiknya, Abdurrahman, dititipkan kepada Nyai Salehah, sepupu ibunya yang tinggal di sana.

Sebagai ulama papan atas, nassab (garis keturunan) KH Raden As’ad Syamsul Arifin tak perlu diragukan lagi. Dalam nadinya mengalir darah dua walisongo. Ayahnya, Raden Ibrahim yang lebih dikenal KH Syamsul Arifin adalah keturunan Sunan Ampel dari garis ayah. Sedangkan ibunya, Siti Maimunah masih memiiki garis keturunan dari Pangeran Ketandur, cucu Sunan Kudus.

Setelah tiga tahun belajar di Pesantren Banyuanyar (1910-1913), As’ad dikirimkan ayahnya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus melanjutkan belajarnya di sana. Di Mekah, ia masuk ke Madrasah Shalafiyah, sebuah madrasah yang sebagian besar murid dan guru-gurunya berasal dari al-Jawi (Melayu). Ia belajar ilmu-ilmu keislaman kepada ulama-ulama terkenal, baik yang berasal dari al-Jawi (Melayu) maupun dari Timur Tengah.

Di antara guru-guru Kyai As’ad ketika belajar di Mekah antara lain, antara lain Syeikh Abbas al-Maliki, Syeikh Hasan al-Yamani, Syeikh Muhammad Amin al-Quthbi, Syeikh Hasan al-Massad, Syeikh Bakir (K.H. Bakir asal Yogyakarta) dan Syeikh Syarif as-Sinqithi.

Gambar terkait

Kyai Ass’ad diapit dua Kyai Kharismatis, KH Mahrus Aly dan KH Ali Maksum

Usai menuntaskan pendidikan agamanya di Mekah, As’ad muda pulang ke tanah air. Meskipun ilmu agamanya sebenarnya sudah cukup memadai, namun As’ad tidak langsung mengajar di pesantren ayahnya, melainkan keliling dulu dari pesantren ke pesantren, baik untuk memperdalam ilmu agamanya maupun sekedar ngalap berkah (mengharapkan barokar) dari para Kyai.

Suatu saat dia diperinkahkan KH Kholil Bangkalan untuk berkirim surat ke pepundennya Sunan Ampel, padahal Sunan Ampel sudah wafat ratusan tahun sebelumnya. Tapi dia pantang menolak dan berangkat ke makam Sunan Ampel. Rupanya itu isyarah (pesan) Kyai Kholil kepada Hadratus Syech KH Hasyim Asy’ari yang menjadi cikal bakal berdirinya NU.

Jejak Kejuangan

KH As’ad Syamsul Arifin memiliki peran penting yang mendorong lahirnya resolusi jihad, 22 Oktober 1945. Sejarah kepahlawanan arek-arek Surabaya, 10 November 1945, tandas Budayawan Muslim Emha Ainun Najib keluar dari “busur” Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh NU di bawah pimpinan Hadratus Syech KH Hasyim Asyari dan didukung sejumlah Kyai NU, diantaranya KH As’ad Syamsul Arifin.

Selain KH Hasyim Asyari, tokoh lain yang ikut berperan menggerakkan rakyat dan santri, khususnya dari Pulau Madura dan wilayah Tapal Kuda, adalah KH. Raden As’ad Syamsul Arifin, ulama muda pemimpin Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Situbondo, kala itu. Catatan mengenai kiprah Kiai As’ad ditulis oleh Syamsul A Hasan dalam buku “Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat” dan cuplikannya diunggah pada laman pondok pesantren www.sukorejo.com.

Saat PBNU menggelar pertemuan di Surabaya, 22 Oktober 1945, terang Syamsul A Hasan, Kiai As’ad adalah ulama yang menjadi peserta pertemuan. Pertemuan itu menghasilkan Resolusi Jihad yang berisi lima poin terkait kewajiban umat Islam, khususnya warga NU untuk berperang melawan penjajah sebagai kewajiban yang tidak bisa diwakilkan (fardhu a’in).  Bahkan pada point 4 ditegaskan, setiap umat Islam wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia.

Usai dari mengikuti pertemuan, KH As’ad yang berusia 48 tahun segera bergerak ke pesantren-pesantren di Sampang, Pamekasan dan Sumenep agar menggerakkan warga untuk ikut berperang melawan Belanda yang membonceng tentara Inggris ke Surabaya. Setelah itu Kiai As’ad kembali ke Pesantren Sukorejo yang sudah memiliki Laskar Pelopor binaannya. Anggota Pelopor dari Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi kemudian ikut digerakkan ke Surabaya.

Hasil gambar untuk Resolusi Jihad 1945

Berkat seruan Resolusi Jihad warga bersenjata bambu runcing melawan Belanda

Warga dari Madura dan dari bekas Keresidenan Besuki itu sebelum digerakkan ke Surabaya, terlebih dahulu dikumpulkan di Sukorejo sebagai persiapan lahir batin dalam menghadapi pertempuran, termasuk “pompa” semangat dari Kyai As’ad secara langsung. KH As’ad juga disebut-sebut ikut pertemuan sejumlah tokoh pergerakan dalam mengatur taktik dan strategi sebelum meletusnya pertempuran 10 November 1945.

Memang, KH As’ad sendiri yang membentuk sekaligus memimpin Laskar Sabilillah dan Hizbullah untuk wilayah Keresidenan Besuki. Kisah heroik KH Ass’ad ini telah menginsprasi lahirnya Novel Bersejarah berjudul “Ksatria Kuda Putih; Santri Pejuang” yang ditulis oleh Ahmad Sufiatur Rahman.

Bahkan, dalam buku “KH As’ad Syamsul Arifin: Riwayat Hidup dan Perjuangannya” yang ditulis oleh tim diketuai KH M Hasan Basri juga disebutkan bagaimana Kiai As’ad yang berasal dari Kampung Kembang Kuning, Desa Lancar, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, ini juga aktif melawan penjajah Jepang.

Dalam buku itu diceritakan Kiai As’ad memimpin Laskar Pelopor dari Situbondo dan Jember untuk mengusir tentara Jepang yang tetap ingin bertahan di wilayah Garahan (Jember). Kala itu sekitar bulan Agustus 1945, Kiai As’ad berhasil menggertak tim perunding militer Jepang bersedia pulang kampung dan dilucuti senjatanya.

Tidak berlebihan bila KH As’ad diangkat menjadi anggota Konstituante (semacam DPR di era kemerdekaan) dan terakhir kali dikukuhkan penghormatannya oleh Presiden Joko Widodo sebagai Pahlawan Nasional.

Hadir di Empat Generasi

Gambar terkait

Presiden Soeharto dengan didampingi KH Ass’ad Syamsul Arifin menyalami KH Abdurahman dalam Muktamar NU, 1984

KH Ass’ad sendiri wafat 4 Agustus 1990, di Situbondo  di usianya yang ke-93 tahun. Banyak kiranya yang mesti ditulis tentang KH As’ad Syamsul Arifin, misal tentang ilmu kanuragannya, atau tentang caranya membela KH Abdurahman Wahid dari gempuran pemerintahan Soeharto dengan berpura-pura memusuhinya. Dan masih banyak lagi.

Karena memang, KH As’ad yang dikarunia usia panjang berkesempatan hadir setidaknya dalam empat generasi, yaitu generasi kebangkitan nasional hingga penjajahan Jepang (1908-1945), Generasi mempertahankan kemerdekaan (1945-1949), Era Konstitusi RIS hingga Orde Lama (1950 – 1965) dan Generasi Orde Baru (1965 hingga beliau wafat 1990).

Dalam setiap etape dari keempat perjalanan Negara Republik Indonesia itu tentu saja KH As’ad  memiliki peran penting. Termasuk kembalinya NU ke khitah 1926 yang mengantar KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU dalam Muktamarnya ke-27 di Situbondo, 1984. Dari Muktamar NU di Situbondo itu membawa Gus Dur menjadi tokoh nasional yang disegani yang kelak bahkan menjadi Presiden RI. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here