Penetrasi Media Digital (1)

Pengguna Internet 132,7 juta, 106 juta Pengguna Medsos

1
100
Ilustrasi: Presiden RI Joko Widodo berjalan bersama Mark Zuckerberg pemilik Facebook saat mengunjungi Silicon Valley di AS, 2016 Foto: Setpres RI

Nusantara.news – Pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta orang, bisa dikatakan, 51% penduduk dipenetrasi oleh media digital. Penggunaannya didominasi oleh Youtube sebanyak 49%, Facebook sebanyak 48%, Instagram sebanyak 39%, Twitter sebanyak 38%, WhatsApp sebanyak 38%, Google 36%, Line 30%, dan Linkedin 28%. Tidak heran jika kemenangan Joko Widodo pada saat Pilpres 2014 ditunjang oleh media sosial, begitu juga dengan Barack Obama pada Pilpres di Amerika Serikat (AS). Hal yang sama, kita melihat betapa serunya pertempuran siber Ahokers dan siber Muslim saat Pilkada DKI Jakarta 2017.

Media sosial bisa menokohkan seseorang seketika, juga bisa menghancurkannya dalam waktu relatif singkat. Maka itu, media sosial sudah dianggap “Army” (tentara pasukan tempur) baik dalam pilkada, pemilu, bisnis, maupun politik. Posisi “hackers” sangat strategis saat ini dan dihargai tinggi. Tidak sedikit hackers tingkat dunia merupakan putra Indonesia. Sayangnya, jasa profesionalnya dimanfaatkan oleh komunitas bisnis dan politik global.

Transaksi e-commerce

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Republik Indonesia, Rudiantara pada acara Indonesia E-Commerce Summit & Expo 2017 menyatakan bahwa di tahun 2017 transaksi e-commerce diperkirakan mencapai Rp 394 triliun dan terus tumbuh. Menkominfo berharap di tahun 2020 transaksi e-commerce mencapai Rp 1.710 triliun atau 2/3 APBN kita. Pada tahun 2013 masih Rp 130 triliun, di tahun 2014 sudah mencapai Rp 170 triliun, tahun 2015 mencapai Rp 195 triliun, dan tahun 2016 mencapai Rp 240 triliun.

Menkominfo mengeluarkan regulasi Payment Gateway agar seluruh e-commerce mempunyai rekening bank di Indonesia, dan membuat regulasi (Peraturan Menteri) agar seluruh media sosial dan e-commerce mengikuti aturan yang akan ditetapkan.

Pengguna aktif media sosial sebanyak 106 juta orang, dan pertumbuhan rata-rata pengguna 10 tahun terakhir 30%. Walau belum mengganggu industri ritel secara keseluruhan tapi ikut merebut share-nya, dan transaksi e-commerce terus tumbuh menggerogoti supermarket dan Department Store di Indonesia.

Walaupun begitu, industri ritel tetap tumbuh 10% di tahun 2016 di tengah isu menurunnya daya beli masyarakat. Di tahun 2015 sebesar Rp 181 triliun dan tumbuh mencapai lebih dari Rp 200 triliun pada tahun 2016.

Perubahan gaya hidup dari belanja langsung menjadi belanja online merambah khususnya pada usia di bawah 35 tahun, pangsa pasar 15-35 tahun. Pelan tapi pasti akan menggusur belanja langsung (tradisional), khususnya di kota besar yang macet dan sulitnya mencari parkir di mal-mal. Apalagi persaingan bisnis online sampai tahap free delivery (terbatas), dan item tertentu lebih murah.

Dalam bisnis, peran media digital signifikan sehingga e-commerce menjadi pilihan dalam cara berbelanja saat ini. Presiden Joko Widodo saat berkunjung di AS sangat kagum dengan ekosistem ekonomi digital Silicon Valley, San Francisco. Dari area ini lahir pengusaha-pengusaha terkaya dunia pemilik Microsoft, Facebook, WhatsApp, Youtube, Twitter, dan sebagainya. Dengan kreativitas teknologi, para pendiri bisnis IT tersebut mampu menjadi orang terkaya dunia dalam waktu singkat.

Media penetrasi dan gaya hidup

Dari AC Nielsen Tahun 2017, menunjukan bahwa penetrasi TV sebesar 96%, Statistic Outdoor 53%, internet 44%, radio 37%, surat kabar 7%, dan tabloid/majalah 3%. Terlihat pamor media cetak tertinggal jauh, hanya 10% saat ini. Secara bisnis, TV mendominasi medium iklan di Indonesia. Sementara beriklan di media sosial sangat efisien, walaupun belum terlalu efektif.

Penetrasi internet tertinggi di usia muda 70–85%, oleh karena itu user media sosial yang mencapai 106 juta orang, 70% berusia 15-40 tahun dan merupakan 75% dari pengguna internet. Pengguna internet 85% dari ABC+ Class, dan di rumah pada malam hari, serta weekend adalah waktu yang sering digunakan membuka internet. Berikutnya, di rumah dan sekolah di perpustakaan dan pada jam istirahat, tempat lain di kendaraan dan di cafe.

Sebanyak 94% orang mengakses internet dari smartphone, dapat dikatakan bahwa saat ini dunia dalam satu genggaman, baik akses ke bank, teman, bisnis, nonton, bekerja, aktivitas politik dan mencari apa pun, “Paman Google” selalu siap sebagai ajudan masyarakat digital. Setelah handphone (telepon genggam), baru laptop, desktop Personal Computer (PC), tablet dan smart TV.

Dari segi waktu penggunaan, pagi setelah di kantor dan malam setelah makan malam, sebelum tidur adalah momen yang banyak digunakan. Sehingga saat ini perangkat digital sangat mengurangi quality time bersama keluarga. Makan malam adalah saat komunikasi yang tepat, ayah, ibu, dan anaknya, tapi masing-masing sibuk dengan smartphone-nya.

Tidak jarang smartphone menjadi bahan pertengkaran suami istri, karena intervensi ke kamar tidur. Sementara untuk web dan portal banyak dibuka saat waktu makan siang, dan malam hari di rumah.

Dari segi media audio visual, Youtube adalah musuh utama TV di masa depan, sebagai penetrasi tertinggi (49%) membuntuti penetrasi TV yang mencapai 96%. Relatif hanya 4% saja di Indonesia saat ini rumah tangga yang tidak memiliki pesawat televisi.

Untuk kategori audio visual (TV streaming), Youtube mencapai 98% penetrasi, sedangkan Detik.com 29%, CNN Indonesia 27%, Liputan6.com 26%, MetroTVnews/com 20%, Okezone 18%, Tribune.news 15%, dan Kapanlagi.com 14%.

Kenapa tidak menggunakan online?

Bagi sebagian masyarakat yang tidak menggunakan online, lebih kepada gaptek (gagap teknologi) rata-rata berusia di atas 50 tahun, segmen lain beralasan karena gangguan sinyal dan masih senang dengan TV tradisional. Rata-rata yang berusia 15-45 tahun adalah pengguna utama media sosial maupun TV online, begitu juga dengan pengguna e-commerce.

Akses internet tertinggi di rumah karena menggunakan pilihan paket TV berbayar, disusul akses di tempat umum, prinsipnya hotel, cafe, restoran, dan mal-mal menyediakan wifi sebagai nilai tambah dalam persaingan. Konsumsi konten meningkat di semua kelompok umur, seiring dengan meningkatnya penggunaan platform video, khususnya untuk portal berita karena relatif sederhana dalam penggunaannya hanya tinggal menekan satu tombol saja.

Iklan digital masih membutuhkan tindakan konsumen mencari info lanjutan sehingga dianggap kurang efektif tapi sangat efisien dalam segi jangkauan.

Dalam berpolitik, banyak tokoh sudah tidak asing dengan media online. Tokoh Nasional, seperti Prabowo Subianto, Joko Widodo, sangat terbiasa menggulirkan isu-isu, hanya saja kualitas kontennya terkadang justru datar dan kadangkala mendegradasi popularitas yang bersangkutan.

Saat ini Sahabat Nurmantyo adalah tergolong grup WA (WhatsApp) terbesar karena anggotanya puluhan juta orang. Dalam konteks publik opini, seolah-olah Jenderal TNI Gatot Nurmantyo adalah harapan terbesar rakyat Indonesia untuk kandidat Presiden pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Nasionalisme yang tinggi menjaga kedaulatan Republik Indonesia, seiring kerinduan rakyat pada figur TNI yang tegas dan lugas sehingga kepemimpinan yang kuat, sebagai antitesa dari kepemimpinan nasional saat ini.

Peran media sosial mampu mengkondisikan penokohan seseorang selanjutnya, namun tentu tetap visi dan misi, integritas, serta rekam jejak yang menyebabkan seseorang dipilih. []

1 KOMENTAR

  1. “Team” yang mendominasi pemenangan Obama adalah “Team” yang meluncurkan produk berlabel BlackBerry alias Berry hitam [Berry merupakan nama panggilan kecil Obama]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here