Pengungsi Syiah Penghuni Rusun, Ingin Kembali Pulang

0
50
Pengungsi Syiah asal Sampang di Rusun Jemundo, Sidoarjo.

Nusantara.news, Surabaya – Ini kondisi pengungsi Syiah di Rusun Jemundo, Sidoarjo, Jawa Timur. Warga asal Pulau Madura yang telah lima tahun berada di pengungsian ini kondisinya ternyata makin memprihatinkan.

Sebut saja, salah satunya dialami oleh Mudawi (46), warga Dusun Gadung Lauk, Desa Belu Urang, Kecamatan Karang Penang, Kabupaten Sampang, Madura penguin ini mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain tidak punya pekerjaan, pasokan Jatah Hidup dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebesar Rp709 ribu, sudah tiga bulan mandek.

“Tiga bulan ini mandeg. Jadi, ya, puasa kalau tidak ada uang untuk makan,” kata lelaki itu, Jumat (21/4/2019).

Anak-anak warga Syiah di pengungsian di Sidoarjo.

Dikatakan, sejak Pebruari 2017, dia mengaku bersama warga di pengungsian lainnya tidak menerima Jadup. Untuk makan sehari-hari, dia terpaksa mencari pinjaman dan mengharapkan bantuan dari keluarganya yang ada di Madura, dan diantar ke tempat tersebut.

“Kalau terpaksa akhirnya ngutang. Seratus  ribu saja karena kuatir tidak bisa bayar,” tambah bapak tiga anak itu.

Sebelumnya dia mengaku masih terbantu, karena bisa bekerja sebagai pengupas kelapa di Pasar Puspa Agro, yang masih satu lokasi dekat dengan Rusun penampungan pengungsi. Sehari, dia mengaku terkadang mendapat upah Rp40 ribu, untuk setiap satu kwintal kelapa yang dikupasnya.

Namun, beberapa bulan ini sepi dan dia kembali menganggur, dalam seminggu hanya ada sekali order mengupas kepala, datang. “Sudah lama ini, berbulan-bulan ndak ada lagi,” tandasnya.

Dia pun mengaku sempat frustasi, dan bersama keluarganya pernah nekat hendak keluar dari Rusun penampungan, kembali ke kampung halamannya, namun upayanya gagal. Dia dan keluarganya dikembalikan lagi ke Rusun penampungan di Jemunco.

“Malam hari sampai di rumah mertua, paginya langsung dijemput, disuruh balik lagi,” akunya memelas.

Hidup di penampungan, dia mengaku semakin susah. Dan, setiap hari dirinya terus meratapi nasib yang tak kunjung membaik.

Pikirannya pun kerap teringat semasa hidup di kampung halamannya, di Madura. Teringat masa damai dan hidup tenang berkecukupan. “Saya ingin pulang ke kampung saja, bertani. Disini susah, pagi sampai sore hanya duduk-duduk saja,” keluhnya.

Mudari adalah satu di antara sekian banyak warga Madura yang terusir dari kampung halamannya. Itu menimpa dirinya dan keluarga lainnya saat pecah perselisihan pada 2011 silam. Selain mengaku meninggalkan rumah tempat tinggal, juga dua hektar lahan mata pencahariannya ditinggalkan.

“Di kampung kalau panen bisa dapat 50 karung padi, sudah dapat uang. Disini tidak ada yang ditunggu. Saya inginnya cepat pulang,” katanya.

Tidak berlebihan yang disampaikan Mudari, termasuk warga lainnya penghuni Rusun Jemundo penyandang status pengungsi korban kerusuhan Sunni-Syiah di Sampang. Apa benar, mereka tidak diijinkan kembali karena untuk menjaga keselamatan. Namun, di pengungsian dan tidak ada yang dikerjakan, apa mereka juga bisa terjamin keselamatannya. Bagaimana, selanjutnya?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here