Pentingnya Inovasi Pembiayaan Digital untuk Pemberdayaan Ekonomi di Daerah

0
214

Nusantara.news, Jakarta – Ketatnya persaingan bisnis membuat industri harus terus berinovasi, tak terkecuali bisnis pembiayaan. Persaingan ini pun tak hanya di antara sesama perusahaan pembiayaan, tetapi juga dengan pelaku di sektor usaha lain termasuk industri financial technology atau fintech yang kian ketat.

Seiring dengan pergeseran tren teknologi informasi di tengah masyarakat, mau tidak mau perusahaan pembiayaan harus melakukan inovasi layanan berbasis teknologi.

Salah satu perusahaan pembiayaan konsumen, PT Home Credit Indonesia, terus mengembangakan inovasi bisnisnya. Selain menyediakan pembiayaan di toko (pembiayaan non-tunai langsung di tempat) untuk konsumen yang ingin membeli produk-produk seperti alat rumah tangga, alat-alat elektronik, handphone, dan furniture, juga menyediakan pembiayaan multiguna dengan mengembangkan inovasi dan jejaring pelayanan di era digital. Perusahaan pembiayaan terkemuka ini juga menggandeng kemitraan dengan beberapa perusahaan star up.

Mengoptimalkan keberadaan teknologi dengan menerapkan bisnis inovatif dan kreatif memang penting dilakukan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Apalagi Indonesia diproyeksikan menjadi negara dengan perekonomian terbesar kelima pada 2045. Faktor penunjang yang signifikan mendorong pertumbuhan ekonomi adalah meningkatnya jumlah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang kini mencapai lebih dari 60 juta usaha. Jika tak memanfaatkan teknologi digital dengan baik untuk berinovasi, maka langkah Indonesia jauh tertinggal.

“Yang terpenting adalah bagaimana kita bersama-sama para pemangku kepentingan sektor keuangan dapat memberdayakan masyarakat. Oleh karena itu OJK mengeluarkan regulasi yang mengatur soal fintech peer-to-peer lending. Adapun manfaat penggunaan pinjaman kredit berbasis teknologi yakni akses pembiayaan jadi lebih terjangkau, misalnya bagi para UMKM. Kemudian, masyarakat juga menjadi teredukasi dengan produk digital dan mekanisme penggunaannya,” ujar Deputi Komisioner OJK Institute Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sukarela Batunanggar, beberapa waktu lalu.

Modal UKM dari Pembiayaan Digital

Dalam konteks ekonomi kecil dan menengah, pemanfaatan teknologi merupakan cara yang paling tepat untuk memecahkan masalah ketimpangan ekonomi. Sebab itu, sinergi dan kolaborasi dari berbagai para pemangku kepentingan sangat diperlukan.

Pembiayaan digital ataupun fintech tentu saja memiliki tingkat penetrasi yang tinggi yang dapat menjangkau berbagai lapisan masyasrakat terutama bagi segmen yang tidak memiliki akses luas terhadap permodalan seperti usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Minimnya penetrasi keuangan membuat pelaku UMKM terjerat oleh jebakan fintech ilegal yang memasang bunga yang sangat tinggi. Padahal, fintech memiliki peran besar dalam perekonomian negara berkembang karena mencakup 60 persen dari lapangan pekerjaan dan memberikan kontribusi hingga 40 persen dari PDB.

Untuk menyasar pelaku usaha kecil menengah, konsumen sebenarnya bisa menggunakan fasilitas seperti FlexiFast di Home Credit. Namun, sejauh ini fasilitas FlexiFast lebih cenderung melayani pembiayaan kebutuhan konsumen seperti renovasi rumah, gaya hidup, biaya kesehatan, biaya sekolah, dan sejenisnya. Ke depan, fasilitas tersebut perlu dilengkapi dengan platform pembiayaan modal usaha bagi UKM, utamanya di daerah-daerah.

Dengan menyasar permodalan usaha kecil menengah di daerah-daerah, selain bisa membantu ekonomi masyarakat dan mengatasi ketimpangan sosial, juga potensial untuk memperluas jaringan bisnis hingga ke pelosok. Terlebih kompetitor yang ‘bermain’ di daerah juga masih sangat minim. Bagi masyarakat, pemerataan akses digital akan mempercepat pembangunan di daerah.

Pada akhirnya, inovasi pembiayaan digital masa depan yang sangat prospektif adalah memberikan bantuan atau pinjaman bagi permodalan usaha kecil menengah di daerah-daerah.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here