‘Perang Bintang’ di Partai Bulan Bintang

0
344
Pesohor PBB: MS. Kaban (kiri) dan Yusril Ihza Mahendra (Kanan)

Nusantara.news, Jakarta – Partai Bulan Bintang (PBB) resmi mendukung pasangan capres cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin. Hal itu disampaikan Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) PBB di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Minggu (27/1/2019). Salah atu alasannya, untuk mendongkrak target suara PBB 6 persen sehingga bisa lolos ke Senayan.

“Kami ingin lolos 4 persen (parliamentary threshold) dan masuk kembali ke DPR. Karena itu perlu kerja sama baik partai maupun dengan capres. Yang paling mungkin dan paling bisa bernegosiasi memang dengan paslon nomor 01, oleh karena itu kami mengambil langkah sama-sama dengan paslon 01,” ungkap Yusril.

Keputusan ini sebetulnya bertolak belakang dengan rekomendasi Majelis Syuro PBB yang meminta partai mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Hal itu ditegaskan oleh Ketua Majelis Syuro PBB, MS. Kaban. Kaban mengklaim mayoritas kader PBB setuju mengikuti rekomendasi ijtima ulama yang memang mendukung Prabowo-Sandiaga. Jumlahnya mencapai 80 persen, katanya.

‘Perang bintang’ di ‘bulan bintang’ antara faksi Yusril yang pro 01 dan M.S Kaban yang pro 02, tentu saja menarik untuk dicermati. Keduanya adalah tokoh berpengaruh di PBB, bahkan Yusril dan Kaban pada periode sebelumnya pernah bertukar posisi. Pada kepengurusan 2005 – 2015 Kaban menjadi ketua umum PBB dan Yusril sebagi ketua majelis syuro. Yusril pernah menjadi menteri sejak era Presiden Gus Dur hingga SBY, sementara Kaban sempat menjadi menteri di era SBY (2004 – 2009). Pendek kata, keduanya punya pengikut loyal di PBB.

Tak heran, ketika keduanya bersimpang jalan, PBB pun terbelah. Kaban kini berdiri sebagai pengerek panji “massa kultural” PBB yang menolak langkah “struktural” Yusril merapat ke petahana. Bahkan, beberapa kader PBB yang mematuhi rekomendasi Ijtima Ulama II, mendeklarasikan dukungan terhadap Prabowo-Sandi. Mereka menyebut dirinya “Gerakan Nasional Caleg PBB Poros Makkah”.

Sebaliknya, Sekjen PBB, Ferry Noor, menyatakan yakin seluruh konstituen mereka akan memilih Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019. Katanya, hal itu karena faktor sang Ketua Umum, Yusril Ihza Mahendra yang banyak membela kepentingan umat Islam. Tak tanggung-tanggung, sang Ketua Umum, bahkan akan menindak tegas siapapun kadernya yang mendukung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019 atas nama partai.

Dukung Jokowi, PBB Merugi

Sebenarnya, bergabungnya PBB ke kubu Jokowi-Ma’ruf tidak terlalu signifikan pengaruhnya. Pasalnya, partai yang diketuai oleh pakar hukum tata negara itu tak memiliki suara yang terlalu besar sehingga tidak mendongkrak elektabilitas petahana. Namun sebagai ‘penangkal’ sentimen dan tudingan buruk sebagian publik terhadap Jokowi soal Islam, barangkali sedikit membantu.

Pertemuan Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra dan Presiden Jokowi di Istana

Sebagai partai yang tak lolos ke DPR dengan riwayat perpecahan internal, agak berat jika petahana berharap banyak pada PBB. Pemilih PBB berkisar antara 1,8 juta sampai 2,5 juta. Pada 1999, PBB memperoleh suara sebanyak 2.049.708 atau setara 1,94 persen; 2004 naik cukup signifikan jadi 2.970.487 (setara 2,62 persen); 2009 turun jadi 1.864.752 (1,79 persen); dan 2014 1.825.750 (setara 1,46 persen).

Jika dibandingkan dengan partai Islam lain, perolehan PBB sebetulnya tak bagus-bagus amat. Sebagai pembanding, pada pemilu terakhir PKS dipilih 8.480.204 orang, sementara PAN 9.481.621. PKS dan PAN ada di gerbong yang sama dengang Gerindra dan Demokrat mengusung Prabowo-Sandi.

Kemudian dari sisi PBB, manuver Yusril tersebut tampaknya juga akan lebih banyak mudaratnya. Dari sisi elektoral, kelangsungan PBB di Pemilu 2019 bisa berbahaya sebab akan ditinggalkan oleh basis pemilih utamanya. Sementara dari sisi organisasi, langkah Yursil jelas memantik perpecahan.

Dilihat dari basis pemilih, misalnya, massa PBB umumnya punya akar ideologi dan latar belakang yang tak sejalan dengan watak pemerintahan Jokow. Secara historis, PBB sebagai “trah Masyumi” punya jejak pertentangan dengan partai nasionalis (utamanya PNI dan Bung Karno).

Setidaknya, ada dua basis massa PBB yang utama saat ini, yaitu: pertama, eks-kader Masyumi dan keturunannya yang meskipun jumlahnya terbatas, tetapi dikenal militan. Di basis pemilih pertama ini, Masyumi punya sejarah perlawanan politik dengan PNI yang berujung pembubaran Masyumi oleh Presiden Soekarno.

Dendam politik dan perbedaan ideologis tersebut masih terawat hingga kini. PDIP meski tak sama dengan PNI, ataupun Jokowi yang tak serupa dengan Bung Karno, namun dianggap punya pertalian ideologi dengan PNI, terlebih Ketua Umum PDIP Megawati juga anak biologis dari Bung Karno.

Basis pertama ini sebagian besar menginduk ke ormas Dewan Da’wah Islamiyah (DDI). Namun, DDI yang notabene basis massa kultural PBB bahkan sejak akhir tahun lalu (13/12/2018) telah menyatakan dukungan kepada pasangan nomor urut 02.

”Dewan Da’wah Islamiyah memutuskan untuk mengambil sikap mendukung dan siap memenangkan pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden 2010-2024, H.Prabowo Subianto-H. Sandiaga Salahuddin Uno dalam Pemilihan Presiden pada 17 April 2019,” demikian pernyataan sikap DDI.

Kedua, kelompok alumni gerakan 212, termasuk beberapa anggota FPI dan HTI. Kedua kelompok terakhir ini melabuhkan aktualisasinya lewat PBB karena adanya ancaman terhadap ormas Islam dan pembekuan HTI oleh pemerintah Jokowi, juga PBB dinilai partai yang paling terang mengusung “Syariat Islam”.

Kelompok pemilih ini punya catatan panjang perselisihan dengan pemerintah. Dan, bergabungnya kelompok ini ke PBB salah satunya bagian dari jihad politik serta hasrat #2019 Ganti Presiden. Namun dengan berlabuhnya PBB ke kubu Jokowi-Ma’ruf Amin tentu saja membuat basis pemilih kedua ini kecewa.

Teranyar, Imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab bahkan sampai mengeluarkan maklumat. Maklumat ini ditujukan kepada pengurus dan aktivis FPI beserta sayap juang yang menjadi pengurus ataupun caleg PBB. Dalam maklumat Habib Rizieq tentang PBB, ia menyampaikan perintah agar pengurus dan caleg PBB untuk mengundurkan diri massal. Sebab, menurutnya, PBB telah bergabung dengan partai-partai penista agama.

Singkat kata, Kedua basis utama pemilih PBB tersebut jika dilihat profilnya secara ideologis dan histroris, tak sejalan dengan pemerintahan saat ini. Pilihan Yusril membawa PBB ke barisan Jokowi-Ma’ruf Amin, diprediksi akan membawa kerugian. Di titik ini PBB dipertaruhkan, setidaknya di Pemilu 2019 mendatang.[]

Baca juga:

Yusril ke Jokowi, Bulan Bintang Kelap-Kelip

Untung-Rugi Yusril ‘Merapat’ Ke Jokowi

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here