Perang Dagang AS-China Mulai Guncang Ekonomi Global

0
247
Presiden Donald Trump mempermaklumkan perang dagang dengan China. Presiden Xi Jin Ping pun menghadapi dengan tenang.

Nusantara.news, Jakarta – Presiden AS Donald Trump benar-benar ingin merealisasikan janji kampanyenya untuk menjadikan Amerika berjaya kembali (Amerika Great) dan menjadikan Amerika yang pertama (Amerika First). Salah satu gebrakan terbarunya adalah menabuh genderang perang dagang.

Sebelumnya Amerika telah mempermaklumkan perang moneter lewat kebijakan Federal Reserve dengan menaikkan bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) 0,25% dari 1,50% menjadi 1,75%. Kebijakan ini dikombinasikan dengan rencana Trump mengubah acuan moneter dari dolar AS menjadi emas.

Kebijakan ini saja sudah mengguncang nilai tukar utama dunia. Karena hasilnya belum optimal, maka Trump pun mempermaklumkan perang dagang dan investasi.

Dalam konteks perang dagang, Amerika Serikat (AS) mengenakan tarif impor untuk sejumlah barang dari China. Hal ini dilakukan karena AS merasa dirugikan akibat defisit perdagangan yang terjadi dan kerugian penyalahgunaan kekayaan intelektual oleh China.

Menurut US Census Bureau 2018 disebutkan, ekspor AS ke China tercatat sebesar US$130,36 miliar, sementara impor AS dari China mencapai US$505,59 miliar. Dengan demikian transaksi perdagangan Amerika terhadap China mengalami defisit sebesar US$375,23 miliar.

Kondisi defisit perdagangan AS terhadap China ini sudah berlangsung sedikitnya lima tahun terakhir. Di 2018, tiga bulan terakhir ekspor Amerika ke Negeri Panda hanya US$9,83 miliar, sementara impor Amerika dari China sudah mencapai US$45,78 miliar. Atau mengalami defisit sebesar US$35,95 miliar, ini tentu menggelisahkan Trump.

Trump sangat menyesalkan defisit ratusan miliar dolar AS antara AS dan China.  “Mereka (China) banyak membantu kami di Korea Utara. Namun kami memiliki defisit perdagangan yang besar dan terbesar dalam sejarah dunia,” ujar Trump.

Penyelidikan Amerika menyimpulkan China telah memaksa perusahaan AS untuk menyerahkan kekayaan intelektual mereka melalui serangkaian kebijakan struktural oleh negara. Seperti persyaratan jika perusahaan asing harus bermitra dengan perusahaan China untuk mengakses pasar China.

Selain itu ada hasil penyelidikan yang menyebutkan jika China telah mencuri kekayaan intelektual dengan meretas jaringan komputer AS. Akibat pencurian tersebut AS mengaku dirugikan ratusan miliar dolar.

Menurut kantor berita Reuters, setelah Trump mengeluarkan sanksi berupa pengenaan tarif pada barang impor China senilai US$60 miliar dan mengumumkan rencana pembatasan investasi AS di China, kini giliran Negeri Tirai Bambu ini melakukan aksi balasan.

China telah mempersiapkan serangan balasan, Presiden Xi Jinping memberlakukan tarif resiprokal (timbal balik) sebesar US$3 miliar untuk sejumlah produk impor asal Amerika. Aksi balasan ini akan dilakukan China dalam dua tahap.

Pertama, tarif sebesar 15% akan dikenakan untuk 120 produk pipa baja dan anggur senilai US$977 juta. Kedua, tarif 25% dikenakan untuk produk daging babi dan alumunium senilai US$1,99 miliar.

Tak hanya sampai disitu, China memastikan akan melakukan tindakan hukum atas AS melalui World Trade Organization (WTO). Tentu saja akan ada risiko besar buat AS jika masalah ini terus dipanaskan China sebagai aksi balasan.

Akibat memanasnya kondisi kedua negara, dikhawatirkan perang dagang ini akan mengguncang ekonomi global. Pekan lalu Trump telah menandatangani sebuah kesepakatan tindakan dagang untuk AS yang berlandaskan pada pasal 301 dari Undang-undang (UU) Perdagangan 1974.

Perwakilan perdagangan AS Robert Lightizer menjelaskan pemberlakuan tarif impor untuk sejumlah produk adalah tindakan yang sangat penting untuk masa depan AS agar tidak terus-terusan defisit terhadap China.

“Kami harus memberlakukan tarif yang sesuai, ini sangat penting untuk masa depan industri di negara ini,” kata dia.

Perdana Menteri China Li Keqiang menjelaskan perang dagang ini tidak akan menghasilkan apapun. “Perang dagang tidak ada gunanya untuk siapapun, tidak akan ada pemenang,” kata Li dalam jumpa pers di Beijing.

Akibat perang dagang yang massif ini, akhir pekan lalu saham di New York Stock Exchange berguguran. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 724 poin atay mendekati 3%. Ini adalah pelemahan terparah Dow Jones dalam lima pekan terakhir.

Dampak perang dagang ini tak hanya menghantam saham di AS, tapi juga merambat ke Eropa, Asia, bahkan Indonesia.

Bursa saham Asia merosot pada pembukaan perdagangan Jumat waktu setempat, mengikuti penurunan tajam Wall Street dan saham Eropa. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran perang perdagangan global.

Melansir CNBC, indeks saham acuan Jepang, Nikkei turun 2,97% dan indeks Topix turun 2,43% dengan 33 sektor perdagangan ebih rendah secara keseluruhan. Selain itu, sektor material dan finansial termasuk yang paling merugi. Saham-saham eksportir juga turun, seperti saham Toyota jatuh 2,57% dan Sony turun 3,02%.

Sementara itu, indeks saham acuan di Korea Selatan, Kospi turun 2,09% dengan penurunan dalam saham Samsung Electronics hingga 2,67%. Saham Posco juga jatuh 2,79% tetapi Hyundai Steel dan Seah Steel naik 0,79% dan 2,69%. Korea Selatan adalah salah satu negara yang sementara dibebaskan dari tarif baja AS baru-baru ini.

Indeks saham acuan Australia, ASX 200 turun 1,68% karena semua sektor diperdagangkan memerah. Penurunan dipimpin oleh subindex bahan yang turun 2,79% Di antara saham sektor pertambangan, Rio Tinto jatuh 4,31% dan BHP turun 3,6%,

Di Indonesia sendiri, akhir pekan lalu investor asing mencatat jual bersih di semua pasar dengan nilai mencapai Rp1,06 triliun. Sentimen perang dagang yang menerpa dunia menjadi katalis negatif yang mendorong investor menarik dana untuk mengamankan investasinya.

Sementara sejak Januari—Maret 2018, terjadi aliran total dana masuk dan keluar (capital infow dan capital flight) mencapai Rp61,75 triliun. Di Januari 2018 terdapat dana masuk sebesar Rp33,6 triliun, sementara Februari keluar lagi Rp21,55 triliun, kemudian sampai 20 Maret 2018 keluar lagi Rp6,6 triliun.

Keluarnya dana asing memicu pelemahan di seluruh saham sektoral. Saham sektor barang konsumsi jatuh paling dalam 1,10%. Sebanyak 109 saham naik, 251 saham melemah dan 116 saham stagnan.

IHSG pun terjungkal ke zona negatif mengekor pergerakan saham-saham regional yang juga merah.

Posisi tertinggi yang sempat dicatatkan IHSG berada di 6.210,698 dan terendah di 6.085,205. Perdagangan saham berlangsung moderat sore ini dengan frekuensi 359,388 kali transaksi saham sebanyak 12,4 miliar lembar saham senilai Rp8,7 triliun.

Jadi, begitu besar dampak perang dagang Negeri Paman Sam dengan Negeri Panda, sehingga efeknya pun begitu luas. Tinggal bagaimana para otoritas fiskal dan moneter mampu membendung dampak lanjutan yang lebih buruk dari sengketa perang dagang yang diperkirakan semakin memanas.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here