Perang Dagang AS-China Resmi Ditunda

0
78
Wakil Perdana Menteri China Liu He dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin

Nusantara.news, Washington – Perang Dagang Amerika Serikat (AS) Vs Republik Rakyat China (RRC) secara resmi ditunda. Kedua negara telah menjalin kesepakatan menghentikan tarif impor yang bersifat menghukum. Kesepakatan itu terjadi setelah AS membujuk China memberi barang dan jasa produk AS senilai US$ 200 miliar dengan maksud mengurangi keseimbangan perdagangan.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin memang tidak menyebutkan angka yang pasti, namun dia mengingatkan AS akan memberlakukan taruf senilai US$ 150 miliar apabila China tidak melaksanakan perjanjian yang sudah disepakati itu.

Kesepekatan itu juga dibenarkan oleh Wakil Perdana Menteri China Liu He yang menggambarkannya sebagai “win-win solutions”. Dialog itu, lanjut Liu, sebagai cara menyelesaikan masalah perdagangan di antara kedua negara dan “memperlakukan mereka dengan tenang”.

Baru Ditunda

Selama ini AS memiliki defisit perdagangan yang semakin melebar dengan China – catatan terakhir mencapai US$ 335 miliar. Sebelum terpilih menjadi Presiden AS, Donald J Trump bicara tentang China yang memperkosa AS dan saat hari pertamanya menjadi Presiden AS, dia menuding China sebagai manipulator mata uang.

Sejak itu Presiden Trump memerintahkan pejabatnya yang terkait perdagangan internasional meninjau kembali kebijakan perdagangannya yang tidak seimbang. Mereka menemukan berbagai praktik tidak adil di China – termasuk pembatasan kepemilikan asing yang menekan perusahaan asing melakukan transfer teknologi – terutama ditujukan kepada perusahaan-perusahaan AS, serta adanya investasi China di industri strategis AS, dan serangan cyber China.

Neraca Perdagangan yang timpang

Bulan Maret tahun ini, Presiden Trump mengumumkan rencana memberlakukan tarif impor untuk produk-produk baja dan alumunium buatan China. Langkah Trump ini dibalas oleh Beijing yang akan memberlakukan tarif impor untuk produk-produk AS – antara lain pesawat terbang, kedelai, mobil, daging babi, anggur, minuman kalengan, buah-buahan dan kacang-kacangan.

Dengan adanya kesepakatan itu, apakah ancaman perang dagang kedua negara sudah berakhir? Kepada Fox News Menteri Keuangan AS Mnuchin pada Minggu (20/5) kemarin menyebutkan, China akan membeli lebih banyak produk barang dan jasa asal AS untuk lebih menyeimbangkan perdagangan. Kesepakatan dalam bentuk kerangka kerja itu ditanda-tangani kedua negara di Washington pada Jumat (18/5) pekan lalu.

Angka-angka kongkrit sudah disetujui, ungkap Mnuchin, meskipun dia menolak mengungkap angka pastinya namun diperkirakan angkanya tidak kurang dari US$ 200 miliar – sebagai imbalan atas pencabutan ancaman AS. Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross menimpali akan melakukan perjalanan ke China segera, ujarnya, untuk menindak lanjuti rincian perdagangan dengan melibatkan industri – bukan hanya pemerintah.

“Kami sedang menunda perang perdagangan. Saai ini kami sepakat untuk menangguhkan pemberlakuan tarif di saat kami mencoba melaksanakan kerangka kerja dari perjanjian itu,” jelas Mnuchin sekaligus menebarkan ancaman, apabila kerangka kerja ini gagal dilaksanakan maka pengenaan tarif yang sudah diumumkan akan diberlakukan.

Tampaknya China – meskipun bersikap hati-hati – cukup senang dengan adanya perjanjian itu. Wakil PM China Liu He menggambarkan kunjungannya ke Washington “positif, pragmatis, konstruktif dan produktif”.

Liu juga menggambarkan “perkembangan ekonomi dan hubungan perdagangan China-AS yang sehat” yang akan menghasilkan peningkatan kerjasama di bidang-bidang seperti energi, produk pertanian, kesehatan, peroduk teknologi tinggi dan keuangan.

“Kerjasama semacam ini adalah win-win solution karena dapat mempromosikan perkembangan ekonomi China yang berkualitas tinggi, memenuhi kebutuhan masyarakat, dan berkontribusi pada upaya AS untuk mengurangi defisit perdagangan,” tandas Liu.

Mnuchin mengatakan, perjanjian kerangka kerja baru termasuk perubahan struktural ekonomi China untuk memungkinkan persaingan yang adil bagi perusahaan-perusahaan AS. Namun perjanjian seperti itu akan memakan waktu, timpal Wakil PM China Liu.

Dan – mungkin karena itu pula – Liu mengatakan kedua negara “harus menangani perbedaan mereka dengan baik melalui dialog dan memperlakukan negaranya dengan tenang di masa depan. Penting diketahui, Trump acap kali mengungkapkan pernyataan-pernyataan kasar terkait China yang dinilainya curang dalam perdagangan.

Disambut Baik

Tertundanya Perang Dagang AS-China, setidaknya membuat lega negara-negara yang bergabung dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO/ World Trade Organization). Sebelumnya Direktur Jenderal WTO Roberto Azevedo mengingatkan kepada anggotanya, perang dagang China-AS akan memiliki “dampak yang parah pada ekonomi global”.

Direktur Jenderal WTO Roberto Azevedo

Apabila perang terjadi ada risiko pertumbuhan global bisa jatuh “sangat cepat”. Gejala ke arah sana, beber Azevedo dalam program HardTalk BBC pada bulan Maret lalu, meskipun perang dagang belum dimulai sudah terlihat. Bahkan Azevedo menyebutkan ini tahun tersulit bagi WTO sejak didirikan 23 tahun lalu.

Pernyataan Azevedo tidak mengada-ada. Begitu Trump mengumumkan perang dagang dengan orasi gaya populis kampungannya, saham-saham produk AS dikabarkan bertumbangan – dan saham-saham produk asal Asia juga dibuka lebih rendah. Di Wall Street, indeks harga saham gabungan pada pekan ke-3 bulan Maret itu turun – masing-masing S&P 500 jatuh 2,5%, Dow Jones Industrial Average – 1,9%. Di Asia, Nikkei Jepang turun sekitar 1,5%.

Perang Dagang sudah pasti membuat China yang memiliki surplus barang pabrikan – termasuk baja – akan terpukul. Tapi tidak semua perusahaan AS juga diuntungkan oleh perang dagang. Sebut saja perusahaan pengolah anggur akan terasa imbas oleh perang dagang ini. Meskipun China belum termasuk pangsa pasar anggur AS, karena pemasok utamanya masih Perancis, namun meningkatnya permintaan anggur AS seiring naiknya populasi kelas menangah China adalah prospek dagang yang tidak bisa diabaikan.

Tidak mengherankan apabila perusahaan-perusahaan AS saling berbagi kegelisahan atas sikap pemerintahan Donald Trump. Meskipun bisa memaklumi keinginan Presiden Trump namun mereka menganggap perang tarif bukan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah.

“Arah dari apa yang dilakukan, apabila hanya sebagai tekanan untuk menyetarakan bidang permainan adalah hal yang baik, meskipun saya tidak berfikir tarif adalah cara terbaik untuk mengatasi perdagangan yang tidak adil dengan China,” cetus Ketua Kamar Dagang dan Industri AS kantor Perwakilan China William Zarit kepada wartawan.

Zarit juga menyebut anggota organisasinya yang mewakili lebih dari 900 perusahaan AS di China – termasuk intel, Dell, Honeywell, Coca-Cola – terdorong untuk menghimbau para pejabat tinggi di kedua negara menyelesaikan di meja perundingan. “Saya berpikir ada gelagat yang menunjukkan kedua belah pihak ingin menyelesaikan persoalan ini,” paparnya.

Kegelisahan perusahaan AS itu sementara pupus setelah kedua negara mengumumkan penundaan perang dagang yang sudah pasti membuat babak belur kedua negara. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here