Perang Dagang Bawa Berkah Sekaligus Bencana

0
48
Pengusaha-Pengeusaha China berencana merelokasi industrinya, khususnya industri mebel rotan, ke Indonesia. Ini sebenarnya peluang sekaligus ancaman, khususnya bagi industri mebel dan tenaga kerja lokal.

Nusantara.news, Jakarta – Perang dagang antara Amerika dan China tak bisa dipungkiri telah membawa dampak negatif buat perekonomian dunia, juga perekonomian kedua negara. Namun bagi Indonesia, perang dagang dua adikuasa itu bisa membawa berkah sekaligus bencana. Macam apa bentuknya?

Tarik ulur perang dagang AS-China dalam setahun belakangan memang sangat dirasakan buat banyak negara, tanpa kecuali Indonesia. Terutama ketika kedua negara saling menaikan tarif bea masuk barang dari kedua negara dan saling balas menaikkan tarif bea masuk, telah mempengaruhi fluktuasi saham dan nilai tukar negara-negara di dunia.

Seperti Indonesia, saat ketegangan perang dagang Negeri Paman Sam dan Negeri Tirai Bambu itu memuncak, dampaknya terjadi pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah. IHSG sempat anjlok dari 6.500 hingga ke 5.500, sekarang perang dagang mengendur sehingga IHSG kembali menguat ke posisi 6.000.

Begitu pula nilai tukar rupiah yang dipatok pada APBN 2018 sebesar Rp13.700, saat perang dadang memanas, rupiah sempat melemah hingga ke level Rp15.260. Begitu pula ketika perang dagang AS-China mereda, rupiah kembali menuju angka rasionalitasnya di level Rp14.300.

Itu sebabnya, perang dagang AS-China tidak melulu berdampak negatif maupun positif bagi Indonesia. Seperti diketahui sejumlah perusahaan asal China berencana merelokasi pabriknya ke Indonesia untuk menghindari bea masuk impor yang diterapkan oleh AS terhadap produk-produk asal Negeri Tirai Bambu tersebut.

Karena itu Presiden Jokowi saat berbicara di hadapan para pemimpin perusahaan dan Chief Executive Officer (CEO) perusahaan swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar pintar-pintar mengambil peluang di tengah situasi perang dagang yang sebentar memanas, sebentar mereda.

“Saya memperoleh banyak laporan dari menteri dan dibisiki pengusaha, beberapa pabrik (China) ingin pindah ke negara-negara Asia termasuk Indonesia agar terhindar dari tarif impor mitra perang dagang,” kata Jokowi beberapa waktu lalu.

Situasi ini diperburuk dengan sengketa dagang kedua negara tersebut yang berlarut-larut. AS dan China tidak menemukan kata sepakat dalam pertemuan negara-negara Asia Pasifik (APEC). “Kami menyaksikan pimpinan negara dari dua ekonomi nomor satu dan dua di dunia bersitegang. Saya lihat sulit dipersatukan,” ujarnya.

Indonesia berusaha menjembatani ketegangan antara AS dan China namun tidak berhasil. Konferensi Tingkat Tinggi APEC tersebut untuk pertama kali dalam 29 tahun gagal menghasilkan kesepakatan. Ia memprediksi situasi yang sama akan terjadi saat pertemuan G-20 mendatang.

Dengan kondisi saat ini, peluang untuk meningkatkan ekspor barang dari Indonesia terbuka lebar.  Di tengah kisruh global yang tidak menentu memang jangan lengah dan kehilangan fokus.

Dari kajian Kementerian Perdagangan, memanasnya hubungan dagang AS dan Tiongkok berpotensi menyebabkan ekspor AS ke Tiongkok turun US$7,9 miliar. Sebaliknya, nilai ekspor Tiongkok ke AS diperkirakan menyusut sebesar US$5,3 miliar.

Dengan berkurangnya potensi perdagangan kedua negara, Indonesia memiliki kesempatan untuk masuk ke pasar masing-masing negara. Untuk pasar Tiongkok, Indonesia bisa masuk mengambil alih peran AS melalui ekspor komoditas buah-buahan, benda dari besi baja, serta aluminium.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BPPP) Kementerian Perdagangan, Kasan, menyatakan AS dan China masing-masing memiliki porsi sebesar 10,5% dan 13,7% terhadap nilai ekspor Indonesia tahun lalu yang mencapai US$168,8 miliar. Kedua negara merupakan tujuan ekspor yang sangat penting.

Tentu saja rencana besar pengusaha-pengusaha China merelokasi industrinya—terutama industri mebel–ke Indonesia merupakan berkah di tengah perang dagang kedua adidaya. Akan banyak peluang bisnis yang bisa ditangkap oleh pengusaha lokal, khususnya bisnis penyediaan sumber daya manusia, lahan, penyediaan air, minyak, makanan, logistik dan kebutuhan bahan baku.

Hanya saja harus diakui, ada musibah—kalau tidak bisa dikatakan bencana—manakala pengusaha China itu meminta pengadaan bahan baku, sumber daya manusia hingga pengadaan logistik berasal dari negaranya. Seperti yang terjadi pada investor China yang membangun aneka infrastruktur, mereka membawa sendiri tenaga kerja di level tukang pacul, termasuk membawa semen dan barang modal lainnya.

Jika itu yang terjadi, maka tak bisa dihindari adanya bencana buat Indonesia. Indonesia akan menjadi ajang pembuangan manusia-manusia China totok yang pada gilirannya karena tak bisa berbahasa Indonesia dan bersikap cukup kasar, menimbulkan bentrok atau bahkan kerusuhan. Hal ini pernah terjadi di Vietnam dan Filipina pada tahun 2010-an, sehingga kedua negara itu mengusir warga China tersebut.

Mengapa demikian? China dengan penduduk lebih dari 1,4 miliar, butuh pertumbuhan ekonomi 10% untuk menopang perputaran ekonomi dan menyerap tenaga kerja. Masalahnya pertumbuhan ekonomi China hari ini melambat hanya 6,2%, sehingga ada sekitar 400 juta warga China menganggur.

Jika situasi ini dibiarkan, maka di dalam negeri mereka akan terjadi rebutan makanan, minuman, pasangan, energi, hingga perebutan jabatan dan bisnis. Dengan kata lain, bisa memicu kerusuhan di dalam negeri mereka.

Itu sebabnya, untuk mengurangi keresahan sosial, China merasa perlu mengirim para pengangguran itu di sejumlah negara dimana para investor China menanmkan modalnya seperti di Indonesia. Jika demikian halnya, maka pemerintah harus adil dan bijaksana antara menampung tenaga kerjasa China untuk relokasi industri China, dan mempekerjakan tenaga kerja lokal. Jika salah-salah kelola, maka akan menimbulkan kecemburuan sosial.

Pada saat yang sama rencana pengusaha-pengusaha China merelokasi atau memindahkan produksi mebel ke Indonesia, pengusaha dalam negeri juga berharap pemerintah melakukan pembatasan sehingga pengusaha China tak akan menguasai sektor hulu hingga hilir industri mebel di tanah air.

Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Soenoto mengatakan sebaiknya investor China hanya dibatasi masuk ke sektor hilir atau tahap penyelesaian produk yang telah dibuat industri lokal.

“Pekerjaan mulai dari pembuatan rangka sampai kursi mentah itu pengusaha lokal, supaya industri dalam negeri tidak rusak,” kata Soenoto beberapa waktu lalu.

Pemerintah Indonesia-Tiongkok sedang menjajaki rencana relokasi industri mebel rotan di China, salah satu tujuannya ke Cirebon. Di kota Foshan, China, terdapat sentra industri mebel rotan yang bahan bakunya diimpor dari Indonesia.

Berbekal bahan baku asal Indonesia, industri mebel rotan di China menguasai pasar dunia. Sebaliknya industri mebel rotan di Cirebon hampir mati suri karena kalah bersaing. Pemerintah kini telah menutup ekspor bahan baku rotan yang membuat China kesulitan memperoleh bahan baku. Sehingga, investor asal Negeri Panda tersebut tertarik merelokasi pabrik mebel rotannya ke Indonesia.

Menurut Soenoto, hasil akhir dari produk mebel dan kerajinan yang diolah investor China dapat diekspor ke seluruh dunia. Dengan begitu, hal tersebut akan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekspor industri mebel dan kerajinan dalam negeri.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor mebel selama 2017 hanya naik 1% mencapai US$1,627 miliar. Pada 2016, nilai ekspor mebel sebesar US$1,607 miliar.

Soenoto menyatakan keberadaan investor asing penting untuk mendongkrak pertumbuhan industri dalam negeri. Untuk saat ini industri mebel dan kerajinan lokal masih kesulitan jika harus bersaing berebut pasar dengan negara lain. Perang dan kompetisi tidak akan menang. Jadi satu-satunya harus bekerja sama.

Soenoto menilai, Tiongkok merupakan negara yang memiliki dana, wawasan, serta teknologi yang dibutuhkan untuk mengembangkan industri mebel dan kerajinan. Hanya saja, mereka tak memiliki bahan baku seperti rotan untuk bisa produksi.

Itu sebabnya, kembali pemerintah dituntut untuk bersikap adil dan bijaksana dalam mengatur hadirnya industri China ke dalam negeri. Jangan sampai tenaga kerja lokal makin banyak yang menganggur, industri lokal juga harus bangkrut gigit jari.

Kalau ini yang terjadi, adalah lebih baik membesarkan industri dalam negeri dengan terus mempekerjakan tenaga kerja lokal sendiri. Jangan sampai kita seperti terasing dan terlunta-lunta di negeri sendiri.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here