Perang Dagang dan Defisit Kompak Tekan Rupiah

0
189
Hari ini rupiah kembali terpuruk sebagai dampak defisit tranasksi berjalan bulan April 2019 sebesar US$2,56 miliar, merupakan defisit terdalam sepanjang sejarah. Sebelumnya rupiah juga tertekan terhadap perang dagang AS dan China.

Nusantara.news, Jakarta – Tak putus dirundung malang, itulah nasib rupiah sebagaimana digambarkan oleh sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana. Baru saja dihajar oleh dampak perang dagang AS-China, kini giliran rupiah kembali terpuruk terkena dampak defisit transaksi perdagangan.

Seperti diketahui pada Jumat (10/5) Presiden AS Donald Trump menaikkan tarif bea masuk produk impor asal China untuk US$200 miliar dari 10% menjadi 25%. Bak gayung bersambut, China pun membalas menaikkan tarif bea masuk produk impor asal AS untul US$60 miliar dari 10% menjadi 25%.

Beberapa produk yang akan dikenai tarif di antaranya adalah kapas, permesinan, hingga bagian-bagian pesawat terbang. Setidaknya, terdapat 4.000 produk yang akan dikenai peningkatan tarif dari 10% menjadi 25%.

Efek tindakan balasan China membuat para investor melakukan aksi jual saham di Wall Streen sehingga indeks Dow Jones jatuh lebih dari 700 poin. Sementara dolar AS ikut bereaksi beragam terhadap 6 mata uang utama dunia.

Dolar AS terkoreksi terhadap Franc Swiss, harga US$1 bernilai 1,0065 franc Swiss di sekitar penutupan pasar, turun hampir 0,6% dari level 1,0125 franc pada akhir pekan lalu. Terhadap mata uang euro, dolar AS diperdagangkan stabil di level US$1,1231.

Sementara dolar AS sedikit menguat terhadap poundsterling Inggris dari US$1,2965 menjadi US$1,3007. Sedangkan dolar Australia melemah terhadap dolar AS dari US$o,6997 menjadi US$0,6950.

Dolar AS dibeli 109,33 yen Jepang, lebih rendah dari 109,90 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 1,0065 franc Swiss dari 1,0125 franc Swiss, dan meningkat menjadi 1,3467 dolar Kanada dari 1,3421 dolar Kanada.

Sementara dolar AS terhadap rupiah justru menguat, rupiah yang sempat berada di  bawah Rp14.000, kini melemah kembali dan sempat ke kisaran Rp14.500. Lewat intervensi BI, rupiah sedikit naik ke kisaran Rp14.432 per dolar AS.

Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini dibuka di level 6102 dan sempat melemah menembus level 6000. IHSG diperdagangan di level 6975, namun pada sesi pertama IHSG kembali naik ke level 6071.

Pelemahan rupiah kali ini terindikasi dari defisit transaksi perdagangan per April 2019 sebesar US$2,50 miliar. Angka itu berasal dari nilai ekspor US$12,6 miliar dan impor sebesar US$15,10 miliar.

Angka defisit neraca dagang per April 2019 ini menjadi yang paling besar sepanjang republik ini merdeka atau sepanjang sejarah. Sebelumnya, defisit terdalam terjadi pada Juli 2013 sebesar US$2,3 miliar.

"Tapi yang surplusnya lebih banyak lagi," kata Direktur Statistik Distribusi BPS Anggoro Dwitjahyono kemarin.

Sementara itu, Kepala BPS Suhariyanto tidak menyebutkan defisit neraca dagang per April 2019 sepanjang sejarah. Namun dirinya hanya membenarkan menjadi yang terdalam setelah Juli 2013.

"Kemudian defisit US$2,50 miliar sejak kapan, terakhir memang US$2,3 miliar sejak Juli 2013," ujar Suhariyanto.

Dapat diketahui, neraca perdagangan pada bulan Juli 2013 masih tercatat defisit sebesar US$2,31 miliar. Sementara secara kumulatif, yaitu Januari-Juli, defisit tercatat sebesar US$5,65 miliar

Sementara penyumbang defisit terbesar adalah terhadap China. Defisit terjadi karena impor asal China masih lebih besar ketimbang ekspor Indonesia ke China. Hingga kuartal I 2019, impor asal China tercatat US$14,37 miliar, sedangkan ekspor Indonesia ke China hanya US$7,27 miliar.

Jika dilihat lebih rinci, impor China ke Indonesia paling banyak didominasi oleh kelompok barang mesin-mesin dan pesawat mekanik dengan nilai US$3,46 miliar. Setelah itu, impor mesin dan peralatan listrik dari China membanjiri Indonesia dengan nilai US$2,93 miliar. Diikuti dengan impor besi dan baja dengan nilai US$768,62 juta. 

Namun, jika dilihat melalui kode HS delapan digit, impor dari China dengan nilai terbesar adalah peralatan transmisi listrik dan penangkap transmisi dengan nilai US$470,82 juta. 

Kemudian, nilai impor itu disusul oleh laptop asal China dengan nilai US$319,19 juta, panel sirkuit untuk televisi sebesar US$226,65 juta, dan baja dengan lebar 600 milimeter (mm) dengan nilai US$128,92 juta.

Meski mencatat defisit dengan beberapa negara, Indonesia masih mencatat neraca perdagangan yang surplus dengan beberapa negara. Berdasarkan data Januari hingga April 2019, tiga negara surplus paling besar diperoleh Indonesia setelah berdagang dengan Amerika Serikat sebesar US$2,91 miliar, India sebesar US$2,38 miliar, dan Belanda dengan nilai US$805 juta.

"Meski Indonesia masih alami surplus dari beberapa negara, kami berharap ke depan defisit neraca dagang akan terus membaik," ujar Kepala BPS Suhariyanto.

Hanya saja sampai kini belum terlihat upaya nyata untuk menggenjot ekspor, tambahan pula gejolak global membuat negara tujuan ekspor juga bermasalah, sehingga kecil kemungkinan ekspor Indonesia melonjak.

Itu sebabnya yang paling mungkin dilakukan adalah mengurangi hasrat impor barang-barang konstruksi dan bahan pangan, sehingga sedikit demi sedikit defisit perdagangan berkurang. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika pemerintah mengerem impor, maka boleh jadi menjadi surplus. Tapi apa mungkin?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here